Harga Daging Tidak Terjangkau Umat

0
874

JAKARTA | SUMUT24
Permintaan Presiden Jokowi dalam Ratas Kabinet pekan ini mengenai harga daging untuk tidak naik menjelang dan saat lebaran sulit direalisasikan.

Pasalnya, persoalan sapi dan daging sapi selalu menjadi pembicaraan publik juga merupakan kebutuhan dasar masyarakat apalagi saat menjelang puasa, lebaran, dan hari hari besar keagamaan. Pada saat saat seperti ini, harga daging sering melonjak naik di luar kendali, bahkan kenaikannya bisa diatas 30 persen dari harga daging pada hari hari biasanya.

Sebenarnya, kebijakan Impor merupakan aib Negara kita sendiri, apalagi Indonesia sedang mencanangkan dan fokus pada cita cita terwujudnya kedaulatan pangan. Namun demikian, meskipun Indonesia sudah menentukan cita cita kedaulatan pangan, termasuk di dalamnya adalah kedaulatan daging, akan tetapi realita lapangan masih menunjukkan bahwa Indonesia belum siap untuk mewujudkannya.

Sebagai bahan referensi, setiap tahunnya kebutuhan daging kita pada tahun 2015 adalah 654.000 Ton, setara dengan 5,45 juta ekor sapi. Sementara populasi sapi kita di tahun yang sama hanya 15,5 juta ekor yang terdiri dari 5,5 juta ekor sapi siap potong, 6 juta ekor bakalan, dan 4 juta ekor indukan. Itupun 80 persen populasi sapi adalah milik peternak rakyat yang tidak bisa dipaksa untuk menjual ternaknya sewaktu negara membutuhkan.

Meskipun kita belum bisa lepas dari impor sapi, akan tetapi kita harus tetap hati hati dan berpikir strategis agar tujuan utama dari impor untuk menjaga stok, distribusi, dan menstabilkan harga daging itu bisa tepat sasaran. Sehingga impor tidak semata mata menguntungkan pengusaha saja.

Tahun 2015 lalu, Pemerintah sempat membatasi kuota impor sapi, akan tetapi pembatasan itu sudah dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Berdasarkan kebutuhan daging sapi per kapita yang 2,56 Kg/Tahun, maka kebutuhan daging sapi nasional kita adalah 2,56 x 255.461.700 Jiwa, yakni 654.000 Ton.

Sementara berdasarkan data dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, produksi daging sapi lokal mencapai 523.927 Ton, atau defisit daging sapi sebesar 130.073 Ton. Atas perhitungan itulah Pemerintah memutuskan untuk mengimpor daging sapi sejumlah 214.690 Ton, dengan perincian 83.260 Ton dalam bentuk daging, dan 131.430 Ton dalam bentuk sapi sejumlah 773.149 ekor.

Dengan perhitungan di atas, logikanya justru harga daging bisa lebih murah, karena stok daging sapi lokal ditambah dengan daging sapi impor jumlahnya berlimpah dan melebihi kebutuhan daging secara nasional. Namun demikian, harga daging di pasaran ternyata tetap tinggi sampai menembus angka di atas 130 ribu/kg dari yang biasanya 80 ribu/kg. Itupun importir masih menekan dan menyalahkan pemerintah untuk menambah kuota impor. (okz)