IR H SOEKIRMAN MENGGAGAS MUTU WISATA SERGAI NAN MENAWAN

384

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum. Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA

YOKYAKARTA, SUMUT24.CO

Strategi kemajuan pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai Kabupaten Serdang Sumatera Utara digagas dengan cermat. Rapat koordinasi tentang peningkatan mutu wisata Sergai dilakukan pada hari Sabtu, tanggal 30 – 9 – 2017. Dari jauh Kabupaten dibahas dengan santai tapi serius. Pertemuan diadakan di Pesona Hotel Jl. Gadean 3 Yogyakarta. Telah hadir Ir. H. Soekirman, Bupati Sergai. Disertai lima pembesar kabupaten. 1) Drs. Dimas Kurnianto, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD). 2) Drs. Santun BS Nahor, Dinas Kepemudaan Olah Raga, Pariwisata dan Budaya. 3) Ikhsan AP, Dinas Komunikasi dan Informatika. 4) Drs. Akmal, M.Si., Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sergai. 5) Prihatinah S. Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai.

Tepat pukul 20.30 acara dimulai. Pak Bupati Ir H Soekirman memulai dengan kemajuan yang dicapai Kabupaten Banyuwangi. Lantas menceritakan rencana kunjungan Festival di Kali Bogowonto. Perlu diperhatikan tentang Festival Bogowonto. Mengapa ? dibanding dengan Bengawan Solo, Kali Serayu, Kali Opak, Kali Lusi, Kali Brantas ternyata kali Bogowonto kurang dikenal. Sama dengan Sungai Sei Ular yang tidak terkenal. Kedua sungai ini tidak punya seniman dan sastrawan yang unggul.

Kali Bogowonto dan Sungai Sei Ular jauh dari pemikiran. Jarang pemikir handal yang membuat wacana arti penting Kali Bogowonto dan Sei Ular. Ada hal penting di Kabupaten Sergai, Birokrasi, Bisnis, Partisipasi masyarakat, Stuktural. Berita yang menggembirakan : Potensi sumber daya alam laut, sungai, sawah, kebun sudah ada peradaban. Ditantang Kementerian Desa, pembangunan prioritas desa. Dirjen Desa mengenal SergaI. Empat komponen : Program unggulan desa, Embung desa, bendengan, BUMDes, Olahraga desa. Menteri Desa, Eko Prasojo menunggu aktivitas Sergai. Dirjen pun mendukung.

Infine time menjadi tonggak kekuatan. Dengan ide spontan barangkali malah program jalan. Contoh Festival Cabe di Korea yang bisa ditiru. Kini terpikirkan untuk membuat bendengan Sungai Ular. Supaya bisa dijadikan wisata air. Genangan itu bisa untuk hilir mudik perahu. Ide ini didukung oleh pemerintah Deli Serdang. Wisata desa akan mudah diwujudkan.

Time line dan sinergi yang menjadi kekuatan perlu dimaksimalkan. Visi dan misi Sergai, baru dilakukan alur birokrasi cuma bersifat prosedural. Sebaiknya birokrasi mau menyumbang problematika secara aktif. Bappeda sebagai excellent center harus member warning bagi kemajuan. Ego sektoral dihindari. Contoh yang perlu ditangani. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Lembaga ini kendalanya diurus secara profesional. Apalagi saat ini, yakni Pemerintah Pusat melalui Kementrian desa, menghendaki penyerapan anggaran. Serdang Bedagai tertantang dengan program Kementrian desa. Masalah lain contoh yakni Asosiasi Pedang Pekan. Pekan (AP3). Jangan sampai pasar dibangun malah mangkrak, tanpa ada penjual pembeli.

Siapa yang menjadi alamat penanggung jawab kegiatan ? BITRA, LSM bisa jalan. Program pemerintah kerap terhambat. Ini yang mesti dihindari. Memang ini tugas yang amat berat. Tapi harus bisa. Bupati sebagai pimpinan tinggal melakukan pembicaraan dengan rakyat dan pemerintah pusat. Kalau sudah dapat bantuan/perhatian tinggal melakukan penerapan. Berburu dapat rusa, tapi perlu tindakan lanjut. Siapa yang memotong, siapa yang marah. Kalau tidak, daging rusa itu busuk. Tidak boleh hal ini terjadi. Pemerintah Sergai pun mesti punya program jelas.

Pembahasan pariwisata meliputi produk power dan promosi serta policy. Saat ini tidak punya produk. Selama ini wisata mengandalkan barang jadi. Sudah ada secara alami, tanpa kehadiran pemerintah. Ini dihindari. Bagaimana gagasan ini bisa diwujudkan ? Bagaimana penerapan ? Wisata meliputi food, journey, trip, hiburan, seni, olahraga. Diskusi dan tukar pikiran kali ini sungguh menggugah semangat dan gerakan. Sebagai sarana sosialisasi teringat Paguyuban Suko Budoyo dan Dinas Pendidikan yang membuat lagu.

Sergai Jaya
Serdang Bedagai Tanah Bertuah Negeri Beradat
arah barat berbatasan Deli Serdang
Sei Rampah ibukota tampak megah
memang indah nian kiri kanan pertamanan
Ramah penduduknya semangat tekun bekerja
makmur pertanian perkebunan perdagangan
nikmati oleh oleh pasar Bengkel tersedia
Sergai Kabupaten dekat kota Tebing Tinggi.

Lagu itu memberi rasa optimis buat menatap masa depan. Sergai punya banyak modal. Introspeksi dan mawas diri bisa dilakukan oleh para birokrat. Jajaran birokrasi kerap terjebak dengan cara kerja kacamata kuda. Asal sesuai dengan tupoksi, tugas pokok dan fungsi, masalah dianggap selesai. Tidak ada unsur kreatif. Di sini kreativitas diperlukan sekali. Program seperti ini terjebak pada formalisme, rutinitas dan asal aman. Oleh karena itu Ir H Soekirman mengajak untuk berpikir reflektif.

Menanggapi saran Pak Bupati Ir H Soekirman, Kepala Bapeda, Bu Prihatinah mengusulkan supaya ada pendampingan. Bila perlu diberi konsultan dan akademisi dan praktisi. Pak Bupati memberi nasehat bijak. Tanpa dinas pariwisata Pantai Cermin tetap banyak pengunjung. Tanpa dinas pertanian tetap saja ada panen padi. Maka perlu semangat untuk kreativitas baru. Oleh karena itu Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Pembangunan Jangka Pendek (RPJP) dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) hendaknya terpadu antara desa dan pemerintah kabupaten.

Peserta mengusulkan agar diadakan Festival Sawit. Di Korea Festival Cabai sudah berlangsung selama 17 tahun. Serdang Bedagai untuk HUT tahun 2018 hendak mengadakan festival. Ada yang mengusulkan festival singkong. Masing-masing dikaji dengan teliti. Forum singkong nasional diajak rembugan. Agar diperoleh hasil yang baik dan memuaskan. Maka perlu belajar dan bekerja lebih keras lagi.

Paparan Ir H Soekirman disertai dengan kasus sukses wisata di beberapa kabupaten. Pameran konvensional yang dilakukan pemerintah ramai saat pembukaan. Antar penjaga stand saling berkunjung supaya tampak ramai. Kalau tidak begitu jelas sepi. Maka perlu disadari bahwa sistem teknologi sudah jauh maju. Orang tidak perlu lagi melihat secara manual. Cukup dengan on line, semua orang bisa menjalankan roda bisnis. Kebersamaan mutlak dilakukan. Pembesar Sergai hendaknya kerap bertemu untuk berdialog. Malaysia jadi wisata. Thailand jadi wisata. Indonesia bagaimana? Kerja keras dan belajar terus menerus. Masa depan terbuka untuk dikejar. Mimpi jadi kenyataan. Idealisme itu perlu dilakukan dengan fleksibel. Inilah perpaduan antara idealitas dengan realitas.

Kabupaten Banyuwangi maju wisatanya. Pulau Berhala di Sergai eksotik. Istimewa sekali. Karena terletak di luar. Fokus ke Tanjung Beringin. Kalau digarap serius pasti wisata di sana akan hidup. Tentara marinir bisa diajak kerjasama. Kelompok pemancing juga dilibatkan. Pulau Berhala ini digarap akan menjadi ikon Kabupaten Serdang Bedagai, hotel, kuliner, biro travel akan muncul dengan sendirinya. Kabupaten Sergai bisa belajar dari sukses daerah lain.

Paradigma baru semua pelaku wisata adalah orang desa. Perahu ferry milik orang desa. Pasti untungnya orang desa. Pemerintah tinggal menjadi fasilitator. Itulah cara mulia. Pemerintah kabupaten tidak harus memiliki. Fungsi pemerintah adalah regulator dan dinamis. Pemikiran Ir H Soekirman berdasarkan referensi dan pengalaman lapangan.

Ungkapan Pak Soekirman yang mengejutkan yaitu trust atau kepercayaan. Jepang maju karena kepercayaan. Korea maju karena kepercayaan. Terkait itu telah ada suasana yang menguntungkan. Karena pemilik sungai telah merestui. Ijin ini penting. Berarti dukungan terpegang tangan. Tempat ini bisa digunakan untuk upacara dan acara beragam. Pemerintah Sergai sungguh progresif. Memajukan rakyat. Wisata air dan wisata bahri berjalan beriringan. Masih terbuka peluang bagi warga Sergai untuk tampil lebih sukses.

Ir H Soekirman mengulas dengan contoh yang ada di Sergai. Kampung ulayan, kampung budaya, kampung tani menjadi sentra-sentra pariwisata di Sergai. Akomodasi, konsumsi, atraksi dan transportasi mendukung industri wisata. Hotel yang disediakan layak huni. Orang sedunia penasaran. Dari mana-mana akan datang ke Sergai. Desa menjadi investor. Artinya pengendali wisata bukan kaum kapital. Orang lokal aktif berperan. Dalam hal ini perlu diingat produk, price, promotion, power dan policy. Masa depan tampak lebih terarah. Kajian ini parlu disadari oleh segenap pemangku kebijakan di Kabupaten Serdang Bedagai Sumatera Utara.

Festival Bogowonto diselenggarakan pada tanggal 1 Oktober 2017. Ir H Soekirman hadir bersama tim Kabupaten Sergai. Banyak pengetahuan yang dapat dicerna dari kegiatan budaya. Menejemen wisata harus tampil lebih kreatif. Itu sebuah keharusan di era yang penuh kompetisi. Sergai perlu terobosan baru yang sesuai dengan keinginan pelaku wisata.

Desa wisata Jogoboyo diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Ganjar Pranowo, SH. Hadir pula Bapak Mentri Pariwisata Dr. Ilham Alamsyah. Tampak menyaksikan acara ini Bupati Serdang Bedagai Ir. H. Soekirman dan Bupati Purworejo H. Agus Bastian. Kali Bogowonto bermuara ke laut selatan. Tandyo Hangreksa Bumi Bogowonto, Gethek Emas Bogowonto menjadi acara puncak Festival Bogowonto. Pada hari Minggu Wage 1 Oktober 2017 acara di desa Jogoboyo Kecamatan Purwodadi Kabupaten Purworejo Jawa Tengah. Acara budaya yang terus digali. Barangkali budaya Sergai perlu juga digali dari perspektif historis sosiologis filosofis.

Dalam spanduk terpampang tulisan Dewi Jawa. Di belakang tulisan ini mengalir sungai Bogowonto. Muara akhir ke Pantai Selatan. Prau gethek hilir mudik sebagai sarana untuk wisata alam. Sungai yang jernih airnya cocok untuk menggalakkan tradisi rekreasi. Dinas Pariwisata Purworejo, Kementrian Pariwisata dan Asosiasi Penjaga Kali Bogowonto bekerja sama dalam acara Festival Bogowonto. Suatu saat ada Festival Sei Ular Perbaungan.

Kanan kiri kali Bogowonto pohon kelapa berjajar-jajar. Angin sumilir sejuk. Sinar matahari terang benderang dan langit tampak biru. Sementara awan tipis menghias angkasa raya. Orang-orang yang berdatangan dalam acara ini tampak bersemangat. Tak lupa para duta wisata. Partisipasi masyarakat diwujudkan dengan membuka stand pameran. Ada stand kuliner yang menyediakan ragam makanan. Gathot, thiwul, jenang, cenil, rengginang disediakan berlimpah ruah. Ada stand pakaian, kerajinan, hasil bumi. Keramaian ini disertai pula jenis kesenian lokal. Tari dan pakaian adat warna warni. Kesenian mampu meningkatkan citra wisata.

Gubernur Ganjar Pranowo menandatangani prasasti. Tak lupa Bupati Serdang Bedagai, Ir Soekirman tampak gembira. Acara seremonial dilanjutkan dengan ritual mecah kendhi. Di muara sungai Bogowonto mereka berharap ada keajaiban alam. Pentas seni disajikan dalam bentuk gerak dan lagu. Kesenian khas Purworejo yaitu Seni Dolalak. Penarinya dibuat cantik. Pakaian, sepatu, baju, topi, sabuk dibuat serasi. Dolalak seni kebanggaan orang Purworejo. Perlu dijaga agar lestari. Sekarang banyak tambahan musik modern. Sebaiknya tidak ada tambahan musik modern. Musik kontemporer mengurangi nilai sakral. Kewibawaan menjadi berkurang. Jangan sampai hilang. Pentas seni semakin semarak. Hingga pukul 15.00 sore. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini.

Makan siang di tepi kali Bogowonto bersama Bupati Sergai Ir. H. Soekirman. Kebetulan keluarganya dari Sigeluh Bagelen Purworejo. Meskipun dengan menu sederhana, tapi enak sekali. Berhubung energi terkuras saat arak-arakan gunungan. Sajian grebeg ini jelas pengaruh kraton. Tapi piranti yang cuma sederhana. Pengamatan atas menejemen wisata di Yogyakarta dan sekitarnya bisa diterapkan untuk meningkatkan mutu pariwisata di Kabupaten Serdang Bedagai. Rel

Ditulis oleh Dr. Purwadi, M.Hum, 9 Juli 2020
Jl. Kakap Raya 36 Minomartani Yogyakarta, HP 0878 6440 4347

Loading...