Politik Narsis

139
Foto : Bimby Hidayat S.Sos, MA

Oleh : Bimby Hidayat S.Sos, MA

Hanya beberapa bulan lagi, Sumut akan berpilkada. Publik akan kembali diuji untuk memilih kepala daerah yang diharap membawa perubahan. Perubahan yang membawa kesejahteraan warga tentunya.

Peran penuh berada di tangan publik untuk mengetahui dan memutuskan siapa yang akan memimpin mereka. Itulah kedaulatan rakyat dalam berdemokrasi. Maka tidak heran, para kandidat kepala daerah yang tak terkenal beramai-ramai memamerkan wajah terbaiknya di baliho untuk dikenal dan menarik simpati publik. Dan politik narsis pun menjamur.

Tidak berlebihan ketika menjelang berpilkada, setiap daerah berubah menjadi negeri baliho. Hari ini pun mata kita terbiasa menatap warna-warni baliho besar dan spanduk di jalanan.

Baliho, papan reklame dan spanduk penuh dengan potret wajah kandidat, jargon dan sejenisnya. Suka tidak suka, warga kota dan kabupaten akan disuguhi setor wajah kandidat yang akan bertarung di pilkada. Sangatlah meriah dan menjadikan jalan raya tampak penuh sesak kesemrautan. Ini barangkali sudah kita anggap lazim karena sudah seperti itu dari dulunya.

Walaupun berbiaya mahal, bagi mereka yang sedang mengincar posisi kepala daerah dalam pilkada bukan masalah. Mereka akan tetap berlomba-lomba unjuk diri lewat baliho. Tujuannya sangat jelas; mengenalkan diri sebagai kandidat kepada publik yang telah atau akan menjadi target konstituen mereka. Oleh sebab itu, terpampangnya wajah-wajah mereka jauh lebih penting ketimbang pesan ideologis atau program untuk disampaikan pada masyarakat.

Implikasi Fenomena

Banyak politisi memilih baliho dan spanduk sebagai medium kampanye yang efektif. Berdampak tinggi terhadap popularitas. Sebab media ini menanamkan pengenalan kandidat bagi pemilih setiap hari. Memperkuat pesan sehingga menciptakan kesan. Dibanding media iklan lain, baliho bekerja untuk sang kandidat 24 jam penuh tanpa henti hingga hari pemilihan. Inilah alasan yang mudah dimengerti mengapa kandidat akan menampilkan wajah besar mereka yang tersenyum penuh harap kepada kita untuk memilihnya.

Implikasi fenomena tersebut menjelaskan bahwa; Pertama, pola komunikasi politik yang dibangun lewat baliho bergambar itu sangat jelas bahwa karakter politik yang masih belum beranjak dari mekanisme personal. Wajah pribadi seorang tokoh lebih dikedepankan ketimbang visi misinya.

Hal ini mengindikasikan masih jauhnya langkah untuk membangun sistem politik yang terstruktur,impersonal dan rasional. Memang membeli dan menyewa baliho sangat gampang. Namun ini juga mempertontonkan model kampanye orang pemalas. Kedua, baliho jual tampang itu menambah variabel yang menyebabkan prosedur demokrasi dalam pilkada berbiaya tinggi. Boleh jadi sebagian politisi rela menghabiskan uangnya secara bombastis demi memercikan wajah mereka di baliho selama musim pilkada. Seolah-olah setiap kandidat ingin menghabiskan semua uang mereka untuk media ini.

Memang keberadaan baliho membuat kandidat terasa lega. Kandidat merasa bahwa namanya bergerak menuju mata dan perasaan masyarakat di luar sana. Baliho seolah membuat kandidat merasa orang paling penting karena nama dan wajahnya hadir bagi setiap orang yang mengemudikan kendaraan.

Untuk Pembelajaran

Kembali kepada politik cerdas. Turunkan baliho raksasa dan alokasikan dana kampanye tersebut kepada model yang lebih fokus, cermat dan pasca riset. Dengan kampanye langsung dan dialogis, seorang kandidat dapat menjamin bahwa setiap rupiah yang ia belanjakan besar kemungkinan akan singgah pada para pemilihnya. Cara demikian lebih efektif dan efisien untuk merebut hati publik.

Politik narsis hanya menjadikan demokrasi mengalami defisit substansi. Setoran nama dan wajah di baliho hanya menggambarkan; membuat kandidat merasa orang penting. Dan kandidat memang tidak dikenal publik karena minim prestasi.

Kenapa tidak menginvestasikan prestasi sebagai bagian dari modalitas politik. Jati seseorang tumbuh dan berkembang karena prestasi, sudah pasti kepopularitasan itu melekat di dirinya tanpa menjual wajah. Sebaiknya baliho-baliho itu perang detail gagasan bukan setor wajah. Publik akan terkesan ketika melihat baliho yang menghadirkan solusi-solusi praktis. Namun, absenya tren demikian menunjukkan betapa politisi itu narsis minim gagasan.

Penulis merupakan salah satu Dosen Ilmu Politik di Fisip Universitas Sumatera Utara (USU).

SHARE