PARIWISATA HALAL (2)

119
Penulis adalah dosen FISIP UMSU. Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya (‘nBASIS)

Oleh : Shohibul Anshor Siregar

Dengan pertumbuhan kelas menengah dan pendapatan yang semakin meningkat, banyak negara (Muslim atau tidak) ingin menarik perhatian para pelancong ini. Malaysia, Uni Emirat
Arab, Indonesia, dan Turki adalah beberapa destinasi Muslim terkemuka.
Tetapi banyak negara tidak mau ketinggalan dari peluang menggantang rezeki besar ini.
Singapura, Thailand, dan Inggris Raya adalah beberapa dari destinasi non-Islam atau non
OKI (Organisasi Konferensi Islam) teratas saat ini.
Memang penduduk negara ini mayoritas Budha, meskipun dengan populasi Muslim yang cukup
besar di selatan, tetapi suka atau tidak suka Thailand telah terbukti menjadi tujuan
populer bagi umat Islam, terutama dari Indonesia, yang mencari liburan yang terjangkau
dan makanan di negeri itu.
Sedangkan untuk Inggris, pengeluaran Muslim diperkirakan akan meningkat menjadi US $ 4,1
miliar pada tahun 2020 meskipun telah terjadi lonjakan serangan Islamofobia setelah
serangan teror baru-baru ini di London dan Manchester.
Wisata ‘halal’ adalah segmen pasar yang berkembang pesat, dengan turis Muslim pencari
tujuan yang memenuhi kebutuhan mereka, dalam hal makanan, pakaian, atau ritual. Apa sih
wisata halal itu? Diterjemahkan dari bahasa Arab, ‘halal’ berarti “diizinkan” sesuai
dengan ajaran Islam. Alkohol, daging babi, ketelanjangan, dan judi adalah hal-hal
terlarang.
Hahal itu mengusung konsep tidak sebatas dibolehkan, namun syariah merewardnya berpahala
jika dikerjakan. Sebaliknya yang haram adalah hal-hal terlarang bagi Islam yang jika
dikerjakan akan mengundang dosa.
Halal adalah konsep dan terminologi hukum fiqh (Islam) yang menyangkut hidup dan
pengabdian sehari-hari pemeluknya yang di Indonesia mereka menduduki posisi mayoritas.
Saat kemerdekaan jumlah mereka sekitar 95 %, dan menurut Sensus Penduduk 2010, hanya
dalam kurun 65 tahun saja, telah mengalami penyusutan menjadi sekitar 87 %. Terlalu
banyak variable yang harus dihitung untuk proyeksi persentase itu untuk tahun-tahun
mendatang di Indonesia.

Advertisement

Penulis adalah dosen FISIP UMSU. Koordinator Umum Pengembangan Basis Sosial Inisiatif &
Swadaya (‘nBASIS)

Loading...