Pariwisata Danau Toba Harus Kehendak Rakyat

128
Adian Napitupulu bersama Wakil Bupati Tobasa Hulman Sitorus dan Basar Simanjuntak pada kegiatan diskusi di Hotel Marsaringar, Balige, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (9/10).

 

Balige|SUMUT24

Adian Napitupulu bersama seratusan warga yang didominasi kaum milineal dari berbagai daerah untuk mendiskusikan sekaitan pengembangan Danau Toba, di Hotel Marsaringar Balige, Kabupaten Toba Samosir, dengan tajuk ‘Ngopi Bareng’, Rabu (9/10).

Kegiatan informal yang pada awalnya dikhususkan kepada kaum milineal namun dihadiri puluhan peserta dari berbagai usia dan kalangan, mengangkat thema “Kita Apainlah Danau Toba Ini”.

Kehadiran Adian sebagai aktivis yang saat ini trending dikalangan pemuda diharapkan dapat memberi semangat kepada anak muda untuk lebih kreatif khususnya pembangunan secara umum.

Kawasan Danau Toba berbasis industri pariwisata berkelas dunia tentu membutuhkan dukungan bukan hanya dari pemerintah atau para pelaku bisnis. Kehendak bersama dari masyarakat, sebut Adian, menjadi tolak ukur keberhasilan pariwisata Danau Toba.

“Kenapa negara asing yang tidak punya apa-apa memikirkan pariwisata, padahal kita yang punya segalanya kenapa tidak? Masalah bukan berarti berhenti untuk mengembangkan pariwisata Danau Toba,” ucapnya.

Danau Toba sebagai potensi yang dimiliki daerah itu, sebut anggota Komisi VII DPR RI itu, tidak dimiliki daerah lain, tinggal bagaimana masyarakat dapat memanfaatkannya.

“Kalau kita mau membangun harus tau dong potensi yang kita miliki apa. Potensi yang tidak dimiliki daerah lain, Danau Toba. Manfaatkan apa yg ada pada kita,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, berbagai pertanyaan dan tanggapan dari peserta diskusi disampaikan. Syarat menjalani industri pariwisata diawali dengan sifat melayani, sebut Adian menanggapi salah satu pertanyaan.

“Bagaimana merubah ide menjadi kehendak rakyat. Adakah kehendak bersama untuk menjadikan Danau Toba itu menjadi pariwisata yang besar? Kalau kehendak itu ada, sebesar apapun masalah yang ada itu pasti bisa diselesaikan. Ketika itu menjadi kehendak rakyat, tidak ada masalah,” lanjutnya.

Kearifan lokal dan segala potensi yang ada diharapkan mampu mengalahkan segala masalah dan pertentangan. Pertentangan akhirnya mengakibatkan staknasi kiranya dapat dihentikan dengan kiat membangun dengan kehendak bersama.

“Jangan jadi kaum pengeluh,” sebutnya mengajak yang hadir untuk memulai ide baru dalam promosi pariwisata, contohnya menyebarkan budaya Batak melalui sosial media selama sebulan.

“Berhentilah berfikir seolah-olah masalah kita berasal dari luar diri kita. Semuanya diawali dari kehendak”, pungkasnya.

Basar Simanjuntak, Direktur Pemasaran Badan Otorita Pariwisata Danau Toba selaku moderator pada kesempatan itu sebelumnya mengawali obrolan dari sisi pariwisata.

“Konsep otorita bukan untuk yang tua-tua, konsep lebih kepada kaum milineal hingga anak cucu. Mereka yang akan merasakan dampak pembangunan. Ketidakpuasan kepada BOPDT di antaranya mungkin dikarenakan over expectasi terhadap BOPDT, semuanya ingin cepat”, sebutnya.

Diakhir diskusi Adian mengajak yang hadir dengan kesepakatan untuk memulai inovasi pembangunan pariwisata Danau Toba sebagai leading sektor yang memungkinkan berdampak positif bagi sektor lainnya, seperti pertanian, perekonomian dan lainnya.

Turut hadir mengikuti diskusi, Wakil Bupati Toba Samosir Hulman Sitorus, Kepala Dinas Kominfo Lalo H Simanjuntak. (des)

Loading...