Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi: Perang Melawan Teroris Pajak

743

Medan | Sumut24
Direktur Jenderal Pajak Ken Dwijugiasteadi mulai saat ini menyatakan, “Kami perang melawan teroris pajak,”. Hal itu ditegaskannya, Kamis siang (14/4) saat melayat ke rumah mendiang Parada Toga E Siahaan di Jalan Air Bersih Medan, salah satu dari dua korban pembunuhan yang dilakukan wajib pajak di gudang getahnya di Jalan Yos Sudarso, Desa Moawo, Kec. Gunung Sitoli.

Kedatangan orang nomor satu di Direktorat Jenderal Pajak itu ke rumah duka untuk menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian dua petugas pajak yakni Almarhum Parada Toga E Siahaan dan petugas honorer (Satpam) Sozanalo Lase, saat dalam bertugas sebagai jurusita di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Sibolga, Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Sumut II.

Selain itu, Ken juga menyatakan Ditjen Pajak memberikan kenaikan pangkat istimewa terhadap mendiang Parada (30), diberi rumah untuk keluarga dan asuransi pendidikan buat anaknya. Parada meninggalkan seorang isteri , Corry Lubis (28) yang kini tengah hamil 4 bulan, anak pertama mereka.

“Kami juga memberikan perhatian penuh kepada mendiang Sozanalo Lase,” kata Dirjen Pajak. Sedangkan sebagai PNS, Parada juga mendapat dana santunan Tunjangan Hari Tua (THT), kecelakaan kerja dari Taspen sebesar Rp196 juta.

Ken menjelaskan kedatangan mendiang Parada Siahaan ke Desa Moawo, Kec. Gunung Sitoli dalam rangka menyampaikan surat paksa kepada AL, WP penunggak pajak tahun 2010-2011 sebesar Rp14,5 miliar. Surat paksa itu merupakan salah satu tahap dalam kegiatan penagihan aktif. Pajak merupakan sumber utama penerimaan negara dan seluruh petugas pajak yang melaksanakan pembinaan, pemeriksaan, penagihan dan penegakan hukum memegang peranan sangat strategis dalam menguumpulkan penerimaan pajak serta meningkatkan kepatuhan wajib pajak.

Dirjen mengakui pihaknya sudah meneken MoU dengan Kepolisian untuk mendampingi petugas pajak bersama juga dengan TNI dalam menjalankan tugasnya di lapangan, terutama di daerah rawan. Namun saat naas terjadi, Parada dan Lase menganggap tugas yang dilakukannya masih aman-aman saja, apalagi ditemani Satpam yang asli dari Nias.

“Masalah ini sudah kita serahkan ke aparat kepolisian. Tapi kami ingin kasus ini diusut tuntas sesuai juga dengan perintah Bapak Presiden Jokowi. Kami tak ingin kasus ini hilang begitu saja dan keamaman perlu terus dijaga,” tegas Ken.

Masalah tunggakan pajak Rp14,5 miliar, menurut Ken, penetapannya sudah dilakukan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dalam melalui audit. Sedangkan untuk jurusita hanya 2 orang di 6 kabupaten (Kanwil DJP Sumut II) dianggap masih sedikit. “Kami berharap pemerintah dapat memberikan kewenangan penuh untuk merekrut jurusita,” katanya.

Pembunuhan dua petugas pajak itu dilakukan wajib pajak berinisial AL Senin. 12 April 2012 sekira pukul 12.00 WIB. Peristiwa iniĀ  menyedot perhatian Presiden RI Joko Widodo dan masyarakat di Indonesia karena dinilai sangat sadis, dilakukan di siang bolong di mana petugas pajak itu dalam tugas mengumpulkan penerimaan pajak untuk negara.

Saat ke rumah duka, Dirjen PajakĀ  Ken Dwijugeasteadi antara lain bersama Direktur Peraturan Pajak II Prof Jhon Liberty Hutagaol, Direktur P2 Humas Satria Mekar Utama, Kakanwil DJP Sumut II Yusirwan dan Kakanwil DJP Sumut II. Hadir Direskrimum Kombes Pol Dono Indarto dan anggota DPR RI Nurdin Tampubolon. Mewakili keluarga dr Robert Siahaan menyatakan pihaknya berharap masalah ini dapat diusut tuntas. Jenazah mendiang Parada Kamis (14/4) dilepas dengan acara militer dan dimakamkan di Pekuburan Kristen Patumbak.

Direskrimum Polda Sumut Kombes Pol Dono Indarto mengatakan pihaknya sudah menangkap 10 orang dari peristiwa tersebut. Namun dari jumlah 10 itu, pemeriksaan mengerucut kepada empat orang saja.

Kejadian itu bermula, saat Parada datang ke gudang AL untuk memberikan surat sita kepada pengusaha getah karet itu. Parada disuruh duduk di pondok luar rumah. Pelaku AL masuk ke dalam rumah dan keluar sudah membawa pisau ujung runcing serta langsung menusukkannya ke tubuh Parada dan Lase. Ternyata empat orang lainnya yang merupakan pegawai AL, ikut membantu dengan melemparkan batu ke tubuh korban. Nyawa keduanya tidak tertolong. “Kini alat bukti pisau ujung runcing sepanjang 28 cm dan batu sudah kami amankan,” jelas Kombes Indarto. (W04)

Loading...