75 Tahun Indonesia Merdeka, 3 Desa Ini Terisolir Jaringan Seluler, Anak Sekolah Tempuh 6 KM Demi Belajar Online

256

 

MADIN I Sumut24.co

Pada usia 75 tahun Indonesia Merdeka, tiga desa di Kecamatan Tambangan, Mandailing Natal (Madina) ini masih terisolir dari jaringan telepon seluler. Paling miris nasib anak sekolah.

Tiga desa ini meliputi Desa Tambangan Tonga, Tambangan Pasoman dan Rao-rao Lombang. Tak tanggung-tanggung, jumlah penduduk 3 desa ini mencapai 750 KK.

Salah seorang warga di Desa Rao-rao Lombang, Saiful (45), mengatakan, anak usia sekolah SMP hingga kuliah harus menempuh jarak 6 km demi bisa belajar online atau berani di masa pandemi ini.

Anak sekolah perempuan harus diantar orangtuanya karena jarak yang harus ditempuh hingga 6 km demi mendapatkan sinyal internet atau 4G.

“Kalau mau sinyal internet yang bagus harus ke Sabarimbahan,” katanya.

Senada Yusuf (56) warga Desa Tambangan Tonga mengaku repot saat mengantar anak perempuannya yang akan belajar atau kuliah online. Jarak yang ditempuh hingga 3 km dari rumahnya ke lokasi jaringan internet.

“Anak saya kuliah di Yogyakarta. Tiap hari kuliah online. Paling bikin bikin kalau malam hari, ada tugas itu dari kampus,” jelasnya.

“Jam sepuluh malam, saya harus antar anak saya ke halaman rumah orang untuk mengirimkan tugas kuliah. Kadang-kadang harus ke Sabarimbahan agar lebih mudah mengirim tugas,” katanya.

Lokasi Sabarimbahan ini merupakan kawasan persawahan yang terbuka dan di lokasi ini jaringan internet atau 4G dapat diakses warga.

Namun warga tiga desa harus melewati kawasan terlebih dahulu jika ingin ke Sabarimbahan.

Sementara itu, Sekretaris Desa Tambangan Tonga, Abdul Somad, mengatakan, pengajuan pengadaan menara atau stasiun pemancar Telkomsel, sudah diajukan warga tiga desa.

Surat ini sengaja mereka tujukan ke Telkomsel karena perusahaan ini milik Negara atau BUMN.

“Untuk provider lain tentu kami berharap juga membangun tower di sini,” katanya.

“Tapi karena Telkomsel ini perusahaan milik pemerintah, anggapan kami, akan lebih mudah realisasinya,” katanya.

Tahun 2015 lalu, warga tiga desa juga pernah mengajukan surat pengajuan pengadaan menara atau stasiun pemancar. Namun hingga 2021 atau 6 tahun, taka da realisasi sama sekali.rel