Bupati Toba Dialog Bersama Para Kepala Desa Kecamatan Siantar Narumonda Guna Wujudkan Pertanaman Dua Kali

 

TOBA I SUMUT24.co
Bupati Toba, Poltak Sitorus bersama dengan para kepala desa di Kecamatan Siantar Narumonda, melakukan dialog guna menyukseskan pertanaman dua kali
di Aula Kantor Camat Siantar Narumonda, Kamis, (14/7/2022).

Dalam dialog tersebut,Bupati Poltak Sitorus mengajak para kepala desa untuk menjadikan apa saja yang ada di lingkungan menjadi pupuk asalkan ada kemauan.

“Apa yang kita pelajari baik dari pelatihan maupun dari Google harus kita praktekkan dalam membuat pupuk organik karena pupuk organik banyak kelebihannya seperti menangkal hama serangga yang menyerang tanaman jagung,” kata Bupati Poltak

Ia meminta agar masyarakat jangan puas dengan satu kali tanam, dan hasil kedepannya harus kita tingkatkan.

Bupati Poltak juga bercerita perihal pertemuannya dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Boyolali dan mendapat informasi bahwa daerah mereka telah sampai pada tahap pertanaman tiga kali.Sementara distribusi pupuk sama dengan kita yang hanya 30% dari rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK), namun mereka saat ini telah memenuhi kebutuhan akan pupuk melalui kotoran sapi.

Dijelaskannya juga bagaimana cara masyarakat di Kabupaten Boyolali dapat melakukannya yakni dengan meminjam ke bank melalui kredit usaha rakyat (KUR) untuk modal membeli sapi baik sapi penghasil susu ataupun sapi penghasil daging berjenis sapi Australia Limosin. Kemudian mereka memanfaatkan kotoran ternak ini diolah jadi pupuk organik.

“Saya juga telah mengkoordinasikan dengan Kadis Ketapang agar melakukan percontohan dengan membawa petani dari toba untuk terlibat langsung di pertanian Boyolali, melakukan apa yang mereka lakukan dan mengikuti pola hidup dan pola kerja mereka,” kata Bupati Poltak

Bupati Poltak Sitorus berharap Toba bisa menirunya agar ada perubahan.

Untuk mengatasi perihal kekurangan pupuk, Bupati Poltak Sitorus mengajak untuk mengelola apa yang ada di lingkungan diolah jadi pupuk.

“Saya minta para kepala desa dan penyuluh untuk menggerakkan masyarakat membuat pupuk organik, saya akan kerahkan Dinas Ketapang dan Dinas Pertanian untuk turun ke lapangan memberikan pelatihan dan membagikan ilmu pengetahuan ke masyarakat agar dapat diterapkan,” katanya menambahkan.

Diceritakan lebih lanjut, rata-rata masyarakat Boyolali beternak dan memperoleh hasil susu dan daging bahkan pupuk.Angka stunting mereka juga rendah karena kebutuhan tercukupi hingga Boyolali diberi penghargaan sebagai kabupaten mandiri.

Berdasarkan hal tersebut, Bupati Poltak Sitorus mengatakan bahwa Pemkab Toba tidak mau jauh dari masyarakat dan mengerahkan para penyuluh untuk memberikan perhatian guna menjadikan daerah kita ini makmur dari hasil pertanian.

“Tidak mungkin kita makmur dan sejahtera tanpa bekerja keras, rubah mindset masyarakat yang terbiasa berleha-leha. Tugas kita mensejahterakan masyarakat baik pemkab, pemerintah kecamatan bahkan pemerintah desa,” katanya Bupati Poltak menegaskan.

Mengenai pengolahan pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak sementara ternak di Toba minim, Bupati Poltak Sitorus akan berusaha membantu masyarakat untuk pinjaman KUR di bank.Karena sebelumnya Pemkab telah lakukan koordinasi dengan pihak bank baik BRI dan Sumut terkait pinjaman KUR untuk modal beternak agar hasil ternak baik susu dan daging bahkan kotorannya dapat berguna dengan baik.

Bahkan dalam hal pengelolaan sampah, Bupati Poltak juga sampaikan bahwa sampah bisa menghasilkan sesuatu yang ekonomis dengan cara memisahkan sampah organik dan non organik. Sampah organik dapat diolah menjadi maggot untuk pakan ternak atau bahkan pupuk

Bupati Poltak pada kesempatan ini berulang kali mengajak agar para kepala desa dan masyarakat bekerjasama dengan pemerintah.

“Sedikit yang bisa kita kerjakan sendiri- sendiri namun akan banyak yang kita kerjakan bersama sama maka dari itu mari kita bekerjasama agar Toba unggul dan bersinar,”katanya.

Pada sesi tanya jawab, Kepala Desa Narumonda 8, Hotler Marpaung menyslampaikan kondisi hasil jagung di tahun lalu yang menurutnya per-rante menghasilkan 100 kg bahkan ada yang sampai 400 kg,meskipun tahun lalu musim hujan namun melalui gotong royong masyarakat dalam upaya membersihkan paritan agar tidak terjadi genangan maka jagung dapat terselamatkan.

Adapun kendala pasca panen saat itu, Hotler mengatakan adanya bekas batang jagung yang telah menjadi hama karena ampas jagung dibuang ke sungai, namun akhirnya dapat disiasati dengan mengolah kembali sampah jagung dan tidak dibuang kembali ke sungai.

Hotler juga mengajukan beberapa permohonan kepada Pemkab diantaranya agar dapat memberi bantuan berupa traktor agar lahan dapat diolah. Bahkan ampas jagung juga terolah otomatis bersama lahannya dan juga agar petani tidak menyewa traktor dari pihak lain. Kemudian dibutuhkan sosialisasi dan pelatihan bagi petani ,bagaimana cara menanam padi dan jagung yang baik di lahan persawahan dan lahan kering.Terakhir terkait masalah KUR yang dialami petani adalah adanya jumlah pinjaman KUR yang melebihi batas kemampuan peminjam hingga mengakibatkan kredit pinjaman macet maka pihaknya meminta bantuan Pemkab untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan pihak bank agar pinjaman di masyarakat kami memang sesuai kapasitas dan kemampuan petani kami.

Sementara itu, Kepala Desa Siantar Sitiotio Aladin Marpaung yang saat ini fokus bagaimana mengolah kembali semak dan batang jagung untuk menjadi pupuk organik dikarenakan saat ini Desa Sitiotiio banyak semak belukar dan bekas batang jagung. DIsampaikan juga permohonan akan kebutuhan mesin penghancur atau penggiling untuk mengolah pupuk organik.

“Jadi kami harapkan bantuan dari Pemkab untuk dapat memfasilitasi kami melakukan pinjaman di bank karena kami belum memiliki Bumdes agar kami dapat memiliki mesin penghancur atau penggiling batang jagung ini,”kata Aladin.

Selain itu, Aladin juga menyampaikan adanya lahan seluas 20 ha dengan akses jembatan yang putus karena harus menyeberangi sungai yang saat ini terlantar.

Dikatakannya lagi bahwa memang ada warga Prancis yang mau memberi bantuan berupa jembatan gantung gratis namun mereka inginkan agar kita sendiri yang menyediakan fondasi dan para pekerjanya.

Sedangkan Hotbin Marpaung yang merupakan Kepala Desa Narumonda 2 mengatakan desa mereka memiliki lahan dan akan memilih petani yang memiliki kemauan tinggi dan pengetahuan pertanian untuk dibina kembali mengelola lahan.

Senada dengan keluhan Kades Siantar Sitiotio, Kades Siantar Tonga-tonga 1 Robinson Marpaung, mengatakan untuk Siantar Tonga-tonga 1,2,3 yang merupakan desa penghasil jagung dan beras yang baik juga memiliki kendala dalam hal pemasarannya.

Hal ini disebabkan akses jalan yakni jembatan yang menghubungkan ketiga desa untuk keluar memasarkan hasil pertaniannya telah rusak.

Ia pun bermohon agar Pemkab dapat meninjau kembali kondisi jembatan supaya dapat dipakai kembali.

Menanggapi pernyataan dan permohonan para kepala desa, Bupati Poltak menyampaikan bahwa Pemkab akan mengkomunikasikan dengan pihak bank agar analisis mereka dalam pemberian pinjaman benar-benar sesuai dengan kemampuan masyarakat ,agar pinjaman tidak macet.

Soal kebutuhan akan penyuluh, Bupati Poltak memastikan melalui Dinas Ketapang untuk memenuhi kebutuhan akan penyuluh.

“Apa pun yang bapak kades butuhkan nanti kita akan pastikan turun untuk membantu agar desa bahkan Kecamatan Siantar Narumonda dapat menjadi role model kedepannya jadi percontohan integrated farming system,” ujar Bupati Poltak

Dan untuk jembatan di Sitio tio dan Desa Siantar Tonga-tonga, Bupati Poltak mengatakan Pemkab akan bantu usahakan namun diminta kepala desa terlebih dahulu siapkan proposal permohonannya agar kita coba ke perusahaan yang ada.

Turut mendampingi Bupati, Wakil Bupati Toba Tonny M Simanjuntak, Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Toba, Drs. Augus Sitorus, Plt. Asisten Pemerintahan Eston Sihotang, Plt. Asisten Administrasi.Umum Verry S.Napitupulu, Plt. Staf Ahli Bupati Sahat Manullang, Kabag Tapem Samuel Lumbanraja, Kabag Prokopim Try Sutrisno P. Samosir dan Camat Siantar Narumonda. (Hans)