Panganan Khas Orang Mandailing saat Puasa, Pakat Langsung Didatangkan dari Kota Pinang

MEDAN-SUMUT24

Pakat, jenis bahan makanan berasal dari pohon rotan ini, muncul lagi. Uniknya memang di bulan puasa saja jenis makanan yang digemari orang Mandailing ini muncul.

Di bulan- bulan lain, memang ada tapi sulit ditemukan. Namun di bulan puasa, pakat mudah ditemukan. Hampir di setiap jalan besar, ada pedagang pakat.

Diantaranya di Jalan SM. Raja, tepatnya di depan Kantor Dinas Kehutanan Sumut. Ada beberapa orang pedagang pakat disitu, salah satunya Ijal dan Jaidal, keduanya warga Jalan Garu III. Dua pemuda tamatan SMA ini mengaku, menjual pakat setiap bulan Ramadhan saja. Mereka hanya ambil upah saja, karena pemilik aslinya juga berjualan yang sama, namun di seberang jalan.

Berbeda dengan pakat lainnya, pakat yang dijual Ijal asli langsung dari Kota Pinang. Mereka memesannya melalui agen di Kota Pinang , kemudian dijemput di terminal, aku Ijal.

Masih menurut Ijal, pakat yang mereka juga seharga Rp 2.000/batang. Dan mereka berjualan mulai jam 10 s/d berbuka puasa. “Seperti puasa sebelumnya, biasanya laku habis. Ntah, hari ini kami belum tahu, lihat rezeki ajalah,” katanya lagi.

Ketika Sumut24 masih bersama kedua pemuda ini, seorang pembeli turun dari mobil. Dia mengaku, pakat yang dibelinya untuk mertua. “Ya mertua saya suka sekali pakat. Makannya pakai sambal tuk-tuk,” jelasnya lagi.

Tapi kalau menurut Ijal, makannya pakai sambal kecap. “Jadi pahitnya agak hilang dan rasanya pun sedap sekali,” tukas Ijal.

Seperti apa pakat itu hanya sebatang pohon rotan yang masih muda. Untuk menikmatinya, pakat cukup dibakar dengan api. Setelah agak gosong, baru dapat dikatakan matang. Untuk mengkonsumsinya, pakat dibelah dua. Isinya yang berwarna putih dan lembut itulah yang dimakan. (R05)