Agus Penyemir Cacat Tubuh, Berjibaku dengan Maut Cari Sesuap Nasi

KOTAPINANG | SUMUT24

Panas yang cukup terik hari ini tak menyurutkan langkah Agus (30) menemui orang yang sedang bersantap siang di rumah makan Budi Doy Jalan Bukit Kotapinang untuk menawarkan jasa sebagai pekerja penyemir sepatu.

Dirinya “Berjibaku” dengan maut hanya untuk mencari sesuap nasi. Di karenakan rumahnya berjarak 15 Km dari pusat kota dan melintasi jalan Propinsi Sumut yang setiap saat truk raksasa dan bus melintas,pergi dan pulang berjarak 30 Km.

Terlihat susah dia menghampiri orang yang diharapkanya mau menggunakan jasanya. Agus dalam keseharian bila berjalan mempergunakan kedua tangannya dikarenakan kedua kakinya tidak tumbuh normal selayaknya manusia biasa.

Tinggi tubuh Agus hanya sekitar 80 Cm sehingga bila dilihat dari jarak tertentu Agus seperti anak balita.

Menyemir sepatu sudah dilakoni Agus lebih 17 tahun. Ini terungkap saat SUMUT24 mengajak pria yang ramah tersebut bincang-bincang.

“Uda lamalah pak, lebih 17 tahun dari pada kita mengemis, malu,” ucapnya yang juga tidak menampik bila ada orang yang ikhlas yang memberi dia tetap menerima,seperti wanita muda di sebelah kami berbincang memberikan Agus uang lembaran lima ribu.

Agus Waluyo nama lengkap yang menjadi anak sulung dalam dari enam bersaudara yang tinggal di daerah Tolan Kecamatan Tanjung Medan Labuhanbatu Selatan ke pusat kota sedang bersedih. Ayahnya lagi sakit dan butuh biaya untuk berobat.

“Bapak sudah beberapa hari sakit, butuh uang untuk beli obat,” tuturnya dan tanpa sungkan mengatakan bahwa penghasil lumayanlah. Dapat juga Rp 30. 000, – kadang juga lebih.

Meskipun penghasilannya jauh dari kebutuhan hidup, Tak membuat dirinya harus menyerah.”Kalau pergi dan pulang naik inilah pak, cuman 30 kilo,memang banyak. bus dan gerobak, kalau hati hati, Allah pasti memberi perlindungan,dan harus tetap bersyukur,” harapnya yang keseharian memakai lobe penutup kepala.

Mengenai bantuan yang diberikan pemerintah,Agus bukannya menyalahkan pihak lain.tetapi dengan jujur dikatakan belum pernah mendapat bantuan. “Belum pernah pak, ini kereta saya dibuatkan kawan kok,” ucap pemuda lajang lirih dengan suara polosnya.

Di sisi lain Agus tetap terlihat bangga dengan negeri ini sehingga senantiasa menempelkan bendera merah putih di kereta mininya yang menjadi teman di kala berpergian. Kereta mini itu bila berjalan dengan meggunakan tangan sekaligus sebagai rem bila di jalan menurun.

Dirinya merasa harus tetap menjaga kedaulatan NKRI makanya tetap pakai bendera merah putih.

Kita bangga sudah merdeka bisa menyalurkan aspirasi bebas mencari nafkah dan menentukan pilihan untuk pemimpin

“Ikut kok, mencoblos di pemilu.milih pak Asiong ama Pak Wildan juga,dan mengatakan jangan buat berita yang tidak baik ya, pak,” pinta dia ketika ditanya apa ikut memberikan suara di pileg dan pilkada.

Harapan Agus ke depan tidaklah muluk-muluk bisa bekerja dan kesembuhan orang tuanya adalah imipian yang hakiki di benaknya tanpa harus menyalahkan takdir dan orang lain. (zai)