OJK Minta Perbankan Tingkatkan Kredit UMKM

Medan | Sumut24

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional V Sumatera meminta perbankan tingkatkan penyaluran kredit ke usaha mikro kecil menengah (UMKM) mengingat kontribusi sektor ini terhadap total kredit hanya 28%.

Kepala OJK Kantor Regional V Sumatera, Ahmad Soekro Tratmono mengatakan, selain pertanian dan perkebunan, pangsa pasar UMKM di daerah ini juga cukup besar. Karenanya dia meminta perbankan terus mendorong penyaluran kredit ke sektor itu. “Kontribusi terhadap UMKM harus ditingkatkan karena sektor itu juga merupakan tulang punggung perekonomian selain pertanian dan perkebunan,” katanya di Medan, Kamis (19/5).

Dari OJK, pihaknya sudah meluncurkan beberapa program yaitu Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai), Pusat Edukasi, Layanan Konsumen dan Akses Keuangan UMKM (Pelaku) dan Pusat Pengembangan Keuangan Mikro dan Inklusi (Proksi). “Seluruh program ini seharusnya bisa diterapkan pada tiap bank. Seperti Laku Pandai sudah diikuti BRI, BCA dan BTPN. Selanjutnya bank bisa menjalankan program lainnya juga,” jelasnya.

Soekro mengatakan, pada progam Laku Pandai, bank diharapkan tidak hanya memperbanyak agen tetapi juga bisa menjadi perantara menyalurkan kredit. Berarti secara tidak langsung bank membuka layanan hingga ke tingkat desa. Agen tidak lagi hanya melayani transaksi pembayaran listrik, top up pulsa atau lainnya.

“Perbankan pasti tahu siapa saja agen yang bisa dipercaya menjadi penyalur kredit. Dalam hal ini agen tidak dapat dana dari bank tapi cukup mencari calon kreditur, menyampaikan apa saja syarat-syarat menerima pinjaman dan jika sesuai dengan ketentuan bank, si agen langsung menyampaikan ke bank. Jadi kredit pun bisa disalurkan dengan mudah,” jelasnya.

Begitu juga program-program lainnya, perbankan hendaknya bisa menerapkannya dengan baik sehingga intermediasi bank akan semakin baik khususnya untuk sektor UMKM. “OJK sudah banyak meluncurkan program dalam rangka peningkatan pelayanan dan edukasi keuangan. Selanjutnya adalah bagaimana bank bisa memanfaatkan dan menerapkan program tersebut,” ucapnya.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI) Sumut, pangsa kredit umkm pada awal 2016 hanya 28,48% terhadap total kredit yang disalurkan sebesar Rp177,85 triliun. Rinciannya, untuk sektor mikro disalurkan sebesar Rp12,05 triliun atau naik 27,97% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp9,42 triliun.

Kemudian kredit ke sektor kecil disalurkan sebesar Rp16,35 triliun atau naik 8,85% dibandingkan periode sama tahun lalu Rp15,02 triliun dan sektor menengah mendapat kucuran kredit sebesar Rp22,25 triliun atau naik 8,61% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp20,49 triliun.

Kepala BI Perwakilan Sumut Difi A Johansyah mengatakan, sejauh ini realisasi kredit ke sektor UMKM di Sumut cukup besar. Namun jika bicara kontribusi memang semakin menurun dibandingkan tahun sebelumnya. “Bahkan beberapa tahun lalu kontribusi sektor UMKM terhadap total kredit pernah mencapai 40%. Namun pada triwulan I 2016 (kontribusi) terus menurun hingga tahun ini hanya 28%,” katanya.
Meski begitu BI akan terus mendorong meningkatkan realisasi kredit terutama untuk sektor UMKM. Tujuannya adalah mendorong peningkatan perekonomian daerah ini agar semakin baik ditengah masih rendahnya harga komoditas. UMKM adalah sektor yang diandalkan saat ini seiring membaiknya perekonomian dunia.

Dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, dia yakin bank tidak akan terlalu selektif dalam menyalurkan untuk sektor UMKM terlebih sekarang suku bunga semakin rendah sehingga kemampuan bayar kreditur akan baik. “Bank pasti sudah tahu apa yang akan dilakukan dalam hal penyaluran kredit UMKM terlebih pemerintah sudah mendukung dengan menurunkan suku bunga kredit usaha rakyat (KUR),” pungkasnya. (W04)