BKKBN Sumut Fokuskan Peningkatan SDM Remaja

38

Medan I SUMUT24
Kepala Perwakilan BKKBN Sumut, Temazaro Zega, Minggu (7/7/2019) mengungkapkan, bahwa BKKBN Sumut bersama dengan mitra kerja sangat fokus terhadap peningkatan SDM Remaja di Sumut agar mampu bersaing secara global dalam hal kecakapan intelektual, inovasi, produktif dalam hal yang positif, sehat dalam interaksi dengan lingkungan dan masyarakat, serta damai dalam interaksi sosialnya.

Karenanya, sambung dia, guna mewujudkan generasi yang terencana, akan sangat membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak dan berbagai sektor, agar persoalan remaja dan segala hambatannya dapat diselesaikan dengan bijaksana.

“Dalam jangka panjang, diharapkan dapat mewujudkan generasi emas bagi Indonesia,” paparnya.

Temazaro juga menambahkan, sejak tahun 2007 BKKBN telah menginisiasi pembentukan Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR). Namanya kemudian berkembang menjadi PIK Remaja/Mahasiswa (PIK-R/M) dalam rangka pembinaan ketahanan remaja sebagai bagian dari upaya pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga serta pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) berkualitas.

Adapun dalam kegiatan GenRe Educamp 2019 itu sendiri, perwakilan BKKBN Sumut mengutus dua orang dari Forum GenRe Sumut yaitu M Fandy Matondang dan Tricory Indah Sari.

Sebelumnya, Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat, setiap tahun 14,2 juta perempuan di Indonesia melakukan pernikahan dini sebelum menginjak usia 18 tahun. Karenanya, bila trend ini terus berlanjut, dikhawatirkan 142 juta remaja putri akan melakukan pernikahan sebelum 2020.

Kepala BKKBN Pusat, Hasto Wardoyo mengatakan, permasalahan remaja pada saat ini memang merupakan persoalan sangat kompleks. Ia menyebutkan, selain rentan akan terjadinya kawin muda, remaja juga rentan terlibat dalam penyalahgunaan NAPZA serta kenakalan remaja lainnya.

“Remaja merupakan individu-individu calon penduduk usia produktif yang pada saatnya kelak akan menjadi subjek (pelaku) pembangunan. Sehingga harus disiapkan agar menjadi SDM yang berkualitas,” ungkapnya pada pembukaan GenRe Educamp 2019 di Banjarbaru, Jumat (5/7).

Namun lanjut dia, fakta yang ada malah menunjukkan, sebagian remaja kini dihadapkan pada situasi yang sangat memperhatinkan, seperti seks pranikah, narkoba, dan lainnya. Termasuk masalah lainnya berupa masih tingginya pernikahan dini.

“Pernikahan dini menempatkan remaja putri dalam resiko tinggi terhadap kehamilan dini dan kehamilan tidak diinginkan, dengan konsekuensi ancaman kehidupan. Pencegahan pernikahan dini akan membantu penurunan resiko infeksi pada saat melahirkan bahkan ancaman kematian pada saat ibu melahirkan serta bayi cacat lahir,” jelasnya. (red)

Loading...