Cikal Bakal Atlet di O2SN Tim Renang POPDASU, Kota Padangsidimpuan Sumbang 9 Medali

Padangsidimpuan | Sumut24
Tim Renang Kota P.Sidimpuan yang berlaga diajang Pekan Olah Raga Pelajar se Sumatera Utara ke 12 tahun 2016 menuai hasil yang memuaskan. Atlet renang yang dikirim berjumlah 7 orang berhasil menyabet 9 medali.
Pelatih renang kota Padangsidimpuan Yusri Effi yang juga Lurah Kelurahan Lembah Lubuk Manik Kecamatan Hutaimbaru, menyampaikan perolehan medali atlet renang ini via BBM dari Kota Medan ke bagian Humas Club Renang Bunda Swiming Club (BSC),Anas Nasution pada Jumat (20/5) yang diteruskan kepada SUMUT24.
Yusri Effi melalui humas BSC Anas Nasution menerangkan, medali yang diraih atlet renang tersebut terdiri atas 2 Medali Emas, 4 Medali Perak dan 3 Medali Perunggu.
Adapun atlet renang yang menyumbangkan medali dan nomor perlombaan yakni, 1.Gerald Eric Tuerah menyabet 2 medali Emas di Gaya Bebas 50 M Gaya Dada 50 M Putra, Fadli Aminurrasyid memperoleh 1 medali Perak di Gaya Punggung 50 M dan 1 medali Perunggu di Gaya Punggung 200 M Putra, Atika Azzahra peroleh 2 medali perak di Gaya Kupu kupu 50 M dan Gaya Dada 200 M Putri, Gabby Chintya,1 Perak di Gaya Dada 50 M Putri, Aisyah Nadyn,1 medali Perunggu di Gaya Bebas 50 M Putri dan F.Defharitasya, 1 medali Perunggu di Gaya Punggung 50 M Putri.
Anas mengatakan, perolehan tersebut sudah melebihi target, mengingat atlet yang dikirim pada saat ini memiliki persiapan yang pendek karena masa ujian sekolah. “ Seandainya jadwal Popdasu sesudah selesai ujian sekolah, mungkin kita masih memaksimalkan persiapan atlit. Seluruh atlet ini berasal dari Bunda Swiming Club sehingga kita bisa memprogramkan latihan bagi mereka” ujarnya.
Lebih jauh dikatakannya bahwa atlet renang yang dikirim ke Popdasu merupakan cikal bakal Atlet yang akan dikirim Dinas Pendidikan ke Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) Tingkat Sumatera Utara pada akhir bulan ini.
Ditanya mengenai target medali pada O2SN nanti, Anas mengatakan masih optimis meraih prestasi sepanjang yang mendampinginya mengerti tekhnis dan nontekhnis pada arena pertandingan.
Dijelaskannya, kendala yang terjadi secara umum pada O2SN adalah yang mendampingi atlet bukan pelatih si atlet tersebut, tetapi guru yang dihunjuk oleh Dinas Pendidikan. Karena O2SN ajang pelajar, maka pihak yang “berkepentingan” hanya meminta kepada guru atau kepala sekolah tempat atlet belajar untuk mengirimkan anak didiknya. Padahal kalau kita jujur prestasi sang anak di dapat melalui pembinaan di luar sekolah yakni Klub. “ Untuk prestasi ini kami berharap ada perhatian terhadap anak anak yang telah mengharumkan nama daerah ini, bukan seperti kejadian masa lalu, khususnya di O2SN” ucap Anas tanpa menjelaskan.(BSP)