Ratusan Warga Blokir dan Sweeping Pekerja PLTP Sarulla, Beredar Isu Pemerkosaan Massal pada Gadis Desa

Taput-SUMUT24

Amuk dari ratusan warga Desa Simataniari, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara (Taput), Sumatera Utara (Sumut) semakin memuncak, Minggu (3/4). Warga yang sudah dibakar emosi memblokir jalan menuju lokasi proyek Sarulla Operation Limited (SOL). Akibatnya, akses ke proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla di desa tersebut lumpuh total.

Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, aksi warga ini karena mereka kesal beredarnya informasi telah terjadi pemerkosaan terhadap seorang gadis di desa itu. Disebutkan pemerkosaan itu dilakukan secara massal oleh beberapa pekerja proyek SOL.
Warga yang dibakar emosi menghadang kendaraan proyek dan melakukan sweeping terhadap pekerja yang melintas dari desa mereka. Untuk meredam emosi warga dan menjaga kekondusifan di lokasi mega proyek itu, ratusan petugas dari Polres Taput, Polsek Pahae Julu dan TNI diterjunkan ke lokasi.

Sempat terjadi ketegangan antara warga dan polisi ketika Kabag Ops Polres Taput Kompol T Marpaung menjelaskan kronologis dan perkembangan penanganan kasus itu.

Dalam tuntutannya, sejumlah warga mendesak polisi agar mengungkap kasus ini. Secepatnya tersangka ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Memberikan jaminan keamanan kepada warga sekitar proyek yang mayoritas berprofesi sebagai petani.

“Kita juga minta agar pemerintah dan polisi mendata seluruh pekerja dari luar Taput dan warga negara asing yang bekerja di SOL. Jangan seenaknya tinggal di sini tanpa dilapor ke aparat desa, agar warga tidak khawatir masalah keamanan dan mengenal setiap pekerja yang tinggal di desa ini,” ujar Agus Sitompul, warga setempat.

Di hadapan warga, Kapolres Taput AKBP Dudus Harley Davidson SIk, didampingi sejumlah perwira dan polisi yang siap siaga meredam hal-hal yang tidak diinginkan, meminta agar warga bersabar dan tenang, karena kasus ini masih dalam penyelidikan dan pemeriksaan Polres Taput.

“Kita minta agar warga jangan bertindak anarkis. Silahkan warga beraktifitas seperti biasa. Percayakan kepada kami, siapapun itu bila melanggar hukum, kita tindak tegas sesuai undang-undang yang berlaku.

Sementara itu, kondisi korban saat ini masih lemah sesuai pemeriksaan dokter, karena tidak makan dan minum selama 3 hari saat ditemukan. “Jadi, kita masih menunggu pemulihan korban agar bisa dimintai keterangannya,” jelas AKBP Dudus Harley Davidson SIk.

Kemarin, pihak keluarga korban WPS (18), yang diduga diperkosa secara massal oleh karyawan SOL, membuat pengaduan ke Polsek Pahae Julu dan ke Polres Taput. Laporan langsung dilakukan Jaiman Sitompul (52), ayah kandung korban.

Dalam laporannya kepada polisi, pada Rabu 30 Maret 2016 lalu, kakak dari WPS bernama Dina Sitompul melaporkan kepada orang tuanya bahwa adiknya telah hilang dari rumah. Setelah mendapat Informasi tersebut, lalu mencari keberadaan WPS, namun tidak ditemukan. Selanjutnya mereka memberitahukan kejadian ini kepada warga desa agar bersama-sama melakukan pencarian.

Pasca 3 hari dilakukan pencarian, pada Jumat 1 April 2016, sekira pukul 07.00 WIB, seorang warga bermarga Panggabean memberitahukan kepada orangtua korban telah ditemukan seseorang yang tak lain adalah putrinya tergeletak di persawahan diduga telah menjadi mayat.

Lalu mereka memberitahukan temuan ini kepada kepala desa dan selanjutnya melaporkan Ke polsek Pahae Julu. Masyarakat bersama petugas polsek turun ke TKP dan ternyata informasi tersebut adalah benar putrinya.

Ketika dibawa dan diperiksa tim medis di puskesmas Onan Hasang, Kecamatan Pahae Julu, kondisi korban masih bernafas dan selanjutnya dilarikan ke RSU Tarutung. Kondisi korban saat itu masih tidak sadarkan diri. Setelah dirawat beberapa jam, korban sudah mulai siuman namun masih lemah dan masih kesulitan diajak bicara.

Entah darimana informasi beredar di tengah-tengah warga, WPS kemudian diisukan telah diperkosa, karena lokasi korban ditemukan berdekatan dengan 6 orang pekerja proyek SOL di desa itu.

Sementara informasi dihimpun di lokasi dari Kasubbag Humas Polres Taput Aiptu Walpon Baringbing menyebut, 6 orang karyawan SOL ketika itu yang berdekatan dengan ditemukannya korban telah diamankan ke Polsek Pahae Julu. Tapi karena warga mulai ramai menuju Mapolsek Pahae Julu untuk menanyakan keberadaan 6 orang itu, lalu dilimpahkan ke Polres Taput.

Saat ini polres Taput masih memeriksa 6 orang tersebut serta membawa WPS ke rumah sakit untuk melakukan visum, apakah benar ada pemerkosaan atau tidak. Ke-6 orang karyawan proyek SOL yang diamankan adalah Hanafi (27), Darmawan (20), M Arif ( 27), Sugianto (37), Toni Rudi Sahat Sinaga (45) dan Sutrisno Sidabutar (48).

“Atas Informasi dugaan pemerkosaan itulah warga setempat kesal dan melakukan aksi blokir jalan, bahkan melakukan pengerusakan terhadap rumah kos karyawan SOL serta melakukan penganiayaan pada Jumat malam, 1 April 2016 terhadap sejumlah karyawan SOL. Kita minta warga bersabar menunggu selesai proses pemeriksaan polisi. Jangan anarkis, karena itu melanggar hukum,” pinta Aiptu Walpon Baringbing.

Hingga tadi malam, ratusan petugas polisi bersama TNI masih berjaga-jaga di sepanjang jalan desa Simataniari menuju lokasi pengeboran proyek PLTP Sarulla, untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. (int)