Kumpulan Puisi “Surat Buat Emat” Dilaunching

Medan | Sumut24

Sastrawan Sumatera Utara Aishah Basar melaunching kumpulan puisinya “Surat Buat Emak” bertempat di Trend’s Café, Jalan Kemuning Karya Baru, Dr Mansyur, Medan, Minggu (31/1).

Ini merupakan buku kedua Aishah. Sebelumnya, ia telah menerbitkan kumpulan cerpen berjudul “Mawar Rebah dan Mimpi-Mimpi Leila” di Taman Budaya Sumatera Utara, pada tahun 2012.Kumpulan puisi “Surat Buat Emak” memuat 45 puisi karyanya yang sarat penghayatan atas kehidupan dalam dunia kepenyairannya, sejak dari Medan hingga kini menduduki jabatan strategis sebagai pendidik di Tapanuli Tengah.

Dua Pembicara DR Rosliani SS Mhum dengan “Pertarungan Kata Dalam Gelisah – Apresiasi Pada Puisi-puisi Aishan Basar” dan Thomson Hs dalam “Dalam Ruang-ruang Imaji Sampai Kode Alfabetis”, tampil membicarakan kumpulan puisi tersebut dipandu Juhendri Chaniago.

Aishah Basar adalah nama pena Siti Aisyah yang lahir di Rantauprapat, Labuhanbatu pada tanggal 26 Januari 1971. Anak sulung dari lima bersaudara ini menamatkan SD Negeri di Rantauprapat, SMP Negeri 1 Rantauprapat, dan SPG Negeri Rantauprapat.

Aishah Kemudian hijrah ke Medan meraih gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Medan pada 31 Oktober 1996 dan memperoleh Master Linguistik di Program Pascasarjana USU Program Studi Linguistik (2002).
Karya sastra sudah mulai ditulisnya dalam bentuk puisi sejak SD untuk konsumsi pribadi dan menulis cerpen sejak SMP untuk hal serupa. Karyanya baru dimuat pada media massa terbitan Medan sejak 1991.

Di bidang penulisan cerita pendek, Aishah pernah mendapat penghargaan sebagai Pemenang II Lomba Cerpen Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI dan Creative Writing Institute (2003), Nominasi Lomba Cerpen Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI dan Creative Writing Institute (2004), dan Pemenang II Lomba Menulis Cerita Pendek Program Reguler yang diselenggarakan khusus untuk guru bahasa dan sastra Indonesia tingkat SMA oleh Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas RI (2006).

 

Cerpen-cerpennya diikutsertakan dalam antologi “Yang Dibalut Lumut” (2003) dan “Dari Zefir Sampai Puncak Fujiyama” yang diterbitkan Departemen Pendidikan Nasional, Penerbit Wedatama Widya Sastra, dan Creative Writing Institute (2004).Di bidang puisi, Aishah menjadi penulis sekaligus pembaca puisi yang baik. Dia menjadi juara 1 baca puisi pada peringatan Hari Sumpah Pemuda di IKIP Negeri Medan (1992).

Beberapa puisinya diterbitkan dalam antologi bersama “Muara Tiga”: Antoloji Sastra Indonesia-Malaysia diterbitkan Panitia Dialog Utara IX di Medan (2001). Lalu, bersama Idris Siregar dan Antilan Purba membukukan puisi dalam “Tengok 3” yang diterbitkan Arsas Medan (2002).

Puisinya kemudian dimasukkan dalam antologi “Pesona Gemilang Musim”: Kumpulan Puisi Penyair Perempuan Indonesia II yang diterbitkan oleh Himpunan Perempuan Seni Budaya Pekanbaru (2004), antologi puisi elegi penyair Sumatera Utara berjudul “Amuk Gelombang” yang diterbitkan Star Indonesia Productions Medan (2005), dan “Jelajah”: Puisi Ekologis yang diterbitkan Valentino Group Medan (2006).
Aishah yang kini bertugas sebagai kepala salah satu SMA Negeri di Barus, Tapanuli Tengah (Tapteng), menurut salah seorang rekannya, Dini Usman, sebagai seniman dan guru sekolah yang “gila”, sebab ia melakukan banyak sekali perubahan revolusioner di sekolah yang dipimpinnya.

Launching yang dihadiri banyak sastrawan dan budayawan, para seniman lain, pemerhati, penikmat dan masyarakat seni, serta undangan lainnya, dimeriahkan performance Sri KNA dan Agung Suharyanto (koreografer tari), Hafiztaadi (pertunjukan puisi), Jay Ginting (parafrase), Reins Asmara (pelukis), Endra Kong (sketsa), Agus Susilo, Dini Usman, dan lain-lain. (ian)