Bank Sumut Tahan Laba Pemprovsu Rp 123 M

MEDAN|SUMUT24

Sebagai salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang seharusnya membantu pembangunan dan meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan pembangunan daerah, PT Bank Sumut diduga malah berbuat yang sebaliknya. Karena, hingga saat ini masih menahan laba Pemprovsu sebesar Rp 123, 380.000.000.

“Berdasarkan tahun buku 2014, diketahui total laba ditahan milik Pemprovsudi ban Sumut sebesar Rp 123.380.000.000,”sebut anggota DPRD Sumut, Muhri Fauzi Hafidz, Selasa(12/1) via pesan BBm nya.

Menurut politisi dari Partai Demokrat ini, sebetulnya laba ditahan secara system akunting dan perbankan memang diperbolehkan. Namun, Bank Sumut, harus menjelaskan maksud dan tujuan penggunaan laba yang ditahan tersebut. Apakah untuk memperkuat posisi kas, atau untuk yang lain.

“Saya pikir, jumlahnya harus rasional. Mengingat, dalam banyak kasus, laba ditahan menunjukan upaya Window Dressing pada laporan keuangan entitas,”ujarnya.

Laba itu harus diambil, lanjutnya. Dan salah satu solusi yang ditawarkanya adalah menggunakan laba tersebut untuk pembiayaan pembangunan. Dan hal ini akan menjadi momentum tepat bagi PT Bank Sumut untuk membuktikan, sebagai BUMD yang ikut berperanserta dalam mendukung berjalannya pembangunan daerah.

Meski masih menahan laba Pemrovsu sebesar Rp 123 M, sebelumnya Presiden Gerakan Aku Geram Anti Koruptor (GAGAK) RI, Safrizal El Batubara menyebutkan kalau laba Bank Sumut mengalami kemerosotan laba. Diduga, hal ini disebabkan paqra pengelola bank tersebut tidak bekerja maksimal dan hanya mencari keuntungan pribadi, tanpa memikirkan kelangsungan pembangunan masyarakat Sumut.

“Ini sudah tidak benar pengelolaanya. Selain harus diaudit oleh BPKP, Plt Gubsu HT Erry Nuradi harus mengevaluasi kinerjanya,” ujar Safrizal kepada SUMUT24, Selasa (5/1) lalu.

Safrizal menegaskan, salah satu yang harus segera di evaluasi oleh Plt Gubsu itu adalah kinerja Direktur Utama Bank Sumut, Eddie Rizlianto. Karena, kalau hal ini terus dibiarkan, Bank Sumut akan terus mengalami kemerosotan laba, bahkan bukan tidak mungkin terancam bangkrut.

“Mengelola uang rakyat Sumut tidak semudah membalikkan telapak tangan sehingga dalam hal ini Plt Gubsu sebagai pemegang saham tertinggi harus melakukan gebrakan nyata dalam rangka menyelamatkan Bank Sumut dari tangan-tangan kotor yang hanya mencari keuntungan semata. Dimanalah bisa terjadi kemerosotan laba, kalau tidak ada pencuri di dalam Bank Sumut sendiri,” ujarnya.

Kinerja Buruk

Terpisah, Ekonom Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, bahwa secara umum, kinerja perbankan di tahun 2015 memang memburuk. Rata-rata perolehan laba, penyaluran kredit, pengumpulan DPK tidak sebaik dibandingkan tahun 2014 silam. Masalah utamanya adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan yang dimotori oleh melambatnya industri perbankan nasional.

“Salah satu bank yang mempunyai kinerja buruk adalah Bank SUMUT. Hingga September kemarin laba yang ditorehkan Bank SUMUT hanya sebesar Rp. 488,290 miliar. Masih lebih kecil dibandingkan dengan perolehan laba tahun 2014 sebesar Rp 621,446 Miliar,”sebutnya.

Indikator yang membuiruk, kata Benyamin, adalah membengkaknya angka kredit macet. NPL netto di tahun 2014 masih dibawah 2%. Namun hingga September kemarin NPL netto di bertengger di level 2.33%. Membengkaknya kredit macet di sejumlah Bank lain juga terlihat.

Penurunan daya beli masyarakat dan melambatnya kondisi ekonomi masyarakat membuat kredit macet bertambah besar. Menurutnya, yang perlu dijaga adalah agar NPL netto tersebut tidak melebihi angka 3%. Karena jika menyentuh angka tersebut, dikhawatirkan akan memberikan dampak buruk terhadap pencapaian laba Bank SUMUT.

Karena nantinya akan menarik sebagian laba untuk dana yang dicadangkan. Selanjutnya, beberapa indicator kinerja lainnya seperti penghimpunan DPK (dana pihak ketiga) maupun penyaluran kredit juga mengalami penurunan. Di tahun-tahun sulit seperti tahun 2015, menjadi tolak ukur bagi smeua perbankan agar lebih realistis dalam menetapkan sejumlah target. Termasuk target-target yang ditetapkan oleh Bank SUMUT.

“Saya melihat kinerja perbankan di tahun 2016 ini masih akan di bawah tekanan. Saya melihat hanya sejumlah Bank besar seperti Bank Mandiri, BCA dan BRI yang masih akan berpeluang menggenjot laba di atas 20%. Selebihnya masih perlu dievaluasi kembali. Untuk Bank BPD seperti Bank SUMUT, kinerjanya kita bandingkan dengan BPD yang lain,”sebutnya.

Soal merosotnya laba dan kinerja manajemen Bank Sumut saat ini, sebelumnya juga dikomentari oleh anggota DPRD Sumut, Sutrisno Pangaribuan ST, Rabu(6/1) lalu.

Menurut politisi dari partai PDI Perjuangan ini, keberadaan Bank Sumut saat ini sama sekali tiddak memberikan kontribusinya bagi perkembangan Sumut.
Mirisnya, kata Sutrisno, dalam setiap kesempatan, Bank Sumut selalu minta agar diberikan dana penyertaan modal. Menurut Sutrisno, hal tersebut adalah upaya untuk mengaburkan fakta-fakta yang terjadi.

Hal itu dilontarkan Sutrisno Pangaribuan, saat diminta tanggapanya oleh SUMUT24 soal menurunnya performa Bank Sumut sesuai dengan laporan keuangan per 30 Desember 2015, yang terlihat dari berbagai rasio keuanganya, terutama kemampuan perolehan laba yang semakin menurun dan tingginya rasio kredit macet atau NPL.

“Memang, secara keseluruhan BUMD kita tidak sehat, salah satunya Bank Sumut. Meskipun dalam pembahasan di DPRD Sumut, masih ada kewajiban Pemprovsu yang belum diselesaikan, misalnya soal penyertaan modal. Namun, hal itu tidak menjadi alasan bagi Bank Sumut, sehingga performa kinerjanya tidak baik. Harus dilakukan penataan yang baik pada sistemnya,” terangnya.

Soal kinerja Direktur Utama (Dirut) Bank Sumut yang saat ini dijabat oleh Eddi Rizlianto, Sutrisno mengakui kalau selama menjabat, Eddi melakukan terobosan-terobosan untuk memajukan Bank Sumut.

Seperti halnya surat yang diterima oleh redaksi SUMUT24, Sutrisno juga mengakui kalau dirinya ada menerima surat dari masyarakat yang meminta agar Direksi dan Komisaris PT Bank Sumut di evaluasi. Menurutnya, surat laporan masyarakat itu, semakin memperkuat dan mendorong pihaknya untuk membentuk pansus pendapatan daerah.

“Ketika pansus nanti dibentuk, salah satu yang akan diperiksa itu adalah bagaimana kondisi kesehatan Bank Sumut. Kita akan beri waktu 3 bulan pertama. Setelah tri wulan, akan kita evaluasi apakah masih layak dipertahankan atau tidak,”tandasnya.(Dd/red)