Bicang Pers, Ini Perjalanan Awak Jurnalis Anto Genk dan Hendra DS

817

Medan, SUMUT24.CO
Sesekali, sarapanlah dengan orang-orang hebat. Niscaya kita akan mendengar kisah-kisah dahsyat. Seperti sarapan kami pas di Jumat keramat.

Makan paginya nyaris merapel makan siang. Karena jarum jam sudah menunjuk 11.22 WIB. Di arloji saya.

Jam setengah 12 kurang 8 menit Itu, merupakan pertanda awal bersantap siang. Terutama bagi mereka yang perutnya mulai keroncongan. Karena paginya tak sempat diisi sampai kenyang.

Adalah CEO Sumut24 grup yang mengundang. Namanya Rianto Aghly SH, Biasa dipanggil, Anto Genk.

Nama belakang genk itu bukan didapat karena pernah jadi ketua atau anggota geng. Semisal geng motor. Tapi karena keseringan nyebut dan menyapa orang dengan sebutan; genk.

Dia salah satu orang hebat yang saya bilang di awal tadi. Hebat, karena mampu mengelola dan mengembangbiak-kan sebuah koran.

Pun media daringnya, sebagai media pendukung. Dibangunnya pelan-pelan. Dimulai dari nol. Tapi bukan mulai dari nolnya Pertamina, ya! Eheheee….

Dibidaninya betul-betul dari bawah. ‘Berdarah-darah’, merintisnya. Dibeli dari pemilik grup koran kriminal Metro 24. Hanya bermodal dasar; puluhan juta saja.

Sumut 24 awalnya punya T Hasyimi. Pengusaha surat kabar, percetakan, perkebunan dan kapal. Juga pabrik semen.

Kondisi keuangan Sumut 24, ketika itu, barangkali sedang pas-pasan. Atau mungkin kurang dikelola serius. Makanya dilego. Jadilah kini, Sumut 24 bertumbuh ditangan Anto Genk.

Dia seolah ingin membuktikan bahwa koran masih mampu bertahan ditengah gencarnya wabah media online dan sosial media.

Saya kenal Anto Genk, sejak lama. Ketika sama-sama menjadi wartawan yang bertugas di Pemko dan DPRD Medan. Dari zaman Bachtiar Djaffar, walikotanya. Kala itu, Anto Genk masih menunggangi Shogun 4 tak.

Anto Genk, terkenal gigih. Lasak dan ulet melobi serta menguber narasumber. Terutama para pejabat, politisi, pengusaha dan pentolan ormas.

Lumrah saja dia akhirnya banyak mengenal orang-orang besar. Salahsatunya ia amat akrab dengan Ketua MPW PP Sumut Kodrat Shah. Pun kini dia berkiprah di ormas terbesar itu.

Pernah menyalonkan diri sebagai calon wakil rakyat dari Partai Hanura, di Pileg 2019 lalu. Namun kandas disikut politisi senior.

Alhasil dia serius menahkodai koran dan grup media online miliknya. Selain sibuk membidani JMSI Sumut. Sebuah organisasi pers khusus media online.

Bersama Anto Genk, ada bang Hendra DS. Mantan wartawan yang kini berkiprah sebagai anggota dewan. Wakil rakyat Medan periode 2019-2024. Unggul di Dapil IV lewat sampan Hanura.

Ada juga notaris beken, bang Bandhy. Hanya saja dia tak bisa terlalu lama bergabung, karena sedang menemui klien. Di tempat yang sama, di Kopi Akur Jalan Wajir

Mereka bertiga ini masih muda. Paling usianya belum kepala 5, lebih. Masih terlihat energik, penuh semangat dan fashionable.

Cuma saya yang tak sehebat mereka. Ya, diantara mereka bertiga. Karena belum punya keberanian punya koran sendiri.

Ragu banting setir jadi notaris (ngawur karena ga ada basic sama sekali). Atau nekad mencoba keberuntungan terjun ke kancah politik. Saya masih begini-begini saja. Masih mikir, mikir dan mikir.

Maka kesempatan berkumpul pagi jelang siang itu, merupakan hal paling ruarrrrrr biasa. Buat saya.

Jujur, dari zaman baheulak, saya sudah dengar nama besar bang Hendra DS. Bang Bandhy juga. Kebetulan, saya pernah mewawancarainya. Dulu sekali. Tapi lupa tahun berapa. Mereka berdua ini termasuk ‘jagoan’ di Ladon.

Bang Hendra, orangnya kalem. Tenang, agak memghanyutkan. Dia bukan type wartawan grasak grusuk. Padahal dia berpos (meliput) di kepolisian.

Wartawan unit kepolisian rata-rata berpenampilan mirip tekab. Garang dan sangar. Mendekati kucel (agak gadel).

Mobilitas wartawan kepolisian juga cukup tinggi. Mundar mandir 1 TKP ke TKP lain. Pagi dii polsek tengah kota, sorenya di polsek terpelosok.

Ciri khas wartawan kepolisian juga ditandai dengan jaket kulit hitam. Menambah kesan angker, lagi sadis.

Bang Hendra tak seperti tekab. Penampilannya selalu rapi dan bersih. Klimis. Tunggangannya, Binter bukan mercy.

Soal koneksi, jangan tanya om! Relasinya luas dan buanyaaakkk. Mulai dari polisi, bandar tikoti sampai taipan high quality.

Bang Hendra DS, dulu, adalah wartawan surat kabar harian Waspada. Salahsatu legenda koran di Sumatera Utara.

Mulai ternama saat masih belia. Usia 18 tahun dia sudah dipercaya dan dikenal kalangan warga Tionghoa.

Urusan remeh temeh sampai yang gede-gede, khusus menyangkut orang Cina, rebes eh beres lewat lobi-lobinya.

Ia pun akhirnya dekat dengan taipan kota ini. Siapa orangnya, hanya bang Hendra yang tahu. Bagaimana kisahnya hingga bisa dekat, itu pun cuma kami yang tahu.

Tak usah kepo mencari tahu. Cukup kalian tahu bahwa kisah hidupnya seru. Luarr biasa,ketua JMSI Sumut awak ini👍👍👍👍
( Ngab Wiko)