Hari Ini, Poldasu Panggil 2 Tersangka,Kasus Pencemaran Nama Baik H Anif

MEDAN | SUMUT24

Hari ini, Senin (7/3), Kasubdit II Cyber Crime AKBP Yemi Mandagi membenarkan akan memanggil kedua tersangka penyebar berita fitnah H. Anif ini. “Sudah ada tersangkanya, pemilik Media Online, HS dan DS, pimpinan organisasi kepemudaan yang menyebarkannya melalui media sosial,” tegas Yemi Mandagi, kemarin (6/3).

Ditetapkannya DS sebagai tersangka berdasarkan hasil gelar perkara yang dilakukan Subdit II Cyber crime beberapa waktu lalu. DS sendiri diketahui dilaporkan karena telah mengutip pemberitaan tentang H. Anif dari salah satu website media online dan menyebarkannya ke salah satu jejaring media sosial. Pencemaran nama baik itu, dilaporkan Kuasa Hukum, H. Sandri Alamsyah Harahap SH pada 3 November 2015 dengan Nomor LP/1317/XI/2015/SPKT III.

Sedangkan pemilik atau penanggung jawab media online yang ditetapkan Poldasu sebagai tersangka, dikarenakan isi pemberitaan yang diterbitkannya tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.

Disinggung, setelah diperiksa kedua tersangka ini akan dilakukan penahanan, perwira berpangkat dua melati emas ini belum dapat memastikannya. “Belum dapat kita pastikan, namun kita harap mereka kooperatif dan datang untuk memenuhi panggilan,” ujarnya.

Sementara pemilik media online yang dihubungi wartawan kemarin, mengaku telah mengetahui bahwa dirinya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Poldasu.

Dirinyapun mengakui akan kooperatif dan memenuhi panggilan penyidik, karena dirinya dinilai tidak bersalah dalam kasus tersebut. Pemilik media online ini juga mengaku siap untuk mengakui kesalahannya jika memang terbukti bersalah dan bersedia meminta maaf kepada H. Anif, sekaligus menerima hukuman sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

“Selama ini Media Online Medanseru.co bukan saya yang memegangnya lagi. Itu sudah dibeli orang lain. Saya disini kecolongan, mereka tetap memakai nama saya sebagai penanggung jawab media tersebut, memang yang beli website medanseru itu masih adik-adik saya juga,” ujarnya.

Pemilik media online ini juga mengaku selama dilaporkan H. Anif sekira Nopember 2015 lalu, dirinya tidak mengetahui adanya laporan tersebut, dikarenakan dirinya ada di luar kota. “Saya aja baru tahu dilaporkan kira-kira sebulan yang lalu, ada seorang anggota saya yang mengabarinya. Jika memang dari beberapa bulan yang lalu saya sudah mengetahuinya, maka saya pasti akan langsung memenuhi panggilan Poldasu untuk meluruskan kasus tersebut,” ujarnya.

Disinggung mengenai dirinya kecolongan dan masih dianggap sebagai Penanggungjawab website medanseru.co walaupun sudah dibeli pihak lain, lantas pria yang pernah menjadi pimpinan di sejumlah media surat kabar harian di Sumut ini, mengaku bahwa dirinya selama ini sebenarnya tidak mahir mengelola teknologi internet. Selama mengelola medanseru.co, dirinya mempekerjakan orang lain untuk mengisi pemberitaan, dan setelah berita itu akan diterbitkan di media, biasanya dirinya membaca terlebih dahulu isi berita tersebut, kemudian meminta anggotanya tersebut untuk menerbitkannya.
“Saya ini sebenarnya gaptek (gagap teknologi), setelah dibeli websitenya, saya tidak pernah lagi melihat isi-isi pemberitaannya, anda kan tahu sendiri sewaktu kita sama-sama mengelola harian, email saya aja sekretaris yang buat, dan sampai sekarang saja saya tidak tahu membuka email,” ujarnya.

Penanggungjawab website medanseru.co ini juga menyayangkan tindakan Poldasu yang memblokir website medanseru.co, tanpa terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan manajemen pemilik website tersebut. Dikarenakan dirinya tidak dapat lagi mengumpulkan bukti-bukti bahwa dirinya tidak bersalah dalam kasus tersebut.

“Kemarin saya dihubungi pengelola website medanseru, kata mereka websitenya diblokir pemilik domain, mereka menghubungi pemilik domain, website ini ditutup karena tersangkut masalah hukum yakni saya dilaporkan ke Poldasu. Dari situ awalnya juga saya tahu saya telah dilaporkan. Namun jika Poldasu menutup website tersebut, bagaimana saya membuktikan bahwa diri saya tidak bersalah, selain website, email saya juga terblokir, facebook saya juga, jadi saya sulit untuk mengklarifikasi adanya keterlibatan saya dalam penerbitan berita H. Anif tersebut,” ujarnya.

Pria yang dikenal idealis ini juga mengaku sudah berkoordinasi dengan penyidik Cyber Crime Poldasu Kompol Jumanto SH, menurutnya pihak Poldasu juga akan membantu dirinya mencari jalan terbaik untuk meluruskan pemberitaan miring tersebut karena dinilai tidak terlibat dalam kasus tersebut.

“Saya sudah juga sudah berkoordinasi dengan pak Jumanto yang menangani kasus saya ini, dirinya pun akan mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan kasus ini secepatnya,” ujarnya.

Sementara Kompol Jumanto SH yang ditemui wartawan akhir pekan kemarin mengatakan, pihaknya akan melakukan mediasi persuasif terlebih dahulu, untuk mencari jalan keluar terbaik antara Penanggungjawab website medanseru dengan Pak H. Anif. “Saya hanya ingin memediasikan mereka terlebih dahulu untuk mencari jalan yang terbaik, mudah-mudahan kasus ini dapat selesai dan memberikan yang terbaik terhadap terlapor dan pelapor,” ujarnya.

Menurut perwira berpangkat satu melati emas ini, dirinya sudah melayangkan surat pemanggilan terhadap kedua tersangka ini. Dan dijadwalkan hari ini akan dilakukan pemeriksaan. “Senin tanggal 7 Maret, mereka saya harapkan dapat datang ke Subdit II Cyber Crime,” pintanya.

Kompol Jumanto juga menerangkan, dalam kasus ini kedua tersangka dijerat pasal 27 ayat (3) yo pasal 45 ayat (1) UU RI No 11 Tahun 2008, tentang ITE yang berisikan dugaan perkara tindak pidana setiap orang dengan sengaja, dan tanpa hak mendistribusikan dan atau mentrasmisikan dan atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik, dan atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik. (SL)