Defisit 2016 Melebar ke 2,5 Persen Pemerintah Butuh Utang Rp 21 T

JAKARTA | SUMUT24
Pemerintah mengungkapkan, dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 2016, besaran defisit diusulkan naik menjadi 2,5 persen dari sebelumnya 2,15 persen. Total, pemerintah membutuhkan utang baru sebesar Rp 40 triliun.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menjelaskan pemerintah akan memakai anggaran Silpa (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) tahun lalu sebesar Rp 19 triliun. Sehingga, sisa kebutuhan utang pemerintah tinggal Rp 21 triliun.

“Akan terjadi pelebaran defisit dari 2,15 persen menuju 2,5 persen. Di mana ada tambahan kebutuhan utang kira-kira Rp 40 triliun,” ujarnya di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (7/4).

Seperti diketahui, pembiayaan anggaran untuk menutup defisit tahun 2016 disepakati sebesar Rp 273,2 triliun. Ini terdiri dari pembiayaan utang sebesar Rp 330,9 triliun dan pembiayaan non utang sebesar negatif Rp 57,7 triliun.

Untuk mendukung kebijakan pembiayaan defisit APBN 2015 setara 2,15 persen PDB, maka pemerintah akan memanfaatkan sumber pembiayaan dalam negeri dan luar negeri yang mempunyai risiko rendah, beban biaya yang murah, serta tidak ada ikatan. (mer)