Fortiboost D3, Vitamin D dari Combiphar Bantu Perkuat Daya Tahan Tubuh, Kunci Untuk Beraktivitas

242

Jakarta I Sumut24.CO
Memasuki tahun yang baru dan semangat baru, masyarakat saat ini telah kembali melakukan aktivitas di luar rumah. Agar dapat tetap produktif, kesehatan menjadi kunci. Karenanya, bersamaan dengan situasi pandemi yang masih berlangsung, masyarakat harus memberikan perhatian lebih dalam menjaga daya tahan tubuh melalui asupan yang kaya akan vitamin, khususnya vitamin D.
Memahami hal tersebut, hari ini (13/1) Combiphar, perusahaan nasional terdepan di bidang consumer healthcare, berbagi informasi tentang efek defisiensi vitamin D dan langkah preventif yang dapat masyarakat lakukan, sekaligus menandai peluncuran Fortiboost D3 1000 IU.

“Masyarakat harus dapat terus menjaga serta meningkatkan daya tahan tubuh secara menyeluruh dan konsisten, tidak hanya karena pandemi belum berakhir hingga hari ini, namun juga ketika situasi dan kondisi telah kembali normal nanti. Karenanya, pada hari ini Combiphar menghadirkan sebuah produk yang dapat membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan vitamin D dalam tubuh, agar senantiasa sehat, aktif, serta produktif, yakni Fortiboost D3. Kehadiran produk terbaru ini menegaskan komitmen Championing a Healthy Tomorrow yang terus menerus diusung oleh Combiphar, untuk memotivasi masyarakat agar melakukan langkah-langkah preventif guna memaksimalkan kesehatan kini dan nanti,” ujar Weitarsa Hendarto – Senior Vice President Marketing & International Operations Combiphar.

Hal yang belum banyak diketahui oleh masyarakat adalah meningkatkan daya tahan tubuh tak hanya cukup dengan berolahraga, namun juga harus memperhatikan asupan yang dikonsumsi sehari-hari, termasuk pemenuhan vitamin, khususnya vitamin D. Kurangnya informasi tentang bagaimana cara yang tepat dalam memenuhi kebutuhan vitamin ini tak elak membuat kadar vitamin dalam tubuh pun menjadi tidak optimal dan menimbulkan risiko kesehatan pada tubuh. Bahkan, Asia Tenggara menjadi salah satu wilayah dengan prevalansi defisiensi vitamin D tertinggi, yakni hingga 70% .

Dijelaskan olehdr. Adam Prabata – General Practitioner & PhD Candidate in Medical Science, “Kurangnya kadar vitamin D dalam tubuh, umum dialami oleh masyarakat, namun kebanyakan orang tidak menyadarinya akibat keluhan yang dirasakan sangat ringan, bahkan tidak ada keluhan sama sekali. Banyak faktor yang dapat menjadi penyebab defisiensi vitamin D, yakni: faktor fisiologis, seperti usia dan kondisi kesehatan, termasuk obesitas dan atau tubuh tidak dapat menyerap cukup nutrisi dari makanan; tidak mendapatkan paparan sinar matahari yang memadai – dilihat dari kebiasaan berpakaian, penggunaan tabir surya, dan gaya hidup dengan aktivitas luar ruangan yang terbatas; serta kurangnya asupan makanan yang mengandung vitamin D. Tentu hal ini pada akhirnya berdampak pada kesehatan, khususnya daya tahan tubuh.”

“Beberapa gejala defisiensi vitamin D yang dapat ditunjukkan oleh tubuh di antaranya: rendahnya daya tahan tubuh sehingga lebih mudah terkena infeksi, sering merasa lelah, sakit tulang dan otot, sertapenyembuhan luka terganggu atau lama. Tak hanya itu, risiko terhadap penyakit lain juga bisa meningkat, seperti gangguan autoimun, diabetes, penyakit kardiovaskular dan kanker, serta komplikasi terkait kehamilan. Anak-anak yang mengonsumsi ASI dengan vitamin D yang tidak memadai pun memiliki risiko kemungkinan menderita rakhitis. Oleh sebab itu, langkah-langkah khusus untuk menghindari terjadinya defisiensi vitamin D ini sangat dibutuhkan, agar mampu meningkatkan daya tahan tubuh, sekaligus menjaga tubuh dari penyakit,” tambah dr. Adam Prabata.

3 langkah yang dapat dilakukan oleh masyarakat guna mencegah terjadinya defisiensi vitamin D, yakni:
1.Melakukan pengecekan kadar vitamin D secara berkala – pemeriksaan kadar vitamin D rutin 6 (enam) bulan sekali bisa dilakukan untuk mengetahui kadar vitamin D dalam tubuh, di mana normalnya adalah 25-80 ng/mL.
2.Memperbanyak kegiatan di luar ruangan dan mengonsumsi makanan dengan kandungan vitamin D – memperbanyak kegiatan di luar ruangan, seperti berolahraga, dapat membantu tubuh mendapatkan paparan sinar UV-B dari matahari, di mana diharapkan kulit yang diinduksi oleh sinar UV-B ini dapat memproduksi vitamin D. Jangan lupa perhatikan waktu dan berapa lama hal tersebut sebaiknya dilakukan.Pemenuhan vitamin D juga dapat berasal dari makanan yang kita konsumsi, seperti salmon, tuna, hati sapi, serta jamur.
3.Mengonsumsi suplemen vitamin D – karena memastikan makanan yang dikonsumsi hanya dapat memenuhi 20% kebutuhan vitamin D dalam tubuh dan berjemur tidak cukup untuk memenuhi 80% sisa kadar vitamin D yang dibutuhkan sehari-hari secara optimal, maka suplementasi sangatlah dibutuhkan. Di mana, vitamin D3 lebih disukai sebagai suplemen dibandingkan D2, karena lebih lama bertahan di darah, serta mampu meningkatkan kadar vitamin D dan menjadikannya bentuk aktif untuk berbagai aksi penting bagi sel-sel tubuh. Karenanya Vitamin D3 1000 IU cukup ideal dikonsumsi untuk menjaga kadar vitamin D tetap optimal, sekaligus mencegah terjadinya defisiensi vitamin D.

Dengan sifat anti-inflamasi dan imunoregulasinya, vitamin D berguna untuk aktivasi pertahanan sistem kekebalan tubuh, sehingga berperan penting dalam pencegahan terhadap infeksi, penyakit, dan gangguan terkait kekebalan tubuh. “Bahkan terdapat pula sebuah studi yang menyebutkan secara spesifik bahwa pasien dengan kadar serum D3 yang optimal kurang lebih 50 ng/mL, berasosiasi dengan kemungkinan yang sangat kecil untuk mengalami konsekuensi fatal akibat Covid-19. Penggabungan vaksinasi dengan penguatan sistem kekebalan tubuh melalui konsumsi suplemen vitamin D3 secara konsisten berpotensi membantu mencegah risiko-risiko berat virus corona, terutama dengan masuknya varian Omicron sejak pertengahan Desember 2021”, ujar dr. Adam Prabata.

Lebih lanjut, Weitarsa Hendartomenyampaikan, “Fortiboost D3 mampu memenuhi kebutuhan vitamin D pada kondisi tertentu, seperti ibu hamil dan menyusui, kalangan lanjut usia, kalangan yang berisiko tinggi dan penderita penyakit infeksi atau autoimun. Formula bebas gluten yang dimiliki Fortiboost D3 juga menjadikan produk ini aman bagi masyarakat yang sensitif terhadap gluten, serta bisa menjadi pilihan masyarakat untuk perkuat daya tahan tubuh dan tetap mempertahankan kesehatan di tengah kondisi pandemi yang masih terus berlanjut dan ketika situasi kembali normal.”

Dalam kesempatan ini, Combiphar juga memperkenalkan Astrid Tiar sebagai brand ambassador Fortiboost D3 1000 IU. Astrid Tiar membagikan pengalamannya, “Sebagai seorang Ibu, saya sangat peduli dengan daya tahan tubuh keluarga dan anak terutama di saat mereka sudah mulai aktif beraktivitas kembali. Saya menyadari bahwa tanpa makanan yang kaya akan zat gizi, anak-anak tidak akan tumbuh dengan optimal dan daya tahan tubuh seluruh anggota keluarga tidak dapat terjaga. Selain itu, saya juga selalu membiasakan keluarga untuk berjemur dan berolahraga di luar rumah, mengonsumsi air putih yang cukup serta melengkapi kebutuhan vitamin dalam tubuh dengan menyediakan suplemen vitamin di rumah, salah satunya adalah vitamin D. Senang sekali sekarang telah hadir Fortiboost D3 di tengah-tengah kami. Karena, dengan kandungan vitamin D3 1000 IUnya, Fortiboost D3 praktis, tidak memerlukan air untuk mengonsumsinya, sebab tersaji dalam bentuk tablet kunyah rasa vanila dan bebas gluten.”

“Untuk mengambil keputusan yang tepat agar mampu merawat keluarga dengan semakin baik lagi, termasuk dalam memilih brand kesehatan, seorang perempuan, apalagi ibu, harus dibekali dengan pengetahuan dan wawasan yang luas. Brand-brand yang kerap memberikan edukasi, tidak hanya mengenai keunggulan produknya semata namun juga tentang kesehatan secara umum seperti yang dilakukan oleh Fortiboost, dapat menambah pengetahuan ibu untuk lebih optimal menjaga kesehatan keluarganya,” imbuh Astrid Tiar. (red)