Dongeng Tentang Lidah

Choking Susilo Sakeh; jurnalis, warga Kota Medan, Sumatera Utara./ist

Medan | Sumut24.co

ALKISSAH, Sang Maha Penguasa sengaja menciptakan lidah itu tidak bertulang. Dan lidah, yang salah satu fungsinya adalah untuk membantu berbicara, teksturnya pun dibuat lentur dan lembut. Bayangkan, bagaimana sulitnya kita berbicara andai lidah itu bertulang dan kaku

Namun, kelenturan lidah ini tidaklah berarti pemiliknya bebas seenak udelnya saat mempergunakan lidahnya untuk berbicara. Sebaliknya, kelenturan lidah tersebut mesti membuat pemiliknya berhati-hati saat menggunakan lidahnya untuk berbicara.

Lidah pun diletakkan di bagian kepala, tempat dimana otak juga ditempatkan di situ. Artinya, saat lidah dipergunakan untuk berbicara, maka pemilik lidah harus juga melibatkan otaknya. Intinya : Lidah memang tidak bertulang. Sebab, saat dipergunakan untuk berbicara, maka yang dibutuhkan adalah otak, bukan tulang!

Sang Maha Penguasa pun meletakkan posisi lidah berjauhan dengan lubang anus, tempat pembuangan kotoran. Maknanya cukup jelas, yakni agar kita bisa dengan gampang membedakan, mana bicara dan mana mencret.

Sekarang, ayo kita membayangkan saat masa-masa kampanye baik pilkada, pilpres dan pileg. Putar ulang, bagaimana para calon berlomba-lomba berbicara muluk, manis bahkan terkesan seenaknya. Misalnya, semacam ini : “Kalok aku memang, aku janji, tidak akan ada lagi jalan yang berlobang. Bahkan, langitpun akan aku aspal!”.

Atau, bayangkan juga saat seorang calon berhasil menang dan menjadi pemimpin daerah. Ada pemimpin daerah yang bicaranya terus menimbulkan kegaduhan, sementara hasil kerjanya nihil sama sekali. Ada pula pemimpin daerah yang isi bicaranya sama dengan isi kebun binatang. Ada juga pemimpin daerah yang bicaranya cuma tentang “kalau” dan “akan” melulu, dan seterusnya dan seterusnya.

Meriah-ruah

Hujan selama sekitar dua jam pada Jum’at malam (18/11) kemarin, membuat hampir semua wilayah Kota Medan digenangi air — kata lain dari banjir — meski

selama ini banyak wilayah tersebut tak pernah tersentuh banjir. Banjir kali ini memang terasa meriah-ruah, murah meriah bahkan gegap gempita.

Misalnya : seiring gerakan “mengepel massal” warga Kota Medan, maka di media sosial ramai pula berlalu-lalang video Bobby Nasution-Aulia Rahman saat masa kampanye Pilkada Medan 2020 lalu. Terkhusus, ucapan Bobby-Aulia tentang banjir, jalan berlobang dan korupsi di Kota Medan. “Mau Medan bebas banjir, pilihlah Boby- Aulia!”, demikian kurang lebih pernyataan mereka di video yang ramai beredar tersebut.

Aku tak berani menilai ucapan Bobby-Aulia tersebut. Yang pasti, ucapan mereka itu, mampu ‘mengalahkan’ kegaduhan ucapan Gubsu Edy Rahmayadi, yang kembali meng-gas warna kuning saat acara Temu Ramah Kebangsaan Partai Gerindra (Jum’at, 18/11), di Medan. “Eh, yang kuning, kenapa tidak bermartabat kau?”, kurang lebih ucapan Edy.

Edy sendiri, cukup dikenal sebagai Gubsu yang paling sering mengeluarkan ucapan yang bikin gaduh. Selama lebih empat tahun memimpin Sumut, sosok Edy Rahmayadi viral bukan karena hasil kerjanya yang mengagumkan, melainkan karena ucapan yang selalu bikin kegaduhan.

Arkian, kemahasempurnaan lidah yang diciptakan oleh Sang Maha Penguasa, Tuhan Semesta Alam — baik karena teksturnya yang tidak bertulang, maupun posisinya di dekat otak dan tidak di dekat lubang anus — semestinya mengajarkan kita untuk tidak mempergunakan lidah asal ceplos saja. Lagipula, kualitas dan martabat seseorang itu sangat ditentukan oleh lidahnya, bukan oleh pangkat, jabatan dan keluarganya.

Mangkanya…

Choking Susilo Sakeh; jurnalis, warga Kota Medan, Sumatera Utara.