BI Targetkan Dua Perusahaan di Sumut Miliki SBK di 2019

183
Kepala Grup Pengembangan Infrastruktur, Kredibilitas dan Pengaturan Pasar Keuangan BI Priyanto Budi Nugroho diwawancarai wartawan usai acara sosialisasi (SBK) di Hotel JW Marriot Medan Jumat (8/11/2019). SUMUT24/amru lubis

Medan I SUMUT24.CO
Dalam rangka meningkatkan minat korporasi non-bank untuk dapat menerbitkan SBK, Bank Indonesia (BI) menggelar sosialisasi bertajuk Peran Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai sumber pendanaan perekonomian nasional, di Hotel JW Marriot Medan Jumat (8/11/2019).

“Dua bulan kedepan hingga akhir 2019, target Bank Indonesia bisa dua perusahaan (korporasi non-bank yang terdaftar dan miliki Surat Berharga Komersial (SBK). Target ini tak muluk-muluk, mengingat hanya tinggal dua bulan lagi berakhirlah tahun 2019. Baru di tahun 2020 nanti, dengan gencarnya sosialisasi SBK ini, BI optimis, akan banyak perusahaan khususnya perkebunan yang berminat memiliki SBK,” ujar Kepala Grup Pengembangan Infrastruktur, Kredibilitas dan Pengaturan Pasar Keuangan BI Priyanto Budi Nugroho.

Priyanto Budi Nugroho mengatakan, Medan
merupakan kota berskala ekonomi terbesar di Sumatera. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari serangkaian kegiatan sosialisasi SBK yang sebelumnya telah diselenggarakan di bulan Mei dan September 2019 di Jakarta, serta Oktober 2019 di Makassar, Sulawesi Selatan.

“Pentingnya memiliki Surat Berharga Komersial ini, dikrenakan bisa sebagai salah satu alternatif pendanaan kegiatan usaha dari perspektif calon issuer,” ungkap Priyanto.

Ia mengharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan awareness pelaku pasar bahwa saat ini telah tersedia instrumen pendanaan jangka pendek bernama Surat Berharga Komersial (SBK) yang dapat dimanfaatkan oleh korporasi non-bank yang memenuhi persyaratan untuk mendapatkan pendanaan jangka pendek di pasar uang.

“Pendanaan melalui pasar uang ini akan dapat melengkapi portofolio pendanaan korporasi jangka panjang melalui pasar modal dan perbankan,” ungkap Priyanto.

Untuk mendukung penerbitan dan transaksi Surat Berharga Komersial, lanjutnya, Bank Indonesia telah melakukan penyempurnaan ketentuan dengan menerbitkan Peraturan Bank Indonesia dan Peraturan Anggota Dewan Gubernur. Diantaranya mencakup penerbitan, lembaga pendukung pasar SBK, keterbukaan informasi, transaksi SBK, manajemen risiko, pelaporan, serta pengawasan.

Terkait dengan lembaga pendukung, sebut Priyanto, sampai dengan 6 November 2019, telah terdaftar di Bank Indonesia sebanyak 5 penata laksana/arranger, 2 Iembaga pemeringkat, 58 konsultan hukum, 89 akuntan publik, 5 notaris, 4 perantara/brokers, 19 kustodian, 2 penerbit, dan 2 penerbitan SBK.

Ke depan, katanya, Bank Indonesia akan terus berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk melakukan harmonisasi regulasi, khususnya regulasi yang mengatur lembaga-Iembaga jasa keuangan yang dapat memanfaatkan SBK sebagai alternatif pendanaan jangka pendek dan juga sebagai investasi.

Selain itu, Bank Indonesia juga akan melakukan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada potensial issuer dan investor demi mendorong berkembangnya pasar Surat Berharga Komersial.

Selain Priyanto Budi Nugroho, acara sosialisasi SBK di Medan tersebut juga dihadiri dan sekaligus menjadi pembicara (nara sumber), Deputi Direktur Kelompok Pengaturan dan Perizinan Pasar Keuangan BI Ratna Doloksaribu, Kepala Divisi Invesment Banking PT BNI Sekuritas Tulus Nababan, Advisor to Board of Directory PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Fatah Sulaiman Ponorogo dan Kepala Grup Advisory dan Pengembangan KPw BI Provinsi Sumut Ibrahim. Sosialisasi ini dihadiri oleh korporasi, asosiasi, perbankan, dan regulator.

Sebelumnya, acara sosialisasi SBK ini dibuka dengan pemaparan mengenai perkembangan ekonomi terkini dan peran SBK dalam mendukung pembangunan nasional, yang kemudian dilanjutkan dengan paparan mengenai kondisi dan potensi ekonomi Provinsi Sumatera Utara. Selanjutnya dalam diskusi panel, dipaparkan pengenalan instrumen SBK dari perspektif arranger, pokok-pokok pengaturan SBK, dan peran SBK kedepannya.

Kepala Grup Advisory dan Pengembangan KPw BI Provinsi Sumut Ibrahim mengatakan, Medan sangat potensial bagi pasar SBK. Ekonomi global, terutama perang dagang AS-China berpengaruh terhadap perlambatan ekonomi dunia yang juga berdampak pada ekonomi regional. Namun pertumbuhan ekonomi Sumut triwulan III sebesar 5,11 persen, masih lebih tinggi dari nasional 5,02 persen.Di Pulau Sumatera, kontribusi Sumut sebesar 23 persen.

Potensi ekonomi Sumut, sebut Ibrahim, antara lain dari kelapa sawit, kopi, karet yang kolerasinya dengan industri pengolahan cukup besar. “Sehingga pilihan masyarakat untuk berinvestasi di Surat Berharga Komersial dapat menjadi alternatif,” kata Ibrahim. (R03)

Loading...