Dari Ambarita Damanik Hingga Novel, Tujuh Penyidik Top KPK di Nonaktifkan

857

Jakarta – Sumut24.co

Sebanyak tujuh dari 75 pegawai KPK yang dinonaktifkan merupakan Kasatgas (Ketua Satuan Tugas) penyidik yang sudah puluhan tahun mengabdi.

Tak hanya itu, ketujuh penyidik tersebut pernah dan sedang menangani kasus korupsi kelas kakap.

Menurut Direktur Sosialisasi dan Kampanye KPK, Giri Suprapdiono, ketujuh penyidik senior tersebut sedang menangani kasus-kasus besar yang jika tidak dinonaktifkan, sebentar lagi menetapkan tersangka.

Berikut ini profil ketujuh Kasatgas penyidik KPK non-aktif dan terancam dipecat yang media himpun dari berbagai sumber:

 

1. Ambarita Damanik

Damanik merupakan penyidik senior yang ditugaskan sebagai Kasatgas Khusus Pencarian DPO.

Ia bergabung ke lembaga antirasuah sejak tahun 2005, dia juga anggota Polri sebelum mengundurkan diri pada tahun 2012.

Damanik dikenal sebagai sosok yang berintegritas, salah satu penyidik senior yang disegani dan dihormati pegawai KPK.

Selama menjadi penyidik KPK, Damanik telah menangani sejumlah kasus korupsi besar.

Di antaranya kasus megakorupsi pengadaan e-KTP tahun anggaran 2011-2013. Ia turut ambil bagian ke dalam tim yang menangkap Ketua DPR saat itu Setya Novanto.

Tak hanya itu, Damanik juga menangani kasus benih lobster bersama penyidik lainnya, Novel Baswedan.

Selain itu, ia pernah menangani kasus korupsi Bank Century yang menjerat dua deputi gubernur Bank Indonesia Budi Mulya dan Siti C. Fadjrijah sebagai tersangka.

Kasus ini sempat menyeret nama mantan Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Wulyani.

Damanik juga turut andil dalam penangkapan Samin Tan, Taipan Batu Bara pada beberapa bulan lalu.

Diketahui Samin Tan yang buron sejak tahun lalu melakukan suap terhadap anggota DPR Eni Maulani Saragih.

 

2. Andre Dedy Nainggolan

Andre merupakan Kasatgas yang mengusut kasus korupsi dana Bansos Covid-19 dengan tersangka eks Menteri Sosial sekaligus politisi PDI-P, Juliari Peter Batubara.

Tak hanya Juliari, Andre bersama penyidik Praswad (dinonaktifkan) juga berhasil menyeret empat tersangka lainnya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di muka persidangan.

Perkara ini pun masih terua berjalan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Pusat.

Terbaru, dalam kasus ini, KPK mengumumkan tengah melakukan penyelidikan dengan memanggil Ketua Komisi III DPR RI, Herman Hery untuk dimintai keterangan pada bulan April lalu.

 

3. Afif Julian Miftah

Afif Julian Miftah pernah menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia.

Dia pernah menangani kasus dugaan penerimaan gratifikasi atau rekening gendut calon Kapolri Komjen Budi Gunawan.

Atas pekerjaannya itu, dia menerima teror. Melansir tribunnews, ia pernah menerima teror bom yang terjadi di rumahnya di kawasan Jakamulya, Bekasi, Jawa Barat.

Paket diduga bom ditemukan di depan pintu rumahnya pada tahun 2015 silam. Setelah oleh polisi, ternyata paket tersebut berisi stereoform, kabel-kabel, timer dan tidak ada bahan peledak.

Tak cuma itu, mobilnya pun kena sasaran teror dengan disiram air keras oleh orang tidak dikenal.

 

4. Budi Agung Nugroho

Dia merupakan Kasatgas dalam penyidikan kasus suap reklamasi Teluk Jakarta tahun 2016 yang menjadikan eks Ketua Komisi D DPRD DKI, M. Sanusi dan bos PT Agung Podomoro Land, Ariesman Widjaja sebagai tersangka.

Melansir CNNIndonesia, dia juga menangani dugaan korupsi terkait perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Kementerian ESDM tahun 2013 yang meyeret mantan Ketua Komisi VII DPR, Sutan Bhatoegana sebagai tersangka.

Budi pun pernah dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri bersamaan dengan penyidik KPK lainnya, Ambarita Damanik.

 

5. Harun Al Rasyid

Nama Harun menjadi perbincangan publik kala dirinya memimpin penangkapan terhadap Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat yang diduga melakukan jual-beli jabatan.

Pria yang sudah 16 tahun mengabdi di lembaga antikorupsi ini pernah mendapatkan penghargaan dari Ketua KPK, Firli Bahuri atas kinerjanya.

Tahun 2018 itu, ia dianugerahi dengan julukan “Raja OTT”, karena ia penyidik yang paling banyak melakukan Operasi Tangkap Tangan di KPK.

Melansir Tempo, Harun selama berkarir di KPK pernah mencalonkan diri sebagai komisioner KPK dalam seleksi calon pimpinan KPK 2019.

Ia dikenal sebagai sosok yang keras terhadap tindakan korupsi. Bahkan, tahun 2017, ia menjadi salah seorang pegawai yang menggugat hak angket DPR kepada KPK di Mahkamah Konstitusi.

Waktu itu, DPR membentuk panitia khusus angket terhadap KPK setelah sejumlah nama anggota DPR muncul dalam penyidikan korupsi KTP berbasis elektronik.

 

6. Rizka Anung Nata

Anung berkarir di lembaga antirasuah ini sudah sepuluh tahun. Dalam waktu itu, ia pernah mengusut kasus suap Komisioner KPU, Wahyu Setiawan yang melibatkan politisi PDI-P, Harun Masiku.

Bahkan, ia sendiri terlibat dalam operasi tangkap tangan kasus tersebut.

Tak hanya itu, dia terlibat dalam penyidikan kasus korupsi benur lobster Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Ia juga diketahui memegang kasus korupsi terkait pengaturan sejumlah perkara di lingkungan peradilan yang menjerat mantan Sekretaris Mahakamah Agung (MA) Nurhadi Abdurrachman.

Rizka Anung Nata menjelaskan bahwa dampak dari penonaktifan dirinya, sejumlah perkara yang sedang ditangani terhenti.

“Beberapa perkara tidak bisa saya lakukan,” ujarnya dalam acara Mata Najwa yang disiarkan Trans7, Rabu, 26 Mei 2021.

Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa penonaktifan dirinya adalah bentuk penghinaan.

“Saya menilai ini adalah suatu bentuk penghinaan kepada saya dan keluarga,” tegasnya.

 

7. Novel Baswedan

Melansir CNNIndonesia, Novel merupakan Kasatgas dalam kasus korupsi penetapan izin ekspor benih lobster (benur) yang menjerat mantan Menteri Kelautan dan Perikanan sekaligus politisi Partai Gerindra, Edhy Prabowo.

Tak hanya itu, Novel juga pernah menangani kasus korupsi simulator SIM yang menjerat petinggi Polri Irjen Djoko Susilo.

Dia juga turut terlibat menangani kasus suap penanganan sengketa Pilkada di Mahkamah Konstitusi (MK) dengan tersangka Ketua MK Akil Mochtar.

Selain itu, Novel menangani perkara korupsi E-KTP yang menjerat Setya Novanto (mantan Ketua DPR).

Ia juga menangani kasus suap Wali Kota Tanjungbalai, M. Syahrial yang juga menjerat penyidik KPK dari Institusi Kepolisian Stepanus Robin Pattuju.

Karena kiprahnya yang mengusut korupsi besar membuat ia menjadi sasaran empuk serangan balik para koruptor dan pihak lainnya.

Kedua matanya kini rusak usai disiram air keras. Diduga kejadian tersebut berhubungan dengan pengusutan kasus korupsi yang ia tangani.

“Ketujuh Kasatgas itu bukan main-main, mereka menangani kasus-kasus besar,” ujar Giri Suprapdiono, Rabu, 26 Mei 2021.net/berbagai sumber