Mahasiswa ITM Tolak Dua Kubu Rektor

291

MEDAN I Sumut24.co

Ratusan mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM) berunjuk rasa menolak dua kubu rektor hasil pemilihan dan pelaksanatugas rektor.

Unjuk rasa dengan membakar ban bekas dan memblokir pintu masuk Kampus ITM Jalan Gedung Arca Medan, Jumat 10 Juli 2020

Pantauan wartawan, mahasiswa mulai berorasi sekitar pukul 14.00 WIB usai sholat jumat.” Kampus ini kami tutup dan blokade sampai kedua kubu rektor islah dan berdamai.” kata salah satu pengunjuk rasa.

Sehari sebelumnya Kantor Yayasan dan Kantor Rektorat diuasai mahasiswa dengan cara bermalam dan tidur di kedua ruangan tersebut

Pasca dibuka paksa dan dikuasainya kedua ruangan baik Kantor Yayasan Dwi Warna maupun gedung rektorat oleh mahasiswa yang mengatas namakan diri mereka dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Institut Teknologi Medan (KAM-ITM), puluhan mahasiswa aksi akhirnya bermalam dan tidur di kedua ruangan tersebut.

Aksi bermalam di kedua ruangan itu mereka lakukan agar kedua ruangan tetap dapat dikuasai mahasiswa bahkan dapat steril dari seluruh aktifitas yayasan maupun rektorat sampai konflik dualisme kepemimpinan yang sedang terjadi terselesaikan.” Kedua kubu rektor tidak kami akui, Kuswandi dan Ramlan Tambunan.” ujar mahasiswa.

Mereka juga mengatakan bahwa hari ini mereka akan melakukan aksi yang lebih besar dan mereka tetap mendesak para petinggi yayasan dan rektorat segera menyelesaikan masalah yang terjadi ditingkatan internal mereka ” sebab hanya mereka yang mampu menyelesaikan masalah mereka, bila perlu minta alumni yang berpengaruh ikut menyelesaikan.” ujar mahasiwa.

Wakil Ketua Perhimpunan Alumni ITM Sahat Simatupang mengaku kaget atas dualisme rektor ITM. Menurut Sahat, sekitar Februari lalu, pengurus PA ITM bertemu rektor Mahrizal Masri dalam rangka silaturahmi.” Saat itu tidak ada kabar akan ada pemilihan rektor ITM.” ujar alumni Teknik Geologi 93 itu.

Sahat berharap, kedua kelompok pendukung rektorĀ  berunding agar proses belajar dan mengajar di ITM dapat berjalan normal.” Sebagai alumni saya mengingatkan agar konflik kecil itu segera diselesaikan. Pengalaman kita menyaksikan konflik di kampus lain, jika kampus terbagi dalam perkubuan, sangat sulit dan perlu waktu lama agar kembali bersatu. Mumpung belum ada pihak yang ingin mengail di air keruh, sebaiknya kedua kubu rektor saling menahan diri dan mencari titik temu.” ujar jurnalis senior Tempo itu.(red)

Loading...