Menyelamatkan Kota Medan dengan SDGs (Refleksi HUT ke-430)

383

Oleh: Benny Iskandar, ST. MT

Pada tanggal 1 Juli 2020 ini Kota Medan sebagai Kota terbesar di luar Pulau Jawa, sekaligus pintu Gerbang Indonesia Bagian Barat yang kita cintai ini akan berusia 430 tahun.

Seluruh warga kota maupun pemerintah kota tentu memiliki keinginan yang sama, yaitu Kota yang Nyaman, Layak Huni dan maju kehidupan ekonomi, sosial serta budayanya.

Akan tetapi, harapan tersebut masih memiliki kesenjangan yang cukup lebar dengan kenyataan. Warga Kota Medan yang kritis sebahagian masih belum merasakan kenyamanan dan kelayakan hidup di Kota Medan.
Disparitas antara realita dan ekspektasi/harapan tersebut haruslah diperkecil seminimal mungkin. Tahun 2020 dan 2021 ini akan menjadi tonggak penting dalam membenahi pembangunan kota.

Pemilihan Kepala Daerah dan adanya krisis akibat Pandemi Covid19 ini merupakan katalisator bagi pemikiran untuk meningkatkan kualitas kenyamanan dan kelayakan hidup masyarakat.

Momentum ini harus mampu diterjemahkan oleh para calon Kepala Daerah dalam strategi pembangunan yang cerdas dan efisien serta terukur sehingga mudah diterjemahkan dalam RPJM tahun 2021-2026 nantinya. Tanpa harus memunculkan visi dan misi yang baru, sebaiknya agenda
pembangunan lebih mengadopsi strategi yang telah ada di dunia seperti Sustainable Development Goals (SDGs).

Apa itu SDGs?

SDGs adalah suatu Agenda Pembangunan Perkotaan baru yang disepakati untuk menggerakkan pembangunan yang berkelanjutan. Pada tanggal 25 September 2015 di Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 193 kepala negara secara resmi mengesahkan Agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) sebagai kesepakatan
pembangunan global. Negara kita yang dihadiri oleh Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla turut mengesahkan Agenda SDGs. Tema yang diangkat adalah “Mengubah Dunia Kita: Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan” atau dikenal pula dengan pelaksanaan New Urban Agenda: Cities 2030, Cities For All atau Kota-kota tahun 2030, Kota untuk Semua.

SDGs yang berisi 17 Tujuan dan 169 Target merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan (berlaku sejak 2016), guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Prinsip SDGs yang unik dari agenda sebelumnya (MDGs) adalah dengan
Tidak Meninggalkan Satu Orangpun (Leave No One Behind). SDGs berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa kecuali negara maju memiliki kewajiban moral untuk mencapai Tujuan dan Target SDGs.

Tujuan dan target yang ditetapkan tidak hanya dalam aspek lingkungan fisik semata, tetapi juga meliputi aspek ekonomi, sosial budaya, kemitraan dan ketertiban serta kesetaraan.

Sebagai wujud komitmen untuk melaksanakan SDGs telah diterbitkan Peraturan Presiden (Perpres) SDGs Nomor 59 Tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Perpres tersebut juga merupakan komitmen agar pelaksanaan dan pencapaian
SDGs dilaksanakan secara partisipatif dengan melibatkan seluruh pihak.

Karena telah memiliki tujuan dan target yang terukur dan disepakati secara universal, maka sebenarnya Agenda ini dapat, bahkan wajib diadopsi dalam Agenda pembangunan setiap kota.

Para Kepala Daerah hanya perlu memilih prioritas dan menyusun tahapan pencapaian target. Pembuatan Visi dan Misi sebaiknya tidak memunculkan istilah dan tujuan baru sehingga dapat diperbandingkan dengan kota-kota lain di Dunia. Kota Medan sebagai Kota Metropolitan sudah saatnya berpikir Global tetapi bertindak dengan kearifan lokal (Think Globally, Act Locally), dan bukan sebaliknya.

Mengapa Harus Berkelanjutan?

Bebearapa kondisi yang menjadi latar belakang Kota Medan harus Berkelanjutan adalah munculkan fenomena Urbanisasi, Perubahan Iklim, dan adanya tuntutan kuat masyarakat agar Kota Medan menjadi Nyaman dan Layak Huni. Pembangunan yang hanya mengedepankan kemajuan fisik dan infrastruktur semata telah melahirkan konflik dan kejenuhan sosial budaya.

Pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah terbukti melahirkan kerusakan lingkungan yang tidak dapat dipulihkan dalam waktu singkat dan memerlukan biaya sangat besar.

Ekspoitasi air atau hutan seperti di sekitar Danau Toba memerlukan waktu lebih dari 100 tahun untuk mengembalikan kualitas air danau dan tentunya dengan biaya yang sangat besar. Pembangunan secara berkelanjutan adalah solusi untuk mengatasi hal tersebut.
Pembangunan berkelanjutan mengedepankan partisipasi aktif semua pihak. Kebanggaan sebagai warga kota perlu dimulai dengan menciptakan suasana pembangunan yang partisipatif dan akomodatif.
Pembangunan yang mengedepankan gerakan gotong royong baru dapat dilakukan jika ikatan persatuan dan kepedulian tumbuh.

Langkah tersebut telah terbukti keberhasilannya di Kota
Surabaya yang watak warganya memiliki kesamaan dengan “Anak Medan”.
Dunia selama 4 (empat) dekade ini telah mengalami kenaikan jumlah penduduk perkotaan sebanyak 3 (tiga) kali lipat. Jika pada tahun 1970 dan 1980 an Kota Medan hanya meliputi bagian inti kota, maka pada tahun 2020 ini wilayah perkotaan telah meluas sampai ke Mebidang.

Pada tahun 2030 diperkirakan jumlah penduduk kota mencapai 60% dari jumlah penduduk dunia, sedangkan pada tahun 2050 akan mencapai 70%. Demikian pula dengan Kota Medan, maka pada tahun 2050 akan sulit membedakan batas wilayah kota dan kabupeten sebagaimana terjadi di
Jabodetabek.

Urbanisasi tanpa perencanaan yang baik akan mengakibatkan degradasi lingkungan dan dapat menimbulkan kebutuhan pembiayaan yang semakin besar.

Isu perubahan iklim yang disebabkan pemanasan global yang diakibatkan oleh efek rumah kaca telah membuat kita perlu memikirkan pola kehidupan yang lebih ramah terhadap lingkungan. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota yang mampu memelihara lingkungan secara berkelanjutan yang akan mampu bertahan, sedangkan yang tidak mampu mengantisipasinya akan mengalami kehancuran bahkan kebangkrutan.
Ketidaksiapan menerima pandemi covid19 membuktikan dampak terhadap krisis ekonomi dan aspek lainnya. Gerakan penyadaran dan perubahan sudah mulai dilakukan sejak usia dini dan dari lingkungan rumah.
Walaupun warga Medan sangat kritis, namun rasa Bangga akan Anak Medan dan kerinduan akan kejayaan Kota Medan sebagaimana jayanya PSMS di masa lampau merupakan modal.

Keinginan untuk maju ini harus mampu disandingkan dengan membagi fungsi dan peran masing-masing pihak dan pola kerjasamanya dalam mencapai 17 Tujuan dan 169 target.

Kota ini harus dibangun sebagai suatu sistem tubuh kita. Masing-masing bagian memiliki fungsi dan perannya tanpa merasa iri dan ingin mencampuri bagian lain. Kolaborasi dan sinergitas alat gerak dan fungsi organ tergantung baiknya sistem saraf dan otak. Dalam konteks perkotaan, kolaborasi tersebut diperankan oleh Kepala Daerah dan eksekutif bersama DPRD sebagai Legislatif.

Laksanakan SDGs di Kota Medan

Untuk mengatasi permasalahan-permasalahan di Kota Medan perlu adanya kerjasama dari berbagai pihak. Ketegasan pemerintah kota, kesadaran masyarakat, dan ketertiban dari semua pihak sangat diperlukan. Dalam menjaga keberlanjutan kehidupan Kota yang telah berusia 430 tahun ini, Pemerintah Kota berkewajiban memiliki Visi dan Misi yang mengarah pada pencapaian SDGs, serta membuat peraturan dan kebijakan yang mengarahkan pencapaian 169 target.

Kesadaran masyarakat juga diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem, lingkungan, serta penjagaan fasilitas yang telah dibangun oleh pemerintah. Melalui keterlibatan semua pihak, harapannya Medan akan menjadi kota yang nyaman dan layak huni dan dapat mengatasi masalahmasalah perkotaan, Hanya dengan kebersamaan dan konsistensi dalam menjalankan rencanarencana tersebutlah maka menyelamatkan kota dan mengembalikan kejayaan kota ini bukan saja mungkin tetapi pasti dapat dicapai.

Jika seluruh warga berupaya menahan air hujan agar jangan langsung ke saluran drainase dan menyimpannya ke dalam tanah atau ditampung untuk dipergunakan, serta halaman depan rumah tetap memiliki ruang untuk resapan air, maka masalah banjir akan dapat diatasi.
Lingkungan binaan (kota dan bangunan didalamnya) harus direncanakan, dibangun, dipelihara secara berwawasan lingkungan (berkelanjutan) dengan mengedepankan teknologi dan kearifan lokal.

Kita harus mulai berindak sekarang juga. Semua melakukan sesuai kemampuannya secara tulus ikhlas, tanpa menunggu dan menuntut orang/pihak lain. Tidak ada waktu untuk menunggu atau kita akan tertinggal dan kalah dengan perkembangan permasalahan. Kebijakan pembangunan oleh eksekutif bersama legislatif harus terukur dan dapat dipahami semua pihak.

SDGs merupakan Agenda yang harus diadopsi dalam Rencana Pembangunan jangka Menengah dan Jangka Panjang ke depan. Kunci keberhasilannya adalah dengan menggali nilai-nilai karakter lokal Kota Medan
yang disepakati bersama, bukan meniru kota lain. Pendekatan sosial budaya antropologi harus dikedepankan selaras dengan pendekatan teknologi. Semoga usia 430 tahun ini menjadi awal kota Medan yang sehat, maju dan berkelanjutan sehingga nyaman dan layak untuk dihuni. (***)

*Benny Iskandar, ST. MT adalah Dosen Fakultaas Sains dan Teknologi Universitas Pembangunan Panca Budi Medan
*Kadis Tarukim Kota Medan

Loading...