Jalan Menuju Kecamatan Leuser Rusak Parah

Kutacane | Sumut 24
Jalan menuju kawasan pedalaman Kecamatan Leuser, Aceh Tenggara (Agara) masih dibiarkan rusak parah, tanpa pernah ada upaya diperbaiki. Kondisi itu membuat biaya angkut hasil pertanian dan lainnya menjadi mahal, sehingga berimbas pada turunnya harga hasil produksi para petani, sebaliknya harga pupuk naik.

Dilaporkan, panjang jalan menuju Kecamatan Leuser 40 km, namun yang diaspal baru 16 km, sedangkan 24 km belum tersentuh, karena hanya berlapis tanah, pasir dan batu. Padahal, jalan yang belum diaspal berliku-liku, tanjakan dan turunan curam, selain lubang bertaburan di sepanjang jalan itu.

Hamidan warga Desa Bun Bun Alas Kepada Sumut 24 Rabu (27/4) di Kutacane mengatakan jalan di daerahnya telah rusak bertahun-tahun, tetapi belum juga diperbaiki apalagi seperti musim hujan saat ini jalan tersebut tak ubahnya seperti kubangan kerbau . Disebutkan, hasil bumi para petani, seperti pisang, kemiri, jagung dan lainnya dibeli lebih murah untuk ongkos angkut dari ladang ke rumah sebesar Rp 600/kg.

Bahkan, dari rumah petani ke pasar kecamatan harus ditambah ongkos angkut Rp 150/kg, sehingga totalnya Rp 750/kg. “Para petani Leuser terus mengeluh, karena harga jual tidak sesuai lagi dengan ongkos produksi, karena dipotong untuk tambahan ongkos angkut sebesar Rp 750/kg,” katanya.

Dikatakan, luas area tanaman jagung di desanya sekitar 700 hektare dan setiap musim panen, seperti saat ini, sekitar 10 truk mengangkut jagung ke ibukota kecamatan setiap hari untuk dijual ke Medan, Sumut. Dia menambahkan, kondisi itu diperparah dengan naiknya harga pupuk, karena ongkos angkut mencapai Rp 35 ribu/zak dari ibukota kecamatan ke desa.

Hal senada juga diutarakan Awaluddin, salah seorang petani Desa Bunbun Indah. Dia berharap, Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemkab Agara agar membangun jalan, agar masyarakat tidak terus terbebani dengan mahalnya biaya angkut hasil pertanian.

Dia manambahkan fenomena lain di kawasan pedalaman Leuser. Masih banyak aksi perburuan satwa liar terus berlanjut tanpa terkendali, sehingga ikut meresahkan masyarakat dan petani di kawasan Leuser.

Bahkan Awalah mengungkapkan kawasan perburuan satwa liar di pedalaman Leuser meliputi Desa Bunbun Indah, Bunbun Alas, Serakut, Ukhat Peseluk dan sekitarnya. Dikatakan, para pemburu beraksi di antara kawasan pertanian dan kebun petani, sehingga dikhawatirkan dapat terkena peluru nyasar dari senapan angin saat tidur di pondok.

Dikatakan, buruan satwa liar yang dilindungi negara seperti hewan rusa dan kambing hutan menjadi target para pemburu liar jelang tengah malam atau saat warga sedang tertidur pulas.” Saya yang mewakili warga pedalaman Leuser meminta pihak kepolisian, Polda Aceh dan BKSDA mengawasi pedalaman Leuser, sehingga perburuan satwa liar dapat dicegah (jubel)