Pilkada Medan 2020, Shohibul : “Idealnya Bobby Didamping Orang Berpengalaman”

126

MEDAN I SUMUT24.co
Perhelatan Pilkada Medan 2020 sudah semakin dekat, namun situasi agak sedikit sengit. Bobby Nasution
Mempunyai tantangan dipersonifikasi sebagai Cebong atau Togok. Karena itu ia sangat tepat didampingi oleh tokoh berjejaring yang merepresentasikan Kampret atau Kadrun, tegas Pemerhati Sosial dan Politik Shohibul Anshor Siregar kepada Wartawan, Jumat (31/7). Menurutnya, Jika polarisasi lama berlanjut amat mengkhawatirkan bagi Bobby. Karena itu Bobby harus mencari tokoh kalangan Alwshliyah atau Muhammadiyah agar bisa menang. Tak pula mungkin mengabaikan potensi jejaring Ikhwan Ritonga atau Aulia Rachman dari Gerindra, ucapnya. Karena itu jangan dicari pasangan berdasarkan etnis. Melainkan berdasarkan pemilahan lama (Cebong vs Kampret).

Lebihlanjut Direktur Nbasis itu, Bobby tentu bisa resisten di kalangan PDIP karena secara umum bisa saja 35 kader grassroot yang die hard terhadap Akhyar Nasution akan terus berjuang bersamanya.
Ditambahkannya, 35 persen kader grassroot PDIP bisa ikut berjuang di kubu Akhyar, Lazimnya pilihan rakyat dalam pemilihan langsung tidak selalu identik dengan aspirasi elit partai yang membangun koalisi.

Secara oligarki partai-partai kita memutuskan para calon di Jakarta tanpa kejelian membaca peta politik di daerah.

Hal seperti itu kerap mempermalukan elit Jakarta, karena meski pun pilkada dirancang agar berhadapan dengan Kotak Kosong tetap beroleh perlawanan sebagaimana pernah terjadi di Makassar beberapa tahun lalu. Rakyat bersukacita memenangkan kotak kosong. Selain itu orang-orang dekat Bobby dalam beberapa bulan ke depan sangat perlu membriefing Bobby agar lebih memiliki wawasan dan image kapasitas sehingga orang dapat diyakinkan bahwa ia maju bukan semata karena menantu Jokowi.
Pada pembicaraan tingkat awam orang yang pro Bobby sering saya dengar bahwa jika Bobby yang menjadi Walikota tidak akan ada lagi kisah sedih walikota OTT KPK. Argumen seperti ini sangat kontraproduktif karena seolah meyakini bahwa seluruh kasus hukum yang dikenakan kepada para walikota Medan adalah kriminalisasi, tak berdasar hukum yang kuat dan jika menantu presiden yang menjadi walikota dianggap penegak hukum tak akan berani. Itu pendapat yang salah dan kontraproduktif.
Pendukung Bobby juga mungkin berfikir bahwa jika Bobby yang menjadi Walikota maka pembangunan akan pesat karena dana dari pusat aka besar-besaran dikucurkan dari pusat.

Pendapat ini juga sesat karena APBN yang dikucurkan melalui transfer daerah, hibah dan apa pun namanya ditentukan dengan kriteria tertentu misalnya dengan mempertimbangkan kondisi daerah dengan menyertakan variable keluasan wilayah, kemandirian keuangan, jumlah penduduk, persentase kemiskinan dan lain-lain.

APBN itu adalah uang yang diakumulasi dari berbagai sumber termasuk daerah untuk didistribusilan secara adil. Daerah lain akan tersinggung dan marah jika didiskriminasi. Semua tahu bahwa Bobby minim pengalaman. Karena itu idealnya ia harus didamping oleh orang berpengalaman. Tetapi orang berpengalaman tidak selalu memiliki popolarity dan elektability yang mendukung.

Dilema ini harus disiasati dengan kebijakan political pointy yang menempatkan orang tangguh, cerdas dan berintegritas untuk mengisi OPD. Kelaj merit System wajib diutamakan.
Siapa pun walikota Medan ke depan wajib mempelajari sejarah kota Medan, renstra, capaian periode-periode sebelumnya, kendala-kendala politis, kultural dan demografis.

Dalam banyak hal Medan mirip dengan Jakarta. Banjirnya sukar diselesaikan. Rakyat miskin banyak menghuni pemukiman-pemukiman kumuh. Para elit ekonomi dan politiknya kerap terjebak dalam kolaborasi yang memusuhi lingkungan, disain tata kota, dan meruntuhkan warisan sejarah yang mestinya dijadikan cagar budaya, ucapnya.(red)

Loading...