Isak Tangis dan Haru di Rembele Jokowi Bertemu Ayah dan Ibu Angkat

Takengon-SUMUT24

Ternyata, Presiden Joko Widodo memiliki rumah di atas lahan yang sekarang dibangun menjadi bandar udara (badara) Rembele, Takengon, Aceh Tengah yang barusan saja diresmikannya, Rabu (2/3).

Dihadapan undangan, Jokowi menyampaikan soal rumahnya yang digusur itu. Sebelum menjadi Wali Kota Solo, Jokowi pernah berkerja di Pupuk Iskandar Muda (PIM) dan tinggal selama dua tahun di sekitar Bandara Rembele.

“Tadi saya bisik-bisik dengan Menhub, Rumah saya dulu di sini kok hilang. Pak Ignasius Jonan (Menhub), langsung minta maaf, karena rumah saya telah digusur untuk pembangunan bandara. Mestinya minta izin sebelum digusur, ini minta izin baru tadi,” kata Jokowi tersenyum.

Meski rumahnya digusur tanpa izin darinya dan tanpa sepengetahuannya, Jokowi mengaku ikhlas karena untuk kepentingan umum. “Ini penting, karena bukan untuk kepentingan pribadi, apalagi bandara ini merupakan sarana yang mempersatukan kita melalui adanya konektivitas,” ucapnya.

Menurut Jokowi, pengembangan Bandara Rembele menjadikan bandara itu bisa didarati pesawat berbadan besar seperti Boeing 737. Tak cuma itu, pesawat dari Papua bisa langsung ke Aceh, tak perlu transit lagi.

“Saya sampaikan pembangunan harus dari pinggir ke tengah, bukan terpusat di Jawa, tapi harus Indonesia sentris. Inilah yang menyatukan kita,” tambahnya.

Makan Siang Sama Sahabat Lama

Pesiden Joko Widodo pernah tinggal dan bekerja di Aceh, tetap mengingat teman-teman lamanya saat bekerja di Aceh. Buktinya, kemarin, Jokowi menyempatkan bertemu dan makan bersama sahabatnya itu, di Rumah Makan Putri Simpang Tige, Jalan Rembele, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, kemarin (2/3). Lokasi rumah makan ini hanya berjarak sekitar 300 meter dari Bandara Rembele yang baru saja diresmikan Jokowi.

Ada sekitar 20 orang sahabat lama Jokowi yang dikumpulkan dan diajak berbicara sambil santap siang. Pertemuan berlangsung santai di rumah makan sederhana yang menjual masakan khas Gayo. Para sahabat Jokowi itu mengenakan ID bertuliskan ‘Sahabat’.

“Kami 6 orang satu divisi kehutanan dan bahan baku masuk pabrik,” ucap seorang sahabat Jokowi, Soelistyotomo usai pertemuan.

Soelis bercerita, perusahaan tempat dia dan Jokowi bekerja bernama PT Kertas Kraft Aceh (KKA) milik BUMN yang memproduksi kertas kantong semen. Jokowi bersama 5 rekan lainnya dikirim untuk bekerja di Aceh.

Jokowi yang kala itu sebagai supervisor untuk survei hutan dan potensi bahan baku kertas, bekerja dan tinggal di Aceh sekitar dua tahun yaitu pada tahun 1986-1988. “Bagi-bagi survei jalan dari Lhokseumawe sampai Aceh Tengah. Selain itu melihat potensi hutan dan perkantoran,” cerita Soelis.

Makan Malam Sama Wali Kota Tebingtinggi

Usai melakuan kunjungan kerja kenegaraan di Danau Toba – Prapat Kabupaten Simalungun, Presdien RI Joko Widodo (Jokowi) beserta rombongan menyempatkan diri singgah untuk makan malam di Kota Lemang Tebingtinggi-Sumatera Utara melalui jalan darat, kemarin malam pukul 21.00 Wib di RM Bayu Lagon Jalan Gatot Subroto Tebingtinggi

Wali Kota Tebingtinggi Ir.H Umar Zunaidi Hasibuan,MM mengatakan, ditengah-tengah jadwal yang sangat padat, Presiden RI Jokowi masih dapat singgah di kota Tebingtinggi khususnya untuk makan malam.

“Kedatangan Presiden RI ke kota Tebingtinggi khususnya untuk jamuan makan malam dan ini merupakan kebanggan tersendiri bagi masyarakat Tebingtinggi” kata Umar Zunaidi.
Kedatangan kepala negara untuk makan malam di kota Lemang itu disambut langsung Wali Kota Tebingtinggi Ir.H Umar Zunaidi Hasibuan, didampingi Unsur Muspida Plus dan Wakil Bupati Sergai, Dharma Wijaya.

Selesai jamuan makan malam, rombongan melanjutkan perjalan menuju Kota Medan. Saat melintasi inti kota Tebingtinggi tepatnya di Simpang empat Jalan Sudirman, Presiden menyepatkan diri berhenti dan turun menyalami warga yang menanti kedatangan orang nomor satu di Indoensia itu.

Melalui ajudannya, Jokowi membagi-bagikan buku kepada warga Tebingtinggi sembari mengatakan, “rajin-rajin belajar dan kerja-kerja-kerja,” ujar Jokowi. Banyak warga yang menanti disepanjang jalan itu ingin bersalam-salaman tapi hanya sebahagian warga yang dapat bersalaman dengan Preisden RI saat melintas di kota Tebingtinggi. (int/tav/ism)