Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Dr. Hilmar Farid,Wujudkan Kebudayaan yang Inklusif

MEDAN | SUMUT24

Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud, Dr. Hilmar Farid saat dialog dengan peserta Musyawarah Kesenian Medan mengatakan, acara ini semoga dapat mewujudkan kebudayaan yang inklusif.

“Kebudayaan yang inklusif itu tujuan kita bersama. Saya ingin membangun kebudayaan yang inklusif, yang melibatkan semua pihak. Sesuai dengan garis yang sudah disampaikan Presiden Jokowi, fokusnya adalah membangun Indonesia dari pinggiran,” ujar Dr Hilmar Farid saat dialog dengan peserta Musyawarah Masyarakat Kesenian Medan ke-I, di Hotel Dharma Deli Medan, Sabtu (26/3).

Dikatakan pria kelahiran Bonn, Jerman Barat, 8 Maret 1968 ini, selama ini kegiatan kebudayaan lebih banyak berlangsung di pusat atau di daerah perkotaan. Karena itu dirinya sangat menginginkan agar kegiatan kebudayaan juga bisa dilakukan di desa-desa di berbagai wilayah tanah air.

Melalui pembinaan dari kantong kebudayaan aslinya, dalam pengembangan kebudayaan dan seni yang lahir nantinya tidak kehilangan jati diri. Sekarang ini kesan apa yang mau kita tampilkan atau branding, dalam karya seni dari Medan untuk berbicara di level nasional dan internasional.

Sementara itu, Plt Gubernur Sumut, Ir HT Erry Nuradi MSi sangat menyambut baik dengan diselenggarakannya musyawarah ini. HT Erry berharap musyawarah ini memiliki makna tersendiri bagi para seniman, budayawan dan pemerhati seni kota Medan, sehingga mampu kembali membangkitkan kesenian di kota Medan.

Medan Sebagai Kota Seni

Sementara itu, Wali Kota Medan Drs HT Dzulmi Eldin mengatakan kepada seluruh peserta Musyawarah Masyarakat Kesenian Medan ke-I, agar memiliki komitmen untuk menjadikan kota Medan sebagai kota seni. “Sebenarnya kota Medan memiliki tradisi sebagai gudangnya seniman, para sastrawan, budayawan, pemusik, penyair, dan lainnya,” ujar Wali Kota Medan, (26/3).

“Kita ingin di berbagai sudut kota Medan ada atraksi kesenian seperti membaca puisi, pertunjukan teatrikal, pertunjukan tari dan pertunjukan alat seni tradisional. Ini program kerja yang saya harapkan dapat di musyawarahkan dengan majelis kesenian Medan,” pinta Eldin.

Selain itu, Eldin juga berharap, musyawarah ini tidak hanya untuk lebih memperkuat konsolidasi dan koordinasi antar anggota majelis kesenian saja. Tetapi juga memperkuat sinergitas dengan Pemerintah Kota, terutama dalam membangun partisipasi yang semakin luas melalui program dan kebijakan yang akan dimusyawarahkan.

“Saya harap musyawarah ini menjadi wadah bagi kita untuk dapat lebih mempererat tali silaturahmi diantara kita. Sehingga menjadi kekuatan dan modal sosial bagi kita untuk membangun kota Medan,” harap Eldin.

Sementara itu, Ketua Majelis Kesenian Medan (MKM), Choking Susilo Sakeh didampingi Ketua Panitia Musyawarah Masyarakat Kesenian Medan, Rianto Aghly SH mengatakan, musyawarah ini dilaksanakan berdasarkan Perwal Medan No. 10 Tahun 2016 tentang Majelis Kesenian dan Dewan Kesenian Medan, menyusul telah dikukuhkannya MKM pada 5 Agustus 2015 melalui SK Walikota Medan No.430/723.K/IV/2015 tanggal 27 April 2015.

Musyawarah Kesenian Medan ke-I/Tahun 2016 ini dihadiri seniman, kritikus/pengamat/pemikir/peneliti seni, pendidik/akademisi seni, kurator/fasilitator seni, serta peninjau dari berbagai kalangan pemerintahan, lembaga legislatif dan lainnya. Tak hanya itu, acara ini juga dibuka langsung oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud bersama Plt Gubenur Sumatera Utara dan Wali Kota Medan. Musyawarah Masyarakat Kesenian Medan ke-I ini juga untuk membahas dan membentuk Dewan Kesenian Medan priode 2016-2020. (dio)