Korban Penganiyaan Senen CS Minta Polresta Medan Serius

0
927

MEDAN | SUMUT24

Korban penyerangan dan pengiayaan dilakukan Senen Perkul CS eks
Centeng Kebun PTPN2 Bandar Klipppa, minta Polresata Medan serius
menangani proses hukum yang dilaporkan, korban sesuai No :
STTLP/843/K/III/2016/SPKT Resta Medan tanggal 31 Maret 2016 atas nama
Rudi.

“Saya berharap dan meminta Polresta Medan serius memproses laporan
penyerangan dan peganiyaan dilakukan, Senen Perkul sesuai hukum negara
republik negri ini,” kata Rudi kepada SUMUT24, Minggu (10/4).

Permintaan itu menurut rudi, Senen Perkul CS yang belum juga dilakukan
proses hukum, bakal, melakukan hal yang serupa lagi. Karena, bukan
sekali atau dua kali, dia (senen Perkul-red) melukai petani dengan
menyerang dan menganiaya.

“Jika tidak segera di proses, Senen bersama antek-anteknya bakal
merusuh lagi, menyerang lagi, menganiaya para petani lagi,” sebut Rudi
diamini, Kirno yang juga turut menjadi korban pada peristiwa itu.
Untuk diketahui, Senen Perkul eks centeng Kebun PTPN2 Bandar Klipa,
dilaporkan Rudi setelah, Kamis (31/3) petang lalu sekira pukul 17.00
wib, puluhan orang bersenjatakan, ketapel, panah dan mercon serta
sajam dan bom molotov juga senapan angin menyerang petani yang sedang
bekerja dilahan garapan Pasar 2.

Dari aksi penyerangan itu, Rudi dan Sukirno mengalami luka. Rudi
terkena tembakan mercon di dada sebelah kiri. Sedangkan, Sekirno
mengalami luka terbakar akibat lemparan bom molotov dan mercon di kaki
kananya.

Tidak hanya menyerang dan menganiaya, Senen Perkul CS juga melakukan
pengeruskan fasiliras milik masyarakat yang tergabung dalam Kelompok
Forum Tani Sejahtera (FTS) dengan merubuhkan 6 tiang listrik dan
portal dengan menggunakan dum truck yang ditunpangi pelaku.

Sementara itu, masyarakat kelompok FTS jepada wartawan menduga, Polsek
Percut Seituan ada main mata dengan Senen Perkul CS. Pasalnya, para
petani FTS yang diserang dan dianiaya, oleh Polsek Percut Seituan
menerima laproan Senen.

“Bagaimana kami tidak menduga adanya permainan dan main mata antara
Polsek Percut Seituan dan Senen Perkul CS. Setiap kami yang diserang
dan dianiaya, selalu cepat ditanggapi laporannya. Sementara, laporan
kami (petani FTS-red) terkait kasus penembakan yang menimpa Roy
Pratama Sinaga tertembus peluru senapan angin di elipis mata kanannya,
hampir setahun kasusnya tidak ada diproses,” Ujar Prayuda butar-butar
yang diamini petani lainnya.

Padahal lanjut Prayuda, lasus penemabakan sesuai No :

“Hilang sudah kepercayaan kami sebagai masyarakat terhadap hukum di
Polsek Percut Seituan, sudah jelas yang kami laporkan sudah memenuhi
syarat, kenapa Senen Perkul CS masih bebas berkeliaran. Bahkan bisa
melakukan hal yang serupa lagi. Dimana letak hukum itu. Apakah Senen
membayar upeti,” ujar mereka.

Atas dasar itu, masyarakat (petani-red) memberikan predikat terhadap
mantan centeng PTPN2 (Senen Perkul) kebal hukum. “Kalau tidak kebal
hukum, proses laporan korban dan tangkap. Tapi kenapa didiamkan
kasusnya ini. Ada apa,” pungkasnya.

Masih mereka (petani), Senen Perkul oleh Polresta Medan, juga telah
ditetapkan tersangka dalam kasus penipuan dan penggelapan. Lagi-lagi,
oleh Polresta Medan, Senen Perkul tidak ditahan.

“Polresta sudah menetapkan, Senen Perkul tersangka kasus penipuan dan
penggelapan. Bukti yang kuatnya, sesuai Surat Perintah Membawa
Tersangka dengan nomor : S.Pgl/3488-B/I/2016/RESKRIM untuk kepentingan
pemeriksan penyidikan tindak pidana dan perlu diambil tindakan hukum.
Tapi, tidak ditahan,” terang mereka.

Lebih jauh, Prayuda menjelaskan, dalam kasus tersebut, Senen Perkul
dikenakan Pasal 5 ayat (1) huruf b angka 4 Pasal 7 ayat (1) huruf g,
Pasal II, Pasal 112 ayat (1) dan ayat (2) KUHAP. Undang-undang Nomor :
2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI dan sesuai LP NO :
LP/1386/XII/2014/SPKT III tertanggal 11 Desember 2014 tentang tindak
pidana penipuan dan penggelapan dalam Pasal 378 dan RZE KUHP atas nama
pelapor, Binsar Napitupulu.

Sebelumnya, Polresta Medan melalui Kasat Reskrim, Kompol Aldy kepada
SUMUT24 mengatakan, kasus yang dialami Rudi, pihaknya melakukan
lidik.(sdr)