Lahir dengan Kondisi Menyedihkan Seorang Bayi Butuh Bantuan Dermawan

0
1787

TANAHKARO | SUMUT24

Kalau boleh meminta, mungkin bayi perempuan yang baru dilahirkan ini, taklah berkenan untuk dilahirkan. Kelak entah bagaimana nasibnya, jika dia dewasa nanti. Namun begitulah kehendak yang Maha Kuasa.

Bayi yang lahir dari pasangan Timbul Lahagu (25) dan Agus br Pardede (24), Kamis (24/12) kemarin ini, mengalami cacat pisik.

Cacat yang diderita bayi ini tidak tanggung-tanggung. Tak usahlah diceritakan di sini. Sebab akan terasa menyakitkan bagi kedua orangtuanya. Yang pasti teramat buruk untuk diceritakan.

Kedua orangtuanya, Timbul Lahagu dan Agus br Pardede sudah tak tahu harus berbuat dan berkata apa. Mereka hanya bisa pasrah, sambil menunggu datangnya keajaiban dan uluran tangan para dermawan.

Sementara menurut informasi yang diperoleh dari bidan Julisna Megawati br Naibaho yang bertugas di Desa Lau Solu, Kecamatan Mardingding melalui petugas Puskesmas Lau Baleng, Johari Maha, membenarkan bahwa bayi tersebut lahir dalam kondisi menyedihkan.

Kepala Desa Lau Baleng berharap kepada masyarakat yang merasa simpatik agar dapat membantu keluarga Timbul Lahagu, sebab mereka membutuhkan uluran tangan para dermawan untuk biaya perawatan bayinya.

“Kasihan sekali. Melalui ini saya ingin mengetuk pintu hati para dermawan, agar ikut meringankan beban keluarga ini. Kasihan sekali anak itu,” ujar Pt Theofilus Sinulaki yang juga sebagai Ketua PAC GAMKI Kecamatan Lau Baleng.

Bidan boru Naibaho yang membantu persalinan bayi itu juga mengaku sangat kaget melihat keadaan bayi tersebut. Bayi tersebut sangat memerlukan perawatan intensif lanjutan, sehingga sangat mengharapkan bantuan uluran tangan para dermawan.

Sedangkan Ketua PAC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kec.Lau Baleng, Pt Theofilus Sinulaki bersama Plt Kepala Desa Lau Baleng Reno Karo-Karo didampingi Kaur Pembangunan Joni Ginting dan Ketua BPD Katikana Ginting kepada wartawan, Jumat (8/1) di kediaman Timbul Lahagu di Jalan Renun Desa Lau Baleng, Kecamatan Lau Baleng, Karo, juga mengatakan hal yang sama.

“Istrinya tidak pernah punya perasaan lain waktu menghamili anak ke duanya itu,” ujarnya. (lin)