“Pandai Bersurat Juga Pandai Bersilat”

281

“Pandai Bersurat Juga Pandai Bersilat”

DELISERDANG I SUMUT24.co

Seorang “Pendekar” dalam dunia seni ilmu beladiri adalah orang yang menguasai ‘gerakan’ pukulannya sangat cepat dan tepat. Dan bila bertarung sang pendekar sangat menguasai emosional jiwanya sehingga di dalam pertarungan bukan bagaimana membunuh lawan tapi bagaimana lawan bisa tersadar dari “ketidakmampuannya”.

Dalam keseharian para pendekar mengaplikasikan hidupnya pandai bersurat juga pandai bersilat, artinya mereka mahir bergerak olah tubuh, mahir juga berkomunikasi ( bersurat) ketika berdiplomasi.

Kehadiran Pendekar di tengah tengah terjadinya kekacauan, mereka tampil bagaimana menyelesaikan masalah,bukan bagaimana menimbulkan masalah. Sehingga kedua belah pihak yang bertikai, tidak harus terus saling membunuh,kalau bisa diselesaikan dengan cara musyawarah, untuk apa harus saling adu perkasa itulah misi mereka para pendekar.

Perguruan karate Tako muncul di tengah tengah lapisan masyarakat Indonesia, dilahirkan oleh putra terbaik bangsa Indonesia Drs Syahrun Isa di mulai dari kota Tebingtinggi hingga menyebar secara nasional maupun internasional. Penyebutan nama Tako di dalam seni beladiri juga bukan tanpa,, alasan.

Sebagaimana diketahui Tako berarti Tangan Kosong, yang di maksud tangan kosong di sini bukan ketika kita berkelahi tidak dibenarkan memakai alat-alat lain, atau hanya menggunakan tangan belaka, filosofi Tako adalah fundamental bagi para pendekar.

Tangan, perumpamaan alat ” penyambung” untuk memberi dan menulis. Atau kalau dalam beladiri tangan adalah alat untuk menyampaikan tenaga untuk melontarkan pukulan. Sedangkan Kosong, berarti “Polos” atau tidak ada “Muatan” mereka berbuat tanpa ada kepentingan.

Kalaupun memukul, ya pukul dan tendang saja begitu, tidak pukul pukulan apalagi tendang tendangan.artinya kalau pendekar berbuat,ya berbuat sebagaimana perbuatanya itu, tidak yang di buat buat,apalagi mengambil manfaat daripada perbuatanya. Hal itulah yang dimaksudkan “Kosong”.

Bagi para insan Takowan, dari uraian diatas sidikit mulai dapat dimengerti dan memahami, Perguruan Tako pada hakikatnya adalah, Menyampaikan (“Tangan’) didalam perbuatanya dengan Polos (“Kosong”)

*** Hasan Basri Siregar (Anggota Tako masuk di era tahun 1980 di Sasana Krida Jalma Utama)

Loading...