Rajuki,Pelukis Kaligrafi di Media Limbah Kaca

KISARAN | SUMUT24

Rajuki (27),seorang pria yang kesehariannya sebagai penjaga sekolah SMK Negeri 1 Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Asahan, punya keunikan dengan melukis kaligrafi dari limbah kaca.

Keunikan kaligrafi Rajuki yang dimilikinya adalah melukis terbalik di dalam kaca, sehingga tampak lebih indah dengan gradasi warna yang kuat, biasanya kaligrafi dilukis langsung dipermukaan media.

Warga Jalan Benteng Desa Sipaku Area ini sudah hampir dua tahun menggeluti usaha seni lukis kaligrafi. Kepada SUMUT24, Senin (25/1), ia mengisahkan awal mulanya dirinya mendapatkan ide untuk memanfaatkan limbah kaca yang ada di rumahnya untuk dijadikan satu kerajinan lukisan yang akan dipajang pada salah satu sudut ruang rumahnya.

Berbekal hobi dan bakat melukis seni kaligrafi yang telah dimilikinya terdahulu di bangku sekolah ia mulai membentuk sebuah ukiran tulisan kaligrafi sederhana dengan lafaz Allah. Namun dirinya belakangan tidak menyangka kalau karya ciptaannya tersebut diminati rekan rekannya dan diminta untuk dibuatkan ukiran kaligrafi serupa hingga lahan penghasilan baru baginya.

“Awalnya kegiatan ini saya cuma iseng memanfaatkan potongan kaca yang tidak terpakai, terus dicat dan dilukis kaligrafi. Setelah jadi ternyata banyak yang suka dan minta dibuatkan,”ujarnya.

Kaligrafi dari limbah kaca ini sesuai dengan namanya memanfaatkan limbah kaca yang sudah tidak terpakai di sekitar rumah Rajuki mendorongnya untuk memanfaatkan menjadi barang yang bernilai jual. Dalam membuat lukisan dibutuhkan konsentrasi dan ketelitian.

Dengan bermodalkan peralatan seperti cermin, pisau inggris, pensil, kertas sketsa, penggaris, frame bingkai, cat minyak, penghancur perak atau air aki, dalam satu proses pembuatan kaligrafi berlafaz Allah dengan ukuran 30×30 cm Rajuki biasanya membutuhkan waktu 7 jam atau sampai dua hari, tergantung dari tingkat kesulitan dan kerumitannya.

Untuk harga yang diberikan dalam sebuah hasil karya kaligrafinya ini, Rajuki mengaku tidak memasang tarif harga yang mahal. Biasanya untuk kaligrafi berukuran 30×30 cm dia bandrol seharga Rp 120 ribu saja.

Sementara itu, dalam memasarkan hasil karyanya Rajuki mengaku memang belum begitu banyak dan beredar luas dipasaran. Selama ini dia hanya membuat ukiran kaligrafi kaca kepada para pelanggannya yang terlebih dahulu memesan.

“Kalau sekarang pemasarannya masih dikalangan kerabat dan keluarganya saja,”katanya. Meski demikian ada keinginanya untuk membuat galeri kaligrafi sendiri hingga pemasarannya bisa lebih jauh dan dikenal lagi.

“Keinginan saya memang bisa bikin galeri kaligrafi sendiri, namun karena memang belum ada modal untuk pemasarannya hanya kepada orang terdekat saja,” tuturnya. (teci)