LANGKAH KEBERHASILAN PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

 

Oleh : Nur Fatiha Utami Nasution
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Pancabudi Medan

A. Latar Belakang Masalah
Pengambilan keputusan adalah soft skill yang melibatkan memilih antara solusi yang mungkin untuk suatu masalah. Ini adalah keterampilan yang sangat berharga yang dicari oleh banyak perekrut dan manajer perekrutan ketika mencari bakat baru. Keputusan sering dibuat melalui proses intuitif atau beralasan. Intuisi adalah kemampuan untuk memahami sesuatu dengan segera tanpa perlu penalaran. Meskipun kedengarannya seperti konsep yang tidak jelas, sebenarnya ini adalah kombinasi dari pengalaman masa lalu dan nilai-nilai pribadi.
Setiap manusia memiliki tujuan yang hendak diraih. Tujuan tersebut dapat diraih secara “tersendiri”, atau dicapai melalui kelompok. Organisasi merupakan wadah atau alat yang digunakan oleh manusia untuk mengkoordinasikan seluruh tindakan mereka dengan tujuan saling berinteraksi untuk mencapai sejumlah tujuan yang sama. Organisasi muncul didorong oleh kemunculan sejumlah masalah dan tantangan yang harus dihadapi manusia. Masalah yang dihadapi oleh pengelolanya adalah menemukan kebijakan dan strategi terbaik agar organisasi tetap dapat bertahan hidup dan menciptakan kemakmuran bagi para pemilik maupun pengelolanya. Mencari solusi yang akan membantu kelangsungan hidup organisasi sehingga organisasi dapat terus menciptakan kemakmuran bagi pemiliknya merupakan tujuan utama dari pengambilan keputusan. Begitu strategisnya kedudukan pengam bilan keputusan dalam menentukan kelangsungan hidup organisasi. Persoalannya adalah bagaimana pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan efektif.
Untuk itu, setiap pemilik bisnis harus mengetahui bagaimana cara pengambilan keputusan yang tepat dan efektif, yang pastinya dapat meminimalisir dampak negative dan mengundang keuntungan bagi bisnis mereka.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana cara pengambilan keputusan yang efektif

C. Pembahasan
1. Konsep Pengambilan Keputusan
Jogiyanto (2003:66) mengemukakan bahwa pengambilan keputusan adalah tindakan manajemen di dalam pemilihan alternatif untuk mencapai sasaran. Maman Ukas (2004:140) mengemukakan pengambilan keputusan merupakan suatu pengakhiran dari proses pemikiran tentang suatu masalah yang dihadapi. G.R. Terry (Suwatno dkk. 2002:45) mengemukakan decision making can be defined as the selection based on some criteria of one behavior alternative from two or more possible alternative. Koontz and O’Donnel (Hasibuan, 1986:53) mengemukakan decision making – the among alternatives of a course of action. Siagian (1980:82) mengemukakan pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakekat suatu masalah, pengumpulan fakta-fakta dan data, penentuan yang matang dari alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling tepat. Johanes Supranto (1998:1) memaparkan secara populer dapat dikatakan bahwa mengambil atau membuat keputusan berarti memilih satu di antara sekian banyak alternatif, yang dibuat dalam rangka untuk memecahkan permasalahan atau persoalan (problem solving). Dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif terbaik untuk pemecahan suatu masalah melalui metode dan teknik tertentu.
2. Proses Pengambilan Keputusan
Handoko, (1992:133-138) menjelas kan bahwa proses dasar pembuatan kepu tusan rasional mencakup tahapan 1) pemahaman dan perumusan masalah, 2) pengum pulan dan analisa data yang relevan, 3) pengembangan alternatif-alternatif, 4) evaluasi alternatif-alternatif, 5) Pemilihan alternatif terbaik, 6) Implementasi keputusan, dan 7 evaluasi hasil-hasil keputusan. Johanes Supranto (1998:1) memaparkan langkah-langkah pengambilan keputusan sebagai berikut 1) rumuskan/definisikan persoalan keputusan, 2) Kumpulkan informasi yang relevan, 3) Cari alternatif tindakan, 4) Lakukan analisis alternatif yang fisibel, 5) Pilih alternatif terbaik, 6) laksanakan keputusan dan evaluasi hasilnya.
Siagian (1980:96) mengemukakan terdapat tujuh langkah yang dapat ditempuh dalam pengambilan keputusan, yaitu: 1) Mengetahui hakekat masalah yang dihadapi, dengan perkataan lain mendefinisikan masalah yang dihadapi dengan setepattepatnya; 2) Mengumpulkan fakta-fakta dan data yang relevan; 3) Mengolah fakta-fakta dan data tersebut; 4) Menentukan beberapa alternatif yang mungkin ditempuh; 5) Memilih cara pemecahan dari alternatif yang telah diolah dengan matang; 6 Memutuskan tindakan yang hendak dilakukan; dan 7) Menilai hasil-hasil yang diperoleh sebagai akibat dari keputusan yang telah diambil.

3. Proses Mendefinisikan Masalah
Charles F. Kettering (Siagian, 1980:98) mengatakan suatu masalah yang sudah didefinisikan dengan baik berarti sudah separoh terpecahkan. Patton dan Sawicki (1986:103) menjelaskan bahwa definisi masalah merupakan langkah kunci. Persoalannya adalah tidak mudah untuk mendefinisikan suatu masalah, sebab menurut Miller dan Starr (1978:504) tidak semua orang memandang hal yang sama sebagai masalah bahkan bila hal tersebut terjadi pada situasi yang serupa. Sebagian orang akan mengatasi masalah itu dan berupaya memecahkannya. Yang lainnya akan mengabaikan atau menunda masalah, artinya, tidak segera berupaya memecahkan masalah. Bagi mereka hanya ada satu pertanyaan petunjuk-masalah, bukan masalah nyata menurut bahasa. Kondisi ini menurut Miller dan Starr (1978:504) disebabkan oleh beberapa hal yaitu 1) tujuan yang diharapkan dari pemecahan masalah, 2) ruang lingkup (size) organisasi, dan 3) keuntungan potensial yang diharapkan dari pemecahan masalah. Oleh karena itu menurut Ackoff (Dunn, 1994), mengemukakan “keberhasilan dalam memecahkan suatu masalah memerlukan penemuan solusi yang tepat terhadap masalah yang juga tepat. Kita lebih sering gagal karena kita memecahkan suatu masalah yang salah daripada menemukan solusi yang salah terhadap masalah yang tepat”. Dengan demikian dalam merumuskan masalah terlebih dahulu harus memahami hakikat dari suatu masalah. Perumusan masalah dapat dipandang sebagai suatu proses. Dunn (1994) menyebutkan ada empat fase yang saling berkaitan, yaitu
1) Pencarian masalah (problem search), adalah proses penemuan dan penyatuan beberapa representasi masalah, atau metaproblem, yang dihasilkan oleh para pelaku kebijakan.
2) Pendefinisian masalah (problem definition), adalah proses mengkarakteristikan masalah-masalah substantif ke dalam istilah-istilah yang paling dasar dan umum.
3) Spesifikasi masalah (problem specification), adalah tahap pemahaman masalah dimana analis mengembangkan representasi masalah substantif secara formal (logis atau matematis)
4) Penghayatan masalah (problem sensing), adalah tahapan perumusan masalah dimana analisis kebijakan mengalami kekhawatiran dan gejala ketegangan dengan cara mengenali situasi masalah.

 

Patton dan Sawicki (1986:107) menyebutkan ada 7 tahapan yang disarankan dalam merumuskan masalah, yaitu: (1) Pikirkan masalah, 2) Gambarkan batasanbatasan masalah, 3) Kembangkan fakta, 4) Urutkan tujuan (goals) dan sasaran (objectives), 5) Identifikasi “ukuran permasalahan”, 6) Tunjukkan biaya dan keuntungan potensial, dan 7) Bahas pernyataan masalah.
Prajudi Atmosudirdjo (1990:165), menjelaskan proses analisis masalah terdiri atas langkah-langkah: 1) menentukan identitas masalah, 2) menentukan posisi masalah, 3) menentukan nilai masalah, 4) menentukan urgensi masalah, 5) menentukan penyebab-penyebab masalah, 6) menentukan struktur masalah, 7) menentukan dinamika masalah, 8) menentukan adanya masalah tertentu atau sub masalah. Uraian di atas menunjukkan langkah strategis yang harus dilakukan terlebih dahulu dalam perumusan masalah adalah menyadari adanya suatu masalah. Bagaimana menyadari adanya suatu masalah? Miller dan Starr (1978:501-503) mengajukan empat cara, yaitu:
1) Konfrontasi Berhadapan. Suatu masalah dapat dikaji dari fenomena yang terjadi. Fenomena prestasi belajar siswa yang rendah misalnya, menyimpan sejumlah masalah yang melekat pada strategi belajar mengajar yang digunakan atau pada motivasi belajar siswa.
2) Monitoring Pencegahan. Setiap keputusan yang diambil selalu mengandung risiko. Suatu masalah dapat muncul dari risiko ini.
3) Gangguan Eksternal. Masalah dapat ditemukan dari adanya reaksi eksternal terhadap keputusan terdahulu yang telah diambil.
4) Pencarian Acak. Bila tidak ada masalah yang dapat ditemukan oleh cara lain, kita mencarinya. Pencarian seperti itu biasanya diprediksi pada proposisi bahwa “tidak ada yang sempurna”.
D. Penutup
Pengambilan keputusan adalah proses pemilihan alternatif terbaik untuk pemecahan suatu masalah melalui metode dan teknik tertentu. Implikasi dari definisi ini adalah kunci keberhasilan dari proses pengambilan keputusan terletak pada ketepatan dalam merumuskan masalah (problem structuring). Persoalannya adalah tidak mudah merumuskan masalah, sebab masalah mempunyai sifat yang subjektif. Bagi sebagian orang sesuatu itu adalah masalah, tapi bagi sebagian yang lain bukan merupakan suatu masalah. Oleh karena itu diperlukan kemahiran decision maker dalam problem structuring sehingga proses pengambilan keputusan dapat berjalan efektif.
E. Daftar Pustaka

Dunn, William N. (1994). Public Policy Analysis: An Introduction (2nd ed.). Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall.

Jogiyanto. (2003). Sistem Teknologi Informasi. Andi: Yogyakarta Johanes Supranto. (1998). Teknik Pengambilan Keputusan. Jakarta: Rineka Cipta Malayu

S.P. Hasibuan. (1986). Manajemen: Dasar, Pengertian dan Masalah, Jakarta: Gunung Agung

Maman Ukas. (2004). Manajemen: Konsep, Prinsip, dan Aplikasi. Bandung: Agnini Bandung

McLeod, Raymond. (1995). Management Information System. Science research Associates Inc., 1979.

Patton, Carl V. dan David S. Sawicki. (1986). Basic Methods of Policy Analysis and Planning. Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice-Hall

S. Prajudi Atmosudirdjo. (1971). Beberapa Pandangan Umum Tentang Pengambilan Keputusan (Decision Making). Jakarta: Ghalia Indonesia

S.P. Siagian. (1980), Sistem Informasi Untuk Pengambilan Keputusan, Jakarta: Gunung Agung

Suwatno, Djoko Pitoyo, dan Rasto (2002). Manajemen Modern: Teori dan Aplikasi. Bandung: Zafira

T. Hani Handoko. (1984). Manajemen. Yogyakarta: BPF