Perlu Pengawasan Dini dari lintas SKPD, Disperindag Medan: Menutup Indomaret Tanpa Izin Tidak Mudah

0
1644

MEDAN | SUMUT24
Plt Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) kota Medan, Qamarul Fatah menyatakan, menindak atau menutup Indomaret, bukan persoalan gampang.

Menurut Qamarul, perlu ada keterpaduan dan kesinambungan kinerja antar SKPD, sehingga tidak ada cerita berdiri toko modern tanpa izin. Mendirikan toko modern, harus ada IMB. Sekarang muncul masalah, banyak kawasan tempat tinggal berubah peruntukannya jadi toko.

“Kenapa ini bisa lolos. Seharusnya, sejak awal Camat dan perangkat dibawahnya, bisa mengkritisi. Laporkan langsung, jika terjadi penyimpangan peruntukan. Jadi jika di bawah sudah betul, ke atasnya pun baik jadinya,” ujarnya.

Qamarul menjelaskan, akan sulit untuk melakukan tindakan penutupan toko modern Indomaret, yang tidak memiliki izin. Mengingat, sejak awal membuka usaha. Aparat pemerintahan desa, tidak melakukan pembinaan dan teguran serta arahan. Begitu juga kerjasama antar SKPD, tidak berjalan. Masing-masing berjalan sendiri-sendiri, seakan-akan tidak saling keterkaitan antar SKPD.

“Sekarang kecolongan. Toko modern sudah berdiri dengan investasi modal yang cukup besar. Bahkan sadar atau tidak, mereka telah menjadikan kawasan tempat tinggal, berubah peruntukannnya jadi toko. Ini yang menjadi bahan pertimbangan,” katanya.

Qamarul mengakui, belum memahami sepenuhnya peraturan detil yang mengatur tentang keberadaan toko modern. Namun kembali ditekankan, masing-masing SKPD agar tidak egois. SKPD hanya sekedar melaksanakan tugasnya saja, tanpa melakukan komunikasi dengan SKPD terkait lainnya.

“Harus ada harmonisasi dan koordinasi antar SKPD yang dikedepankan. BPPT juga ada persyaratan. Kajian terhadap lingkungan misal dekat dengan pasar ini atau itu, kan harus terpadu. Inilah yang akan kami bina nantinya dari segi internal dan eksternal kami,”ujarnya.

Plt Disperindag kota Medan, Qamarul Fatah mengatakan, belum pernah ada survei atau penelitian mengenai dampak keberadaan toko modern terhadap kehidupan ekonomi toko tradisional.

Sehingga ia berpendapat, matinya usaha toko tradisional seperti toko kelontong atau kedai sampah bukan semata-mata dikarenakan keberadaan toko modern. Namun jika berhubungan dengan adanya toko modern tanpa ijin operasi akan segera ditindak tegas.

“Harus ada survei atau penelitian untuk membenarkan pernyataan itu. Harus diketahui penyebabnya apa. Apakah karena kelesuan perekonomian, daya beli masyarakat, atau karena lokasinya, atau memang tren masyarakat saat ini suka belanjanya di tempat yang nyaman seperti toko modern,”katanya Selasa (2/2).

Jika bicara harga, perbandingannya terlihat jelas. Toko modern jelas menjual barang dengan harga yang lebih mahal dibandingkan toko tradisional. Sehingga, bidikan pasarnya sudah sangat terlihat jelas. Masing-masing sudah memiliki pangsa pasar sendiri.

Lalu, Qamarul juga menjelaskan adanya seni berbelanja di toko tradisional yang sampai saat ini belum sirna. Seni yang dimaksud adalah seni tawar-menawar. Sebagian orang masih begitu mengelu-elukan betapa nikmatnya mendapatkan barang dari hasil tawar-menawar.

“Apakah seni itu sudah hilang. Betapa gembiranya pembeli yang berhasil menawar barang, sampai harga yang diinginkannya. Di toko tradisional lah tempatnya. Harga di toko modern tidak bisa ditawar, lebih mahal. Jadi tidaksemua orang mau ke toko modern. Masing-masing sudah ada target pasarnya,”ujarnya.
Jika harus melakukan pembinaan kepada toko-toko tradisional, agar berganti rupa layaknya toko modern, menurut Qamarul itu sulit. Sulit untuk pemilik toko, karena harus mengeluarkan biaya besar untuk perombakannya. Untuk itu, pemilik toko memerlukan waktu. Namun Disperindag akan melakukan pembinaan dalam bidang Sumber Daya Manusia (SDM), manajerial, dan administrasi keuangan.

“Pembinaan yang akan kita galakkan nanti terhadap manajerial akuntansinya. Kalau harus merubah mereka menjadi toko modern itu kan harus punya modal besar. Belum lagi inflasi terus meningkat. Ketika masih mengumpulkan modal, kemampuan untuk menyediakan barang dagangan pun tak meningkat di banding waktu-waktu sebelumnya. Sementara modalnya semakin tinggi. Misal tahun ini saya bisa belanja sabun 100 buah dengan harga Rp1 juta. Mungkin tahun depan dengan harga Rp1 juta saya cuma bisa beli 60 buah,”ujarnya.(Nis)