IBCSD dan CTSS IPB Dorong Kolaborasi dan Inovasi

IBCSD dan CTSS IPB Dorong Kolaborasi dan Inovasi.ist

Jakarta| Sumut24.co

Indonesia Business Council for Sustainable Development
(IBCSD) bersama dengan Center for Transdisciplinary and Sustainability Science (CTSS) IPB
University mengadakan dialog dalam bentuk IBCSD dan CTSS IPB Dorong Kolaborasi dan Inovasi, Kamis 16 Juni 2022.

Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi pertukaran ide dan juga pengalaman tentang kolaborasi multi
stakeholder dengan membawa inovasi dan teknologi yang dapat menjadi solusi yang lebih
baik, lebih tepat, dan efisien dalam mengurangi permasalahan susut dan limbah pangan.
Di Indonesia, studi Food Loss and Waste melaporkan bahwa kita membuang 23-48 juta ton
limbah makanan per tahun pada periode 2000-2019 yang mengeluarkan sekitar 82,26 Mton
CO2eq per tahun atau 7,29% dari total emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Indonesia. Ini setara
dengan kerugian ekonomi 213-551 Triliun Rupiah/tahun atau setara 4-5% dari PDB Indonesia
(BAPPENAS, 2021).

Yang artinya juga menyumbang sekitar 40,4%, dari total sampah
Indonesia pada tahun 2020 (KLHK, 2021). Dengan latar belakang inilah IBCSD bersama
CTSS mengadakan dialog dengan mengangkat isu susut dan limbah pangan.
Kepresidenan G20 Indonesia mengusung tema “Recover Together, Recover Stronger”. Untuk
mencapai pemulihan ekonomi yang lebih kuat, G20 telah memprioritaskan beberapa agenda,
seperti menekankan transformasi digital dan memasukkan pembiayaan berkelanjutan,
dimana hal ini juga akan membantu percepatan praktik pengurangan (Food Loss and Waste
(FLW) di industri terkait. Sementara itu, SDGs juga menetapkan target spesifik pada SDG
12.3, yaitu mengurangi separuh limbah makanan global per kapita di tingkat ritel dan
konsumen dan mengurangi kehilangan makanan di sepanjang rantai produksi dan pasokan,
termasuk pascapanen di tahun 2030.

Kegiatan dialog webinar ini di moderatori oleh Wida Septarina, Chairwoman Yayasan
Lumbung Pangan Indonesia dan diikuti oleh 125 peserta dari sektor bisnis, akademisi,
pemerintah dan lembaga sosial. Kegiatan ini merupakan bagian dari program IBCSD Gerakan
Atasi Susut dan Limbah Pangan 2030 (GRASP 2030) yang diluncurkan pada September
2021. Saat ini GRASP 2030 didukung oleh 20 signatory yang terdiri dari perusahaan dan
organisasi pendukung lainnya. Dialog ini merupakan forum agar para pemangku kepentingan
dapat saling berbagi pengalaman dalam mengatasi permasalahan susut dan limbah pangan.
Dalam sambutannya Ir Medrilzam, Direktur Lingkungan Hidup Bappenas menyampaikan
Pentingnya perubahan mindset dari semua pihak dari hulu ke hilir. Produksi tidak hanya fokus
hanya pada peningkatan produktivitas tetapi juga efisiensi.

Dalam permasalahan Food Waste
and Loss Masyarakat sebagai konsumen didorong untuk lebih bijak dalam konsumsi agar
dapat mengurangi mubazir pangan. Kolaborasi jd kata kunci terutama terkait pengelolaan
rantai pasok pangan perlu terus ada kolaborasi. Bappenas mendorong G20 dan T20 untuk
dapat dijadikan momentum knowledge sharing serta memberikan pemikiran inovatif berbagai
kebijakan baik di tingkat global maupun nasional Kemudian Prof Damayanti Buchori Direktur CTSS menyampaikan Bagiamana kerjasama
internasional dapat mendukung setiap negara mengatasi susut dan limbah pangan serta bagaimana pengurangan susut dan limbah pangan dapat meningkatkan produksi pangan dan berdampak positif pada perekonomian Dalam dialog disampaikan juga oleh Prof. Dr. Ir. Dominicus S. Priyarsono, akademisi dari IPB) bahwa permasalahan data Food Loss and Waste di Indonesia menyiratkan belum adanya awareness dan prioritas dalam mengatasi permasalahan ini.

Lebih lanjut Prof Sonny
menyampaikan bahwa dalam kolaborasi internasional, yang perlu didorongkan adalah upaya
mengurangi food rejection terkait quality control dan food safety. Sama pentingnya dengan
mengatasi hambatan non tarif handling dan mendorong koordinasi publik dan swasta.
Kemudian Dr Andriko Notosusanto memaparkan persaingan pangan global jadi tantangan
sendiri.

Food And Agriculture Organization (FAO) telah memberikan peringatan krisis pangan,
negara negara di dunia saling bersaing untuk dapat memenangkan persaingan pangan
global. di Indonesia gotong royong susut dan limbah pangan menjadi hal penting yang perlu
dilakukan mengingat besarnya jumlah pangan yg dibutuhkan dengan penduduk yang besar.
Upaya penanganan food waste lainnya yang perlu dilakukan antara lain memperkuat
komunikasi penggiat dan donator, memperkuat Focus Group Discussion untuk penyusunan
regulasi, membuat MoU dengan berbagai pihak, memfasilitasi pengurangan food waste,
edukasi serta kajian penyusunan database agar target penurunan menjadi clear
Hal lain yang kemudian disampaikan oleh M Agung Saputra, Managing Director Surplus
Indonesia.

Dijelaskan oleh Agung bahwa Surplus merupakan sebuah komunitas yang
awalnya menggabungkan sustainability dan teknologi dengan tagline surplus “Save Food,
Save Budget Save Planet” yang membuat program inovatif bagi para pengusaha yang
memiliki makanan sisa untuk dapat dijual dengan setengah harga. Dengan 500 volunteer
upaya Surplus merupakan bentuk CSR dengan mendistribusikan makanan berlenih bagi yang
membutuhkan.

Surplus juga merupakan bagian dari anggota steering committee Gotong
Royong Atasi Susut Dan Limbah Pangan 2030 yang merupakan program dari IBCSD.
Angelique Dewi, Head of Corporate Communication Division Nutrifood Indonesia, yang juga
merupakan anggota Steering Committee GRASP 2030, menjelaskan bahwa Nutrifood
Indonesia melakukan berbagai kegiatan yang dapat mengadopsi 3 pillar, people profit dan
planet. Hal lain yang mendasari dilakukannya upaya mengurangi susut dan limbah pangan
salah satunya dengan melakukan Food Loss Management dengan kerjasama dengan 6
foodbank di Indonesia yang juga berencana dijalankan di daerah lain, dan donasi yang
dihasilkan mencapai 4,5 ton susu bubuk dan 500 pax kelebihan pangan yang disebarkan ke
komunitas yang membutuhkan.

Angelique juga mengatakan bahwa mengurangi food loss perlu tetap memperhatikan faktor
kesehatan dari makanan yang diolah, selain itu perlu bersama sama melakukan edukasi
kepada masyarakat dalam upaya mengurangi food loss. Kolaborasi dapat ditingkatkan
melalui GRASP 2030 yang menjadi salah satu jembatan dalam mengatasi susut dan limbah
pangan.

Professor Sonny juga menyatakan dalam closing statementnya, bahwa diskusi ini
memberikan banyak informasi yang sangat bermanfaat dan menimbulkan optimisme. Inisiatif
yang disampaikan merupakan hal yang baru bagi para peserta, sehingga perlu dukungan
penuh pemerintah. Pemerintah perlu menjadi leader karena sudah menjadi kepentingan
umum.

Sebagai penutup Prof Sonny menyampaikan perlu solusi teknologi yang tepat yang dapat
mengubah waste menjadi pangan, tidak hanya pakan. Kerjasama internasional sangat
penting untuk saling berbagi informasi dan pengalaman dalam mengatasi susut dan limbah
pangan di negara masing-masing. Kebutuhan pangan indonesia semakin besar untuk
memenuhi kebutuhan pangan dengan jumlah penduduk yang besar, sementara jumlah lahan
sawah tidak bertambah.

Kita sangat mengapresiasi para penyedia kebutuhan pangan serta
para pihak yang menggalakkan kegiatan susut dan limbah pangan.
Dalam closing statementnya, Indah Budiani, Direktur Eksekutif IBCSD, mengatakan bahwa
kegiatan diskusi hari ini diharapkan dapat memberikan masukan untuk G20 melalui
penyusunan policy brief sebagai jalan keluar permasalahan FLW dalam mendorong
sustainable development. Dikatakan oleh Indah bahwa dengan adanya diskusi ini diharapkan
dapat memberikan rekomendasi kebijakan, yang dapat didiskusikan hingga ke tingkat
internasional.

Tentang IBCSD
Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD), asosiasi yang dipimpin
oleh para CEO yang memiliki komitmen bersama dalam mendorong pembangunan
berkelanjutan di Indonesia. Asosiasi berbagi komitmen untuk mempromosikan pembangunan
berkelanjutan melalui pertumbuhan ekonomi, keseimbangan ekologi dan kemajuan sosial.
IBCSD merupakan bagian dari WBCSD dan didirikan oleh 6 anggota pendiri IBCSD termasuk:
Bakrie Telecom, Bank Negara Indonesia, Medco Power Indonesia, Holcim Indonesia, Garuda
Indonesia dan PT Riau Andalan Pulp Paper. www.ibcsd.or.id/red/rel