Pemuda Tabagsel Gelar Pelatihan Eco-Enzym dan Penghijaun, Marwan : Sampah Penyumbang Keempat Terbesar Pemanasan Global

Deliserdang I Sumut24.co
Sampah adalah penyumbang keempat terbesar terhadap pemanasan global, disamping pembalakan liar, asap kendaraan dan asap cerobong pabrik. Oleh karena itu masyarakat jangan sampai menyepelekan sampah, dan masyarakat harus merubah paradigma dari membuang sampah yang cenderung sia-sia dan minus manfaat, menjadi mengolah sampah sebagai bahan produksi yang bernilai ekonomi tinggi.

Pencerahan tentang pelestarian lingkungan hidup ini disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Tabagsel Marwan Ashari Harahap di kegiatan Gerakan Penghijauan dan Pelatihan Eco Enzym yang diselenggarakan Pemuda Tabagsel bekerjasama dengan Pemerintahan Desa Lantasan Lama di Aula Kantor Desa Lantasan Lama, Kecamatan Patumbak, Deliserdang, (16/06/2022).

“Faktor penyumbang terbesar keempat terjadinya pemanasan global ini adalah dari sampah” ungkap Marwan.

Pada kegiatan yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB tersebut, alumnus IAIN SU (sekarang UINSU) ini menjelaskan sampah yang dibuang setiap hari, baik sampah organik maupun anorganik dibuang ke tempat sampah, lalu diangkut petugas truk sampah untuk dibawa ke TPA.

“TPA sebelum terjadinya perubahan pola pikir, paradigma baru dan sebelum terjadinya perubahan undang-undang mengenai perlindungan pengelolaan lingkungan hidup, arti TPA itu Tempat Pembuangan Akhir, tapi sekarang Tempat Pemrosesan Akhir” jelas pegiat lingkungan hidup Sumatera Utara ini.

Selanjutnya tokoh pelopor Bank Sampah di Sumatera Utara ini mengajak peserta pelatihan merubah paradigma dalam memandang sampah dari membuang menjadi memproses sampah, karena sesungguhnya sampah merupakan sumber bahan baku untuk memproduksi barang yang bernilai ekonomi sehingga dapat menjadi sumber perkonomian masyarakat.

“Jangan kita memandang sampah yang kita buang itu adalah memang sampah yang tidak berguna. Harus kita rubah cara berfikir kita sekarang, kalau gak, nanti (kita) ikut menjadi penyumbang terjadinya pemanasan global”, tukasnya.

“Sampah itu adalah sumber bahan baku, sumber bahan produksi, sumber ekonomi, karena semua sampah yang kita buang, baik organik dan anorganik itu ada nilainya, bisa bermanfaat”, lanjutnya

Contohnya sampah dari buah-buahan, buahnya kita makan, kulitnya bisa diolah menjadi pupuk (organik) cair seperti Photosintesis Bakteri (PSB) dan Eco Enzym yang ramah lingkungan, yang akan dijelaskan nanti lebih lanjut oleh narasumber kita Bapak Paris Sembiring”, tutup Marwan..

Di kegiatan yang dibuka secara resmi oleh Camat Patumbak yang diwakili Kepala Seksi Kebersihan Zainal Effendi Lubis dalam sambutannya mengatakan bahwa tugas kita dalam mengelola sampah adalah tugas yang mulia, karena jikalau sampah ini hanya dibiarkan saja seperti biasanya yang sering terjadi, maka lingkungan menjadi sangat jelek dan kotor.

Pada kesempatan yang sama Kepala Desa Lantasan Lama Mulkan Lubis selaku tuan rumah kegiatan dalam sambutannya mengharapkan agar sampah yang selama ini menjadi momok dan masalah bagi rumah tangga, masyarakat maupun pemerintah, dengan pelatihan yang diadakan Pemuda Tabagsel berubah menjadi bermanfaat sebagai pupuk tanaman bagi warga desa maupun petani.

Di sela-sela acara, Idrus, salah seorang Ketua Kelompok Tani ketika dimintai pendapatnya oleh awak media ini mengatakan bahwa kegiatan ini baik dan bermanfaat.

“Kegiatan ini memang baik dan bermanfaat untuk masyarakat, kegiatan ini memotivasi kita untuk senantiasa menggunakan apa yang ada di alam,” ujarnya.

“Dari kegiatan ini kita belajar untuk tidak banyak menggunakan pupuk kimia, artinya kita menggunakan yang berasal dari alam untuk alam kembali, sangat bermanfaat, saya yakin, terima kasih”, tutup Idrus.

Sementara Rahmawati Tarigan, Bendahara Kelompok Tani Serbajadi yang juga seorang petani ubi kayu merespon positif kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan hidup dan pertanian ini.

“Ya, bagus aja untuk bisa kita (buat – red) pupuk sendiri kan”, tanggap Rahmawati. Harapannya ya kalo nanti (pupuk ECO Enzym – red) udah saya bikin, ya kalo bisa digunakan, kan tanaman kami bisa lebih bagus lagi” harap Ibu rumah tangga berusia 43 tahun ini.

Heri Kiswanto, Wakil Ketua Karang Taruna Desa Lantasan Lama yang ditemui suaramedannews.com menyatakan sangat bersemangat dan antusias mendukung program-program Pemuda Tabagsel. Baginya pelatihan Eco Enzym ini sangat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan masyarakat Desa Lantasan Lama.

Kedepannya warga Dusun III Desa Lantasan Lama ini berharap Pemuda Tabagsel semakin memperbanyak kegiatan yang terkait pelestarian lingkungan hidup.

“Harapannya semoga menjadi inspirasi juga bagi kita khususnya masyarakat, saling bekerjasama dan mendobrak lah semangat-semangat masyarakat desa kita untuk lebih membangun lagi, untuk desa ini”, harap Heri.

Sempat ditemui awak media, Samulio, Kepala Dusun III mengungkapkan bahwa kegiatan ini melulu positif, tidak ada negatifnya sama sekali.

Menurutnya mekanik sepeda motor ini, pupuk Photosintesis Bakteri dan Eco Enzym ini baru kali ini diadakan di Desa Lantasan Lama tersebut, sedangkan penghijauan seperti penanaman pohon sudah pernah dilaksanakan di desa tempat tinggalnya itu.

“Gak ada sisi negatifnya, ini membantu para petani, kelompok tani. Istilahnya dia bisa memanfaatkan bahan-bahan organik ini menjadi pupuk organik.

Samulio melanjutkan dengan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan Pemuda Tabagsel ini, dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli pupuk, karena petani dapat membuat pupuk sendiri bahkan dengan pupuk ramah lingkungan ini petani dapat lebih meningkatkan produksi usaha pertaniannya.

Dan bagi Karang Taruna Kepala Dusun III ini menyebutkan produk PSB dan Eco Enzym yang jika nantinya diproduksi pemuda Karang Taruna, berpotensi mempunyai nilai ekonomi yang besar untuk dijual dengan kemasan yang lebih baik.

“Saya yakin Pemuda Tabagsel ini bagus semua, karena visi misinya untuk lingkungan hidup sangat meyakinkan”, kata Samulio menutup perbincangan.

Pada sesi acara utama, Narasumber Pelatihan Pupuk Photosintesis Bakteri dan Pupuk Eco Enzym, Paris Sembiring sebelum memaparkan materinya menyampaikan bahwa membuat pupuk dari sampah organik ini sangat mudah dan biayanya pun murah.

“Pupuk mahal, kalau ini sampah (daripada – red) dibuang, kulitnya dibuang, yang dibuang sayur-sayuran (itu) tinggal kita fermentasikan, tekniknya (pembuatan eco enzym) gampang”, papar pegiat lingkungan hidup ini.

“Terus ada PSB, Photosintesis Bakteri itu juga gampang membuatnya, kalo dibeli memang mahal, mungkin 1 botol ini bisa sampai dua puluh lima ribu, tapi kalo kita buat sendiri angka modalnya cuma lima ratus rupiah” sebut Paris Sembiring.

Menjelang memulai materi pelatihan, penerima anugerah Kalpataru ini menghimbau para peserta agar pelatihan ini bukan hanya sekedar mengikuti, akan tetapi juga mampu melatih orang lain.

Pasca pemaparan Paris Sembiring, Pemuda Tabagsel bersama peserta pelatihan dan Pemerintahan Desa, dan tokoh-tokoh lainnya, melanjutkan kegiatan dengan Gerakan Penghijauan yaitu berupa penanaman pohon buah-buahan di bantaran sungai tepat di belakang Kantor Desa Lantasan Lama.

Turut hadir di kegiatan ini Camat Patumbak yang diwakili Kepala Seksi Zainal Effendi Lubis, Kepala Desa Lantasan Lama Mulkan Lubis, Ketua BPD, Tim Penggerak PKK, Kelompok Tani, Karang Taruna, para kepala dusun, pengurus pusat Pemuda Tabagsel, pengurus Pemuda Tabagsel Kabupaten Deliserdang, tokoh agama dan tokoh masyarakat.