3 Petani Simalungun Disekap dan Disiksa 30 Polisi di Polres Tebing Tinggi

MEDAN | SUMUT24
Kekejaman Polisi kembali ditunjukkan di Polres Tebing Tinggi, kali ini 3 orang Petani asal Simalungun menjadi bulan-bulanan 30 Polisi, mirisnya lagi kekejaman ini dilakukan di dalam Mapolres Tebing Tinggi yang saat itu masih dipimpin Kapolres AKBP Slamet Lesjiono, Kamis Malam (28/4) sekira pukul 21.00 Wib.

Penderitaan 3 petani ini juga masih berlanjut, ketika hendak melaporkan peristiwa penganiayaan tersebut ke Mapoldasu. Sejak pukul 05.00 Wib, Jumat (29/4), laporan mereka tidak kunjung diterima, namun saat wartawan menjumpai kepala SPKT Kompol Enjang Bahri sekira pukul 15.00 Wib, barulah laporan para petani ini terkesan terpaksa diterima, dan anehnya SPKT Poldasu terkesan membela Polres Tebing, dikarenakan didalam Laporan tersebut dengan No STTLP/570/IV/2016, SPKT I Poldasu hanya mencantumkan pasal 352 KUHPidana tentang penganiayaan ringan yang seharusnya laporan tersebut dicantumkan pasal 351 jo pasal 170 KUHPidana yang berisi penganiayaan yang dilakukan bersama-sama.

Ketiga petani malang tersebut yakni, Amiruddin Purba (41) warga Jalan Besar Negeri Dolok Desa Bandar Maruhur Kecamatan Silou Kahaean Kabupaten Simalungun, Agung Syahputra (20) dan Josep Saragih (24) yang keduanya warga Dusun Silandoyung Desa Silou Paribuan Kecamatan Kahean Kabupaten Simalungun, yang mengaku awalnya disiksa para polisi tersebut di Jalan Raya Medan-Siantar tepatnya di depan Lapangan Merdeka Tebing Tinggi dan kemudian dibawa ke Polres Tebing Tinggi.

Amiruddin Purba yang ditemui wartawan akhir pekan lalu mengatakan, kedatangan mereka ke Kota Tebing Tinggi, awalnya untuk menjenguk salah satu kerabatnya yang dirawat di salah satu Rumah Sakit Umum di Kota tersebut. Saat itu mereka meminta anggota keluarga yang lainnya yakni Ridho (18) dan ibunya Roidha (40) untuk membeli obat di salah satu Apotek terdekat.

Namun saat diperjalanan tepatnya di depan Lapangan Merdeka Tebing Tinggi, laju sepeda motor Ridho diberhentikan oleh 2 orang berpakaian preman yang mengaku Polisi. Kedua Pria ini juga mengambil paksa kunci sepeda motor Ridho. Tidak yakin bahwa keduanya merupakan Polisi, maka Ridho menghubungi Amiruddin Purba yang saat itu berada di Rumah Sakit.

“Mereka di Stop di depan Lapangan Merdeka oleh dua orang yang mengaku Polisi tetapi tidak pakaian dinas, memang si Ridho sama ibunya ini tidak pakai helm, saat dihubunginya aku, katanya kunci keretanya sudah diambil orang yang mengaku Polisi itu, makanya aku bilang sama si Ridho jangan sampai keretanya dibawa, tunggu kami datang kesana,” ujarnya.

Setelah 3 petani ini datang, lantas menanyakan identitas para Polisi tersebut, sehingga ketegangan adu mulut terjadi di Jalan tersebut. Melihat kondisi yang memanas tiba-tiba salah satu keluarga petani tersebut pingsan, sehingga menyulut emosi ketiga petani tersebut yang spontan menarik kerah baju Polisi yang berpakaian preman tersebut.
“Karena kami tidak yakin itu Polisi, kami tanyailah identitasnya, mereka terus marah-marahi kami, tiba-tiba keluarga kami yang ikut sama kami tadi pingsan, sehingga membuat kami emosi dan menarik kerah baju Polisi tersebut, sehingga hampir terjadi perkelahian,” ujarnya.

Namun saat mereka nyaris berkelahi, tiba-tiba puluhan Polisi datang dan langsung memukuli ketiga petani tersebut dan langsung memboyongnya ke Polres Tebing Tinggi. “Tiba-tiba datang puluhan Polisi, ada yang pakaian dinas ada yang pakaian preman, mereka menyerang kami, disitu kami dipukuli dan dibawa ke kantor Polisi Polres Tebing Tinggi,” ujarnya.

Di dalam Polres Tebing Tinggi kami juga terus dianiya hingga babak belur. “Semua badan hingga kepala kami dipukuli mereka, ada salah satu yang nampak kami nama Polisinya yaitu Taupik Marwana dan Nanda,” ujarnya.

Kesalahpahaman tersebut akhirnya mereda, setelah Polisi akhirnya menyadari bahwa mereka bersalah, tiba-tiba salah satu petugas Kepolisian memberikan surat perdamaian yang harus 3 petani ini tanda tangani. “Setelah kami disiksa satu malaman, tiba-tiba disodorkan surat perdamaian, karena kami takut tidak diizinkan pulang dan terus disekap, apalagi keluarga ada yang sakit, dan kakak yang pingsan tadi juga belum sadar, mau tidak maulah kami tandatangani, setelah itu mereka menyuruh kami untuk berobat dengan biaya sendiri pula itu,” ujarnya.

Merasa sudah dizolomi pihak Kepolisian Polres Tebing Tinggi, lantas 3 petani ini mencoba mencari keadilan di Poldasu. “Malam itu juga kami berangkat ke Poldasu, kalau kami melapor ke Polres Tebing Tinggi pasti laporan kami tidak diterima,” ujarnya

Namun sampai di Poldasu sekira pukul 05.00 Wib, ternyata laporan mereka tidak diterima, petugas SPKT malah meminta para petani ini melapor ke Polres Tebing Tinggi. Dan hingga sore harinya, para Petani ini juga kerap menunggu di dekat SPKT Poldasu berharap laporan mereka diterima, hingga saat wartawan menemui mereka dan membawa mereka kembali ke SPKT Poldasu, akhirnya laporan mereka diterima.

Namun mirisnya, kecurangan di SPKT Poldasu juga terlihat saat mereka hanya mencantumkan pasal 352 KUHPidana di tanda laporan dan bukanlah pasal 351 jo 170 KUHPidana yang berbunyi penganiayaan yang dilakukan bersama-sama.
“Kami tidak tahu masalah pasal-pasal ini, maklumlah pak kami cuman petani, yang berharap hukum dapat ditegakkan, sudah kami jumpai tadi yang mengetik laporannya mengenai pasal tersebut, rupanya orangnya sudah tidak ada lagi,” ujarnya sembari mengatakan bahwa Brigadir Ajis Simangungsong SH yang menerima laporan mereka.

Menanggapi hal tersebut Kepala Siaga SPKT I Kompol Ejang Bahri yang ditemui wartawan mengatakan bahwa mereka tidak berniat mempersulit ketiga petani tersebut. Dirinya mengakui bahwa sudah menghubungi Kapolres Tebing Tinggi, dan ketiga petani ini diminta datang ke Polres Tebing Tinggi untuk berdamai. “Saya tidak ada kepentingan disini, tadi saya sudah telephon Kapolres dan Kasat Intelnya, mereka meminta agar para korban itu mendatangi Polres Tebing Tinggi untuk berdamai, tetapi kalau mereka mau melapor tetap kita terima juga,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, ketiga petani ini enggan kembali ke Polres Tebing Tinggi. “Kami yang dipukuli, kok kami yang terkesan meminta damai dan datang ke Polres, kata salah satu Polisi itu Pula, Masak Kapolres yang harusnya datangi kalian, yang tidak begitu juga, kalau memang mereka beritikad baik, seharusnya kan bisa anggotanya yang mewakili untuk menjumpai kami. Kalau memang mereka mengaku bersalah kamipun rela memaafkan,” ujar Amir Purba. (W08)