Anggota DPR-RI Fadly Nurzal SAg: Penyelesaian Tanjungbalai Harus Berimbang

MEDAN | SUMUT24
Anggota DPR-RI Fadly Nurzal SAg, menyampaikan kericuhan berbau SARA di Tanjung Balai, Kabupaten Asahan, harus diselesaikan dengan mengacu kepada Undang-undang No: 7 tahun 2012, tentang penanganan konflik sosial.

Ini dilakukan guna menyelesaikan masalah hingga ke akar-akarnya. “Jadi, persoalan di Tanjung Balai ini tidak hanya diselesaikan dengan aturan hukum pidana semata. Perlu pula diambil langkah pendekatan musyawarah dengan memperhatikan berbagai aspek, seperti keadilan, ketertiban, dan kearifan lokal,” kata Fadly, kemarin di Mapoldasu, usai bertemu dengan Kapoldasu terkait aspirasi masyarakat Asahan -Tanjung Balai menyikapi kerusuhan kemarin.

Fadly mengatakan, persoalan di Tanjung Balai harus diselesaikan dengan berimbang. Penegak hukum tidak boleh berpihak kepada siapapun agar kasus ini bisa tuntas dengan harapan tidak adalagi kericuhan susulan yang bisa menyulut emosi massa.

“Implementasi undang-undang penanganan konflik sosial itu kan diselesaikan dengan cara musyawarah,” ujar Fadly.

Untuk itu, atas nama tokoh masyarakat Asahan Tanjung Balai, Fadly mengusulkan kepada pihak kepolisian agar para tersangka segera dibebaskan, terutama yang masih dibawah umur. “Tadi dalam pertemuan dengan Bapak Kapoldasu, beliau pun setuju dengan saran kita. Tapi keputusan sepenuhnya terpulang kepada beliau,” pungkas tokoh pemuda Sumut dari partai persatuan pembangunan ini.

Meliana : Saya Benar-benar Minta Maaf

Sementara itu, Meliana (41), penyebab kericuhan di Tanjungbalai meminta maaf kepada seluruh umat Muslim di Indonesia, khususnya di Kota Tanjungbalai, kemarin.

Permintaan maaf itu disampaikan Meliana kepada Walikota Tanjungbalai M Syahrial dan Kapolres AKBP Ayep Wahyu Gunawan. Meliana yang didampingi suaminya Liam Tiu (51) mengaku dirinya telah meminta maaf kepada masyarakat Tanjungbalai.

“Saya minta maaf kepada masyarakat Indonesia umumnya masyarakat Tanjungbalai atas kesalahan yang saya perbuat. Saya minta maaf dari lubuk hati saya yang paling dalam,” ujar warga Jalan Karya, Lingkungan I, Kelurahan Tanjungbalai Kota 1, Kecamatan Tanjungbalai Selatan ini.

Ibu rumah tangga ini menambahkan, dirinya tidak akan pindah dari rumah yang ditempatinya karena ia dan suaminya sudah 8 tahun menetap di sana.

“Saya akan kembali membangun komunikasi yang baik kepada jiran tetangga di sekitar kediaman dan masyarakat lainnya,” ucapnya. Meliana berharap kerukunan kembali terjalin di Tanjungbalai seperti sediakala.

“Saya minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahpahaman yang saya perbuat. Saya ingin Tanjungbalai kembali hidup rukun seperti sediakala,” ucap wanita berkulit putih ini sembari minta maaf berulang ulang.

Sementara Liam Tiu suami Meliana mengatakan, ia juga minta maaf kepada warga masyarakat Tanjungbalai. Mereka juga mengimbau kepada masyarakat supaya tetap menjaga kerukunan umat beragama. “Dalam hati yang paling dalam, saya memohon maaf kepada masyarakat Indonesia, khususnya warga Tanjungbalai dalam perusakan rumah-rumah ibadah. Kami berjanji, ini tidak akan terulang lagi,” ujar mereka.

Sementara itu Wali Kota Tanjungbalai M Syahrial SH MH dihadapan para pelaku mengatakan, supaya tidak mengulangi perbuatannya. Sedangkan kepada masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Kota Tanjungbalai, Syahrial menghimbau supaya memaafkan para pelaku yang terlibat dalam kerusuhan yang menyebabkan rumah ibadah terbakar.

“Mereka sudah meminta maaf. Masyarakat jangan lagi menaruh kebencian kepada siapa pun. Mari kita saling memaafkan, supaya ke depan kita bisa membangun kota Tanjungbalai,” ujar Walikota. (W08/Iah)