DKM Kerjasama Amanda Production Putar Film Macapat

565
Ketua DKM Rianto Ahgly SH saat diskusi film usai pemutaran film Macapat di Gedung Utama Taman Budaya Sumut, Kamis (19/7) dan ditonton sekitar 400 penonton pelajar dan umum. Skenario Amanda dan sutradara Alex Latief serta Pengurus DKM foto bersama. SUMUT24/ist

MEDAN | SUMUT24

Bekerjasama dengan Dewan Kesenian Medan (DKM) Amanda Production memutar film Macapat di Gedung Utama Taman Budaya Sumut, Kamis (19/7) dan ditonton sekitar 400 penonton pelajar dan umum. Film Macapat cerita dan skenarionya ditulis oleh Amanda dan disutradari Alex Latief.

Usai pemutaran film, panitia dari Komite Film DKM yang dipandu oleh Manu Ginting, langsung menggelar forum diskusi. Berbagai tanggapan baik dari seniman maupun pelajar mewarnai diskusi tentang film berdurasi 30 menit tersebut.

Film Macapat bergenre semi dokumenter yang bercerita tentang budaya leluhur Jawa tentang puisi tradisional Jawa yang dikenal dengan sebutan “Macapat”. Yaitu tentang syair-syair yang berisi mengenai nilai-nilai luhur dan kebaikan. Biasanya oleh masyarakat Jawa selalu ditembangkan, jika suasana hati lagi risau.

Amanda kemudian mengambil unsur-unsur dari Macapat ini untuk mengajarkan kepada genarasi saat ini yang dianggap sudah melampaui batas kesopanan. Bail Amanda maupun Alex Latif, ingin menyampaikan bahwa nilai-nilai tersebut sudah semakin tergerus. Anak-anak muda sudah jauh meninggalkan budaya leluhur terutama di masyarakat Jawa.

Adalah Soko dan Aryo dua pemeran dalam film ini. Keduanya berwatak mirip dan terjerumus dalam pergaulan bebas. Terbawa arus zaman yang begiru deras. Namun salah satu dari watak ini, akhirnya menyadari kalau perbuatan mereka sudah melampaui batas.

 

Sejak kecil keduanya sudah berteman karib. Namun, keduanya digambarkan sebagai watak durja. Kenakalan keduanya sudah kelewat batas. Mencuri buah dari keranjang penjual buah. Membunuh anak burung dengan sadis, melempar anak-anak gadis dan sejumlah kejahilan lainnya.

 

Itu mereka lakoni hingga dewasa. Bukannya bertobat mereka semakin bejat. Berjudi, merampok uang pengemis, melakukan pergaulan bebas. Sampai-sampai mereka dikeroyok sejumlah preman, lantaran berjudi dengan curang dan melarikan uang sum.

Kesadaran mulai muncul setelah keduanya babak belur dipukuli preman di meja judi. Lalu Soko meninggalkan Aryo dan ergi entah ke mana, tak ingin lihat muka sahabatnya itu lagi.

Di akhir cerita, Soko datang ke rumah Aryo. Dia membawa istrinya, ke duanya pun menangis berpelukan.

Nyaris tak ada yang luar biasa dari film ini jika saja penggarapannya tidak sedikit “nyastra”. Alex Latif menyiasatinya dengan seorang ayah (yang juga Karyo) menembang syair-syair Macapat. Film ini menjadi tidak ringan dan terasa unik sebagai film tontonan remaja yang juga bisa ditonton orang dewasa.

Ketua DKM, Rianto Ahgly SH menyampaikan kegembiraannya dapat bekerjasama dengan Amanda Production. Apalagi kata dia, Alex Latif di Medan bukan orang lain. Alex Latif adalah seniman Medan yang kemudian merantau ke Jakarta.

“DKM sengaja mendatangkan Alex Latif dan menanggung pembiayaannya secara non APBD. Kita butuh pemutaran film yang dibuat oleh sineas-sineas yang berasal dari Medan untuk kemudian kita diskusikan bersama-sama,” ujar Rianto Aghly. (R05/red)

Loading...