Bahasa Faktor Penting Bagi Perawat Hadapi MEA

MEDAN | SUMUT24
Perawat merupakan salah satu tenaga kesehatan yang akan dipertimbangkan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Namun, untuk bersaing dalam era global atau MEA saat ini, maka, bahasa merupakan faktor yang penting yang harus diperhatikan.

Dosen Keperawatan Universitas Indonesia, I Made Karyasa mengatakan, perawat salah satu tenaga yang akan diperhitungkan dalam pelayanan kesehatan disamping yang lainnya. “Perawat luar bisa masuk dan kita juga bisa masuk ke negara lain dengan mengikuti persyaratan yang ditentukan negara masing-masing,” katanya dalam seminar jenjang karir perawat dan bidan dan tenaga rekam medik masa kini dan akan datang, di acara kunjungan STIKes dan APIKES di Yayasan Imelda Medan, akhir pekan lalu.

Begitupun, sambungnya, mereka (perawat dari Negara luar) harus uji kompetensi baru dapat Surat Tanda Register (STR), sama dengan perawat kita. Dalam uji kompetensi yang dilakukan untuk perawat dari luar itu dilaksanakan dalam bahasa Indonesia. “Karena tidak boleh kerja di Indonesia tidak mengerti bahasa Indonesia. Sama dengan kita di luar negeri seperti persayaratannya Toefel, LS,” ucapnya.

Dalam persaingan dalam MEA, katanya lagi, halangannya adalah bahasa, sedangkan soal kompetensi inti, kita tidak kalah dan kita mampu. “Tapi begitu diuji,perawat kendala terbesar bahasa. Jadi kendalanya menurut saya bahasa Inggris,” tukasnya.

Mengenai STIKEs Imelda, menurut I Made, dari seluruh Indonesia yang sudah dilihatnya, fasilitas sudah cukup dan sangat memadai sehingga akredirasi B.Tetapi perlu lebih banyak lagi dosen di bidang ilmu keperawatan.
Pengurus Pusat Perhimpunan professional perekam medis dan informasi kesehatan Indonesia (Pormiki), Elise Garmelia menyebutkan, perekam medis dan informasi kesehatan adalah tenaga kesehatan yang dibutuhkan untuk menunjang program pemerintah terutama BPJS yaitu profesi Koder dari profesi perekam medis atau Perekam Medis dan informasi kesehatan (PMIK).

”Sementara profesi untuk membuat kode diagnosisnya (Koding) baru sedikit sehingga lulusannya dibutuhkan banyak dan jadi peluang. Profesi kami belum dikenal betul di masyarakat dan harus sosialisasi terus,” ungkapnya.

Bahkan, dalam menghadap MEA, Elise menyampaikan, kalau hal itu merupakan peluang karena Indonesia punya profesi rekam medik dan banyak negara belum memilikinya. “Jadi sebetulnya ini peluang,” imbuhnya.

Ketua STIKes Imelda Medan dr. Imelda Liana Ritonga, SKp, MPd, MN mengatakan, menghadapi MEA, pihaknya tetap menjalin kerjasama dengan pihak luar seperti kunjungan delegasi Thailand agar bisa samakan standar kiat dan Thailan, juga ke Bangkok.

Juga akan mengirim delegasi ke Jepang, aplikasi dengan akan kirim dosen S2 S3 keluar atau magister untuk magang. Memodifikasi kurikulum sesuai kebutuhan standar pelayanan baik secara nasional dan dengan kerjasama negara lain untuk menysuaikan standarnya.

Sedangkan mengenai bahasa, sambung Imelda, ada kelas khusus bahasa Jepang. Kalau bahasa inggris sudah terintegerasi, ada kurikulum secara umum, kalau memang ada kebutuhan, lebih cepat penguasaannya. “Sekarang kita siapkan kelas bahasa sesuai dengan tujuan negara yang akan dituju,” Imelda seraya menambahkan dalam pekan kunjungan APIKES dan STIkes Imelda sejak 15 sampai 19 Februari diadakan lomba cerdas cermat dari 31 SMA di Medan dan Sumut. (SL)