Jokowi Harus Tindak Oknum TNI AU Perusak Mesjid

862

MEDAN | SUMUT24

Tindak arogansi yang dilakukan oknum prajurit TNI AU Lanud Soewondo yang terekam dalam kamera pengawas atau closed circuit television (CCTV), satu masjid di Jalan Teratai, Sari Rejo, Medan Polonia, Medan. Tak hanya kepada warga sipil, oknum TNI itu juga merusak kotak infak masjid.

Terkait tindakan tersebut, pihak Majelis Ulama Islam (MUI) Kota Medan mengutuk dan meminta presiden beserta panglima TNI Gatot Nurmantyo untuk mengambil tindakan tegas terhadap oknum TNI AU yang bertindak brutal itu. Hal itu ditegaskan Wakil Ketua MUI Medan, Abdul Hakim Siagian, kemarin (20/8).

“Kami meminta Komandan dan Personel TNI AU Lanud Soewondo yang melakukan tindakan represif saat mengejar warga Sari Rejo sampai memasuki areal Masjid ditindak tegas. Kita sebelumnya juga telah mengadakan rapat bersama Forum Umat Islam (FUI) dan mengutuk tindak kekerasan yang dilakukan puluhan prajurit TNI terhadap Pengurus Masjid Al Hasanah ini,” tegas Abdul Hakim Siagian.

Abdul Hakim mengatakan, bukti rekaman CCTV tersebut sudah jelas menunjukkan bahwa ada oknum TNI AU yang melakukan tindakan keji. Menurut Abdul, lelaki paruh baya yang dibawa secara tidak manusiawi itu, merupakan Parno, Nazir Masjid Al Hasanah.

“Dalam rekaman tampak oknum TNI AU tampak membawa paksa Parno, Nazir Masjid Al Hasanah,” tegas Abdul Hakim.

Dalam rekaman berdurasi satu jam 24 menit itu, dua oknum prajurit tampak merusak kotak infak masjid. Pada pukul 16.19 WIB, seorang oknum TNI memukul kotak infak dengan menggunakan balok kayu. Kotak infak tersebut terletak di seberang masjid dan di pinggir jalan.

Tiga detik berselang, seorang rekannya ikut menendang kotak infak yang terbuat dari kaca itu. Beberapa prajurit sempat membantu seorang yang berasal dari dalam masjid dan mengumpulkan uang dari dalam kotak infak yang pecah itu.

Namun pada 16.25 WIB, seorang personel tampak mengantongi benda dari sekitar kotak infak itu. Sebelumnya, kaki prajurit tersebut seperti dengan sengaja menginjak sesuatu.

Kakinya pun kemudian menyeret-nyeret benda itu. Saat tak ada rekannya yang melihat, dia pun mengambil dan mengantongi benda tersebut. Tindakan arogan terhadap warga sipil juga tampak saat para prajurit itu berulang kali masuk ke halaman masjid.

Sebelumnya, pada pukul 16.17 WIB, seorang laki-laki paruh baya yang merupakan jemaah, tampak ditarik dari dalam halaman masjid. Pria berkopiah putih itu ditarik oleh seorang oknum TNI. Kerah baju bagian belakangnya ditarik layaknya mengangkat seekor kucing.

Sementara itu, hal senada juga dikatakan Ketua Formas Sarirejo Pahala Napitupulu. Menurutnya, ratusan personel TNI AU menyerang warga yang hendak pulang ke rumah masing-masing setelah demonstrasi. Tidak hanya merusak puluhan sepeda motor, TNI AU juga mengejar warga hingga kepermukiman.

“Patut kami sesalkan, seorang nazir masjid yang tidak berdemo, diseret dari dalam masjid ketika hendak Azan Asar. Bahkan dikeroyok hingga babak belur,” katanya.

Selain itu, kata Pahala Napitupulu, beberapa warga hanya bisa mengintip dari dalam rumah tatkala personel TNI AU mengeroyok Samadi. Berdasarkan informasi yang diterimanya, aksi pemukulan tersebut dipimpin langsung oleh perwira berpangkat melati dua.

“Nama perwira itu warga tidak tahu, karena tidak nampak. Berbahagia masyarakat karena tahu watak TNI AU jelang Hari Kemerdekaan ini. Presiden harus melek tentang masalah ini. Kami sebagai warga juga mengutuk tindakan TNI AU yang menganiaya wartawan,” ujarnya.

Ia menambahkan, adanya aksi demonstrasi warga akibat adanya pemasangan spanduk akan dibangun Rusunawa di atas tanah warga. Padahal, sengketa tanah antara TNI AU dengan warga telah berakhir. Warga sudah menangkan sengketa di Mahkamah Agung.

“Pada 3 Agustus 2016 terjadi gelombang massa, kemudian tadi pagi TNI AU kembali mematok tanah warga dan kemarin masyarakat berkumpul lagi. Ratusan warga menolak keberadaan patok-patok di atas tanah warga. Tanpa komando warga kembali berunjuk rasa,” ujarnya.

Dia menyampaikan, jelang petang, TNI AU menyerang warga hingga ke perkampungan dan menyerang warung-warung milik warga. Sedikitnya ada dua kali suara tembakan ke arah warga. Alhasil, satu warga menderita luka tembak peluru karet.

“Sikap saya sebagai pimpinan tidak dapat menerima perlakuan TNI AU supaya negara menindak mereka. Dan supaya pihak TNI AU maupun Armed bertanggungjawab mengganti 30 roda dua dan melakukan pengobatan warga dan mengganti alat wartawan yang dirusak,” katanya.
Tim Mabes TNI AU Usut Bentrok Sari Rejo

Sementara itu, Tim Investigasi Mabes TNI AU mulai melakukan penyelidikan terhadap bentrok warga Sari Rejo dengan anggota TNI AU Lanud Soewondo, kemarin (20/8).

Dalam penyelidikan yang dilakukan Tim Investigasi Mabes TNI AU mendatangi Masjid Al- Hasanah, Jalan Teratai, Kelurahan Karang Sari, Medan Polonia.

Menurut Pakpahan, seorang Pengurus BKM Masjid Al-Hasanah, meminta supaya kasus penyerangan yang dilakukan TNI AU Lanud Soewondo agar tidak terulang kembali. Sebab, selain warga, pengurus masjid juga menjadi korban penganiayaan yang dilakukan prajurti TNI AU.

“Anarkis kali prajurit-prajurit bapak (TNI AU) tersebut. Sanggup mereka menganiaya warga dan pengurus masjid yang tidak bersalah. Bahkan, mereka yang tidak tahu masalanya juga turut dihajar hingga babak belur,” tuturnya di hadapan Tim Investigasi TNI AU.

Selain menganiaya warga, sambung Pakpahan, anggota TNI AU juga menghancurkan dua kotak infaq yang ada di dalam masjid. Ironisnya, uang yang ada di dalamnya juga turut diambil prajurit.

“Melihat adanya keributan kami (BKM Masjid Al-Hasanah-red) sempat mengimbau melalui pengeras masjid agar prajurit TNI AU tidak menghajar warga. Tetapi, malah pengurus juga menjadi korban kekerasan,” ujarnya sembari meminta agar prajurti TNI AU yang terlibat aksi pemukulan warga ditindak sesuai proses hukum.

Sementara itu, Komandan Polisi Militer (Danpom) Koops AU I, Kolonel POM Bambang Suseno, mengungkapkan saat ini tim investigasi baik dari Mabes TNI mapun dari TNI AU sedang bekerja untuk mencari fakta terjadinya peristiwa tersebut.

“Kita masih mencari fakta-fakta dan keterangan warga yang menjadi korban. Namun, proses pemeriksaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, bisa berhari-hari bahkan membutuhkan waktu beberapa minggu,” jelasnya kepada awak media.

Usai mencari fakta-fakta kasus bentrok Sari Rejo, Tim Investigasi Mabes TNI AU langsung mengunjungi beberapa lokasi dan rumah warga yang dirusak anggota TNI AU.

“Belum bisa saya berikan keterangan. Nantinya fakta-fakta ini akan langsung saya sampaikan kepada pimpinan,” pungkas, Kolonel POM Bambang Suseno. (W07/R02)