Apresiasi Kehadiran Formalindo, Musa Rajekshah: Literasi Penting untuk Kemajuan Bangsa

 

MEDAN I Sumut24.co

Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah apresiasi kehadiran Forum Masyarakat Literasi Indonesia (Formalindo) Sumut, yang terus berkomitmen dalam meningkatkan literasi masyarakat.

 

Hal ini disampaikan Ijeck, sapaan akrab Musa Rajekshah saat menerima kunjungan Formalindo Sumut di Rumah Dinas Wagub Sumut, Jalan Teuku Daud, Selasa (13/9). “Saya mengapresiasi dan merasa senang atas kehadiran Forum Masyarakat Literasi Indonesia (Formalindo) Sumut ini, belum lagi para relawan Kereta Pustaka yang bekerja membawa buku-buku bacaan keliling di wilayahnya masing-masing tanpa digaji,” ujarnya.

 

Sebelum masuk dalam forum diskusi dengan Perwakilan Formalindo Kabupaten/Kota, Ijeck menyempatkan diri melihat Kereta Pustaka. Ijeck melihat koleksi buku yang dibawa hingga mencoba menaiki sepeda motor yang telah diisi dengan box buku. Sepeda motor literasi ini merupakan dukungan Bank Sumut untuk memberikan motivasi pengembangan literasi bagi masyarakat Sumut yang diserahkan kepada Formalindo sejak tahun 2018.

 

Dalam kesempatan itu, Ijeck berbincang dengan salah satu relawan Kereta Pustaka dari Secanggang, Kabupaten Langkat, Faisal. Ia pun bertanya alasan Faisal mau menjadi relawan Kereta Pustaka yang tidak bergaji.

 

“Kereta Pustaka yang saya bawa ini saya terima sekitar tahun 2020, sebelumnya motor ini dipakai penggiat literasi lain di Langkat, namun terakhir tidak jalan. Tapi sebelumnya saya sudah membuka Rumah Baca Mendai sejak tahun 2016 dan juga aktif keliling membawa buku ke desa-desa di Kecamatan Sicanggang dengan menggunakan kardus. Saya tergerak karena di kampung saya daerah pesisir banyak anak-anak yang putus sekolah. Sebagai putra daerah saya turut merasakan bagaimana nanti nasib anak-anak ini,” ujar Faisal.

 

Ijeck pun mengapresiasi kegigihan dan ketulusan Faisal dalam mengembangkan literasi di daerahnya. “Saya mengucapkan terima kasih kepada para relawan dan Formalindo dan berharap ke depan semakin banyak pihak yang mendukung pengembangan literasi,” lanjut Ijeck.

 

Literasi, tambah Ijeck sangat penting untuk kemajuan bangsa karena bagian dari pembangunan manusia yang dapat membuka jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan karena mencakup kemampuan membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara.

 

“Literasi ini penting dan saya berharap diskusi ini bisa memberi kami masukan, apa yang bisa kami lakukan untuk meningkatkan pengembangan literasi di Sumatera Utara ini,” tambah Ijeck, kepada seluruh peserta diskusi.

 

Sementara itu, Ketua Formalindo Sumut Agus Marwan mengatakan Kereta Pustaka yang digagas Formalindo sudah ada 16 unit dan tersebar di beberapa Kecamatan/Kota di Sumut. “Ide dan gagasan dari kami dan alhamdulilah dibantu oleh Bank Sumut. Kenapa Kereta Pustaka karena kami berharap bisa masuk ke gang-gang, ke desa-desa,” ujarnya.

 

Ke depan, lanjutnya, Formalindo bersama Bank Sumut memiliki rencana memberi akses bacaan dengan 200 buku dan pojok baca kepada beberapa taman baca di Sumut. “Dairi menjadi target utama karena di sana belum ada bantuan dan beberapa daerah lainnya. Kami berharap untuk program pengembangan literasi ini bisa terus mendapat dukungan dari Pemprov Sumut dan kami juga berharap arahan dan masukan dari Bapak Wagub,” ujar Agus.

 

Dalam diskusi itu, beberapa perwakilan dari daerah dengan semangat menyampaikan keluhan dan masukannya. Asmawati, anggota Formalindo yang telah lama menjadi penggiat literasi dari Binjai mengaku perpustakaan yang ada di beberapa sekolah hanya terlihat seperti gudang dan tempat menumpuk buku selain itu dia juga mengeluhkan karena banyak buku yang ditulis oleh penuli-penulis di Sumut yang telah terbit tapi tidak laku.

 

“Saya sudah banyak keliling Pak dan saya melihat perpustakaan di sekolah itu hanya tampak seperti gudang, tempat menumpuk buku. Angka literasi di Sumut cukup rendah, saya berpikir penulis dari Sumut ini banyak pak tapi setelah menerbitkan buku, bukunya tidak laku. Buku ini kami terbitkan setengah mati, pemerintah tak membeli buku itu padahal kalau dibeli keluar buku dan penulis-penulis baru. Sekolah membeli buku dari Jawa padahal buku-buku yang ditulis oleh penulis di Sumut tak kalah bagus, bernilai sejarah dan sastra. Semoga ini dapat menjadi pertimbangan untuk pemerintah,” ujarnya.

 

Hadir dalam pertemuan itu, Wakil Ketua DPRD Sumut Harun Mustafa Nasution, Sekjen Formalindo Abdul Firman, Perwakilan dari Formalindo Tebing Tinggi, Formalindo Binjai, Formalindo Labura, Formalindo Asahan, Formalindo Langkat dan Formalindo Deliserdang.**(H19/DISKOMINFO SUMUT)

 

 

FOTO

SIARAN PERS DINAS KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PROVSU
14 SEPTEMBER 2022 – 62/ DISKOMINFO-SUMUT/2022

Apresiasi Kehadiran Formalindo,
Musa Rajekshah: Literasi Penting untuk Kemajuan Bangsa

MEDAN – Wakil Gubernur (Wagub) Sumatera Utara (Sumut) Musa Rajekshah apresiasi kehadiran Forum Masyarakat Literasi Indonesia (Formalindo) Sumut, yang terus berkomitmen dalam meningkatkan literasi masyarakat.

Hal ini disampaikan Ijeck, sapaan akrab Musa Rajekshah saat menerima kunjungan Formalindo Sumut di Rumah Dinas Wagub Sumut, Jalan Teuku Daud, Selasa (13/9). “Saya mengapresiasi dan merasa senang atas kehadiran Forum Masyarakat Literasi Indonesia (Formalindo) Sumut ini, belum lagi para relawan Kereta Pustaka yang bekerja membawa buku-buku bacaan keliling di wilayahnya masing-masing tanpa digaji,” ujarnya.

Sebelum masuk dalam forum diskusi dengan Perwakilan Formalindo Kabupaten/Kota, Ijeck menyempatkan diri melihat Kereta Pustaka. Ijeck melihat koleksi buku yang dibawa hingga mencoba menaiki sepeda motor yang telah diisi dengan box buku. Sepeda motor literasi ini merupakan dukungan Bank Sumut untuk memberikan motivasi pengembangan literasi bagi masyarakat Sumut yang diserahkan kepada Formalindo sejak tahun 2018.

Dalam kesempatan itu, Ijeck berbincang dengan salah satu relawan Kereta Pustaka dari Secanggang, Kabupaten Langkat, Faisal. Ia pun bertanya alasan Faisal mau menjadi relawan Kereta Pustaka yang tidak bergaji.

“Kereta Pustaka yang saya bawa ini saya terima sekitar tahun 2020, sebelumnya motor ini dipakai penggiat literasi lain di Langkat, namun terakhir tidak jalan. Tapi sebelumnya saya sudah membuka Rumah Baca Mendai sejak tahun 2016 dan juga aktif keliling membawa buku ke desa-desa di Kecamatan Sicanggang dengan menggunakan kardus. Saya tergerak karena di kampung saya daerah pesisir banyak anak-anak yang putus sekolah. Sebagai putra daerah saya turut merasakan bagaimana nanti nasib anak-anak ini,” ujar Faisal.

Ijeck pun mengapresiasi kegigihan dan ketulusan Faisal dalam mengembangkan literasi di daerahnya. “Saya mengucapkan terima kasih kepada para relawan dan Formalindo dan berharap ke depan semakin banyak pihak yang mendukung pengembangan literasi,” lanjut Ijeck.

Literasi, tambah Ijeck sangat penting untuk kemajuan bangsa karena bagian dari pembangunan manusia yang dapat membuka jalan untuk memutus mata rantai kemiskinan karena mencakup kemampuan membaca, melihat, menyimak, menulis, dan berbicara.

“Literasi ini penting dan saya berharap diskusi ini bisa memberi kami masukan, apa yang bisa kami lakukan untuk meningkatkan pengembangan literasi di Sumatera Utara ini,” tambah Ijeck, kepada seluruh peserta diskusi.

Sementara itu, Ketua Formalindo Sumut Agus Marwan mengatakan Kereta Pustaka yang digagas Formalindo sudah ada 16 unit dan tersebar di beberapa Kecamatan/Kota di Sumut. “Ide dan gagasan dari kami dan alhamdulilah dibantu oleh Bank Sumut. Kenapa Kereta Pustaka karena kami berharap bisa masuk ke gang-gang, ke desa-desa,” ujarnya.

Ke depan, lanjutnya, Formalindo bersama Bank Sumut memiliki rencana memberi akses bacaan dengan 200 buku dan pojok baca kepada beberapa taman baca di Sumut. “Dairi menjadi target utama karena di sana belum ada bantuan dan beberapa daerah lainnya. Kami berharap untuk program pengembangan literasi ini bisa terus mendapat dukungan dari Pemprov Sumut dan kami juga berharap arahan dan masukan dari Bapak Wagub,” ujar Agus.

Dalam diskusi itu, beberapa perwakilan dari daerah dengan semangat menyampaikan keluhan dan masukannya. Asmawati, anggota Formalindo yang telah lama menjadi penggiat literasi dari Binjai mengaku perpustakaan yang ada di beberapa sekolah hanya terlihat seperti gudang dan tempat menumpuk buku selain itu dia juga mengeluhkan karena banyak buku yang ditulis oleh penuli-penulis di Sumut yang telah terbit tapi tidak laku.

“Saya sudah banyak keliling Pak dan saya melihat perpustakaan di sekolah itu hanya tampak seperti gudang, tempat menumpuk buku. Angka literasi di Sumut cukup rendah, saya berpikir penulis dari Sumut ini banyak pak tapi setelah menerbitkan buku, bukunya tidak laku. Buku ini kami terbitkan setengah mati, pemerintah tak membeli buku itu padahal kalau dibeli keluar buku dan penulis-penulis baru. Sekolah membeli buku dari Jawa padahal buku-buku yang ditulis oleh penulis di Sumut tak kalah bagus, bernilai sejarah dan sastra. Semoga ini dapat menjadi pertimbangan untuk pemerintah,” ujarnya.

Hadir dalam pertemuan itu, Wakil Ketua DPRD Sumut Harun Mustafa Nasution, Sekjen Formalindo Abdul Firman, Perwakilan dari Formalindo Tebing Tinggi, Formalindo Binjai, Formalindo Labura, Formalindo Asahan, Formalindo Langkat dan Formalindo Deliserdang.red2