Pedagang Tuak di Kecamatan Batunadua jae Angkat Kaki

0
1236

SIDIMPUAN | SUMUT24
Setelah dilebeli garis polisi dan Surat Pemberitahuan berisi ultimatum pembongkaran pakter tuak di kawasan Batunadua Jae oleh Polres dan Pemko Padangsidimpuan, kemarin (25/4), pedagang mulai angkat kaki dari kawasan yang ditetapkan sebagai objek wisata itu.

Para eks pedagang tuak pun terkesan tertutup usai pembongkaran itu. Umumnya mereka sudah lebih dahulu meninggalkan tempat dengan membawa perabotan rumah tangga dan mengosongkan bangunan yang sebelumnya dijadikan lapo sekaligus tempat tinggal mereka.

“Jangan difoto-foto, kalau mau foto, foto saja bangunannya. Kami mau angkat kaki, karena kami sadar ini bukan hak kami. Kami juga tahu kami telah melanggar peraturan. Sudahlah jangan tanya, kami mau pindah. No komen, gak ada keluhan kami, kami memang salah,” kata seorang wanita pemilik lapo tuak itu dengan agresif dan memilih berbicara dengan telepon selular di tangannya.

Di kawasan Tor Simarsayang sendiri, terdapat lima pakter tuak. Empat di antaranya merupakan bangunan non permanen dan satu lagi bangunan permanen yang diduga milik yayasan pendidikan di tempat itu.

Gabungan Polisi dari Polres Psp dan Pemo Psp melalui Satpol PP yang dikomandoi Kabag Ops Polres Psp, Kompol Winter Time Simanjuntak hanya membongkar empat bangunan lapo atau pakter tuak.

“Ada lima, yang kita bongkar hanya empat, karena satu lagi merupakan bangunan permanen. Bangunan itu kemungkinan punya UGN, entah itu disewakan atau bagaimana, yang pasti itu hanya kita tutup,” katanya usai pembongkaran.

Petugas Gabungan bergerak mulai pukul 14.00 Wib dan selesai pembongkaran pada pukul 15.30 Wib.Salah seorang pemilik warung di kawasan itu, SM menerangkan,

“Kalau usahanya (selanjutnya) kita tidak tahu, itulah kabarnya,” katanya membenarkan kalau di lapo-lapo itu juga banyak wanita tuna susila saat sebelum dilarang beroperasi. (Ril)